Lo, Aku Ini Sunni, Toh?

Beberapa tahun belakangan ini isu agama sering menghangat bahkan memanas. Kabar soal konflik horizontal yang kerap tersulut atas dasar perbedaan agama atau keyakinan mewarnai media massa. Luka, hilang nyawa dan yang pasti trauma berkepanjangan pada korban kekejaman yang motori oleh kebencian antar kelompok, antar keyakinan.

Tahun 2011, umat Ahmadiyah di Cikeusik dibantai dan rentetan peristiwa lain termasuk terusirnya warga Syiah dari kampungnya di Sampang, Madura. Pertikaian semacam ini seperti tak bisa dihentikan, mengalir terus hampir setiap massa tanpa pernah kita ketahui formula yang tepat untuk menghentikannya.

Dalam beberapa bulan terakhir sangat gencar kita dengar gerakan atau seperti kampanye anti Syiah. Media sosial dijejali berita miring tetang Syiah atau artikel-artikel yang menunjukkan betapa Syiah adalah sebuah ajaran yang sesat. Masyarakat dicekoki informasi-informasi mengenai betapa Syiah adalah sebuah aliran yang terkutuk dan dianggap bukan bagian dari Islam.

Di sini, saya tidak akan mengajak untuk membahas apakah Syiah sesat atau tidak, bukan untuk memperbandingkan mana lebih “benar” antara Sunni atau Syiah. Jikapun ada sebuah prinsip yang saya pegang adalah apa yang pernah dipesankan oleh guru saya bahwa Syiah itu ada macam-macam, memang dulu ada yang sangat jauh dari ajaran Islam, tetapi ada juga yang masih dalam koridor-koridor Islam. Sampai di sini, saya menganggap bahwa tidak bisa gebyah uyah kepada umat Syiah jika ingin bicara tentang mereka secara umum.

Bertebarannya informasi negatif tentang Syiah di media sosial belakangan ini begitu masif bahkan oleh mereka yang sebenarnya tidak tahu betul mengenal Syiah. Jikapun mereka mengetahui soal Syiah, sebagian besar mereka dikenalkan oleh mereka yang bukan Syiah dan bahkan dari mereka yang tidak menyukai Syiah.

Media sosial dengan segala keterbatasannya saat ini sangat mudah jadi media menyebar berita palsu, alat untuk mengumbar kebencian pada sebuah kelompok secara terbuka, seperti tanpa batas tanpa ada pagar kesopanan atau keilmuan. Kalimat caci yang jauh dari santun atau opini ngawur tanpa argumen dan data valid mengalir sangat deras, seperti tak tersaring, layaknya tanpa bisa terbendung.

Letupan-letupan kebencian pada sebuah kelompok begitu terbuka di ruang publik (media sosial). Segala prasangka-prasangka buruk secara viral menjalar ke berbagai penjuru, mereka membagikan informasi itu seperti tanpa pernah menganalisa kebenaran atau minimal menimbang akan resiko yang ditimbulkannya.

Ini tidak terhadang, ini tak terhalang lagi, ini memang menjadi sebuah kenyataan yang kita hadapi secara nyata. Masyarakat kita tiba-tiba begitu mudah membenci Syiah. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, bahwa saya tidak dalam rangka memperdebatkan Sunni-Syiah, saya sedang mencoba memberikan ruang lain yang mungkin bisa kita kaji dan analisa kembali dari sebuah fenomena kebencian kepada Syiah akhir-akhir ini.

Ada beberapa poin yang mungkin patut kita berikan kesempatan masuk benak kita masing-masing.

Pertama, kita harus punya kajian lebih serius tentang perkembangan pemeluk Syiah di Indonesia: apakah jumlah mereka bertambah? jika jumlah pemeluk bertambah, coba kita perhatikan kembali apakah perkembangan mereka karena faktor keturunan (karena orang tuanya sudah Syiah), atau pertambahan dari luar Syiah yang kemudian memutuskan mengambil jalan Syiah?

Perlu kita ingat, bahwa seseorang memilih kepercayaan tidak pernah karena terpaksa, jika anda yakin bahwa Islam agama yang benar, meski pedang menghunus di leher, anda akan tetap percaya bahwa Islam agama yang tak bisa dilepas, ini namanya iman. Nah, jika benar perkembangan orang Syiah di Indonesia meningkat, maka perlu analisis lebih mendalam kenapa ketika caci maki semakin menjadi tidak menyurutkan pertumbuhannya?

Analisis¬†sederhana saya adalah: banyak orang awam yang tergelitik untuk mencari tahu tentang Syiah saat batin mereka merasa ada yang tidak beres dengan cemooh yang menyebar di media sosial. Orang normal dan punya kedewasaan berfikir selalu punya naluri mencari kebenaran sebuah informasi yang diterima. Dan mereka ini kemudian memilih tabayyun pada orang Syiah sesungguhnya. Saat mendapati bahwa informasi hitam yang menyebar ternyata tidak benar, maka mereka “jatuh cinta”. Bukankah orang Amerika dan Eropa juga banyak yang tertarik belajar Islam setelah peristiwa 9/11? Mereka jadi penasaran setelah melihat Islam selalu disudutkan dengan klaim agama teroris.

Kedua, Bahwa harus diakui bahwa umat Islam di Indonesia saat ini tidak sedikit yang menjalankan agamanya bedasarkan dan sebatas yang ia terima dari gurunya. Jika benar bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia ini menganut Sunni, maka bisa disimpulkan bahwa ke-sunni-an mereka kebanyakan karena orang tua mereka sunni atau karena guru yang mengajarinya Sunni.

Jadi dalam Sunni punya golongan yang “hanya” karena faktor orang tua atau lingkungannya Sunni. Selama ini mereka tidak pernah terganggu ibadahnya, tidak sedikitpun terusik ke-Islam-annya karena konflik-konflik perbedaan aliran, jikapun ada gesekan kecil mungkin hanya tentang NU dan Muhammadiyah.

Dengan menggeloranya kabar atau informasi mengenai kesesatan Syiah, sebuah kajian yang sepertinya patut dilakukan adalah: seberapa besar masyarakat Islam (dalam hal ini Sunni) yang setelah keributan ini mereka baru sadar bahwa dirinya ini Sunni. “Lo, aku ini Sunni, toh?” mungkin begitu yang ada dibenak mereka, karena mungkin kata Syiah pun baru mereka dengar.

Jika benar apa yang dilakukan oleh orang-orang itu sedang menjaga Islam, mempertahankan Sunni maka dua hal yang saya sebutkan diatas sebaiknya ditelaah lebih dalam. Apakah efektif menyebar informasi negatif mengenai kaum yang kita anggap sesat? sebagai pertimbangan lain, apakah tidak sepatutnya yang menjadi misi utama dalam menjaga Sunni adalah menjaga dan menambah pengetahuan kaum Sunni sendiri? []

Kumamoto, November 2016

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here