Belajar Ngaji dari Bocah 3,5 Tahun

Ini berawal dari bocahku yang masih usia 3,5 tahun mencoba mengenal huruf arab. Sesungguhnya tidak pernah punya niatan untuk menjejali anak seumuran dia dengan pengetahuan membaca dan sejenisnya, tetapi ini sepertinya sebuah ketidaksengajaan, berawal dari pertemuannya dengan nyanian anak-anak, a ba ta tsa ja dan seterusnya itu.

Sejak menginjak dua tahun telinganya mendengar “nyanyian ngaji” itu, dan sedikit demi sedikit mulutnya menirukan, ada ketidaktepatan dalam mengucap, jika dinilai dari kaidah pengucapan huruf hijaiyah yang sebenarnya. Tetapi itu semua saya biarkan, toh masih anak-anak. Saya masih menganggap itu bagian dari kegembiraan dia, menyanyi.

Hafal betul dia dengan nyanyian itu, lantas dilanjut dengan melihat videonya. Saat itu, dia tidak sekedar melafalkannya, tetapi sudah berinteraksi secara visual dengan huruf-huruf yang nampak pada video.

Dua bulan yang lalu, anaku itu aku pertemukan dengan buku iqro’. Bukan memaksa, sekedar mencoba menawarkan sesuatu yang sebelumnya dia sudah kenal.

Seperti dugaan saya sebelumnya bahwa dia senang dan cepat melahap jilid satu dalam beberapa hari, karena memang sejak awal dia hafal nyanyian serta telah tahu bentuk huruf dari video lagunya.

Jilid dua, sudah mulai menemukan beberapa kesulitan mengenali huruf, karena ada bentuk yang berubah jika disambung huruf lain. Tetapi secara umum, dia mampu mengenalinya, prediksi saya, itu karena dia mengenal bentuk dasar dari hurufnya.

Masuk Jilid tiga, cerita menjadi lain. Butuh waktu sangat lama hanya untuk menjelaskan padanya tentang akhiran “i”. Sejak belia dia mengenal hanya huruf bertemu dengan fatha. Dia mungkin menganggap fatha adalah bagian dari huruf itu sendiri. Bocahku ini sejak awal hanya mengenal ‘ba‘ ‘ta‘ ‘tsa‘. Mulutnya hanya terlatih mengucapkan itu.

Ketika dia menemukan dinamika lain, berupa kasro, sebuah tanda yang letaknya berbeda dengan fatha dia blank, bahkan tetap mengucap ‘ba‘ meski ada tanda kasro. Ini berlangsung sangat lama, dia hampir frustasi (termasuk saya) untuk memahami sebuah tanda yang berbeda letak itu.

Apa sebab? Analisa sederhana saya adalah, bahwa anaku ini sejak belia sudah langsung mengenal “kata”, tidak huruf. Dia sudah langsung akrab dengan ‘ba‘ ‘tatsa‘, sama sekali tidak tahu tentang ‘jim‘ ‘mim‘ ‘nun‘ dan sebagainya. Bocah kecilku ini sudah melompat pengetahuannya pada sebuah dinamika yang terjadi tanpa pernah memahami bahwa yang dia ketahui itu tersusun dari beberapa hal dasar.

Dia sempat gusar, cenderung marah ketika saya coba beri tahu tentang ketidaktepatannya dalam membaca. Dia sempat ngotot bahwa itu “ba” bukan “bi

—-

Nah, seberapa banyak dari kita -termasuk juga saya- yang mengalami hal sama seperti anaku itu. Bukan soal membaca huruf, tetapi dalam menjalani berbagai hal di dunia ini. Kita sering langsung bertemu dengan dinamika-dinamika, yang karena tidak pernah mengerti asal muasalnya lantas menganggap bahwa apa yang kita temui itulah kesejatian.

Anaku telah mengajariku tetang hal ini, bahwa saya mengetahui segala sesuatu namun kadang abai pada akar dan muasal sesuatu itu. Dan kejumawaan atas pengetahuan yang kita kuasai hanya membuat kita gusar dan alergi tatkala ada hal baru yang ditemui. Akhirnya gampang menyalahkan, pada suatu konteks tertentu malah mudah mengafirkan.

Kita mungkin nyaman dengan ‘ma‘, tetapi jika tidak pernah mengenal ‘mim‘, maka potensi tersinggung akan besar saat ada orang lain bertemu dengan fenomena berbeda dari kita lantas menyuarakan ‘mi‘ atau ‘mu‘.

Bekali diri untuk selalu berusaha belajar dan mengejar kesejatian, tidak jumawa atas yang telah kita ketahui, atau minimal memahami bahwa setiap orang punya banyak kemungkinan dalam merespon dan meyakini sesuatu, mereka bisa sangat berbeda karena setiap orang mengalami perjumpaan-perjumpaan yang tidak sama, sangat dinamis. []

Kumamoto, 10 Desember 2015

Artikel ini pernah dipublish di kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here