Membentur-benturkan Kepala Orang Sesat

Aku lempar Koran itu ke meja sambil mengumpat “Sukurin”.

Sedetik kemudian Kang Slamet masuk ke warung lantas mengambil Koran itu. “Ada apa?” tanyanya padaku lantas memberikan isyarat anggukan kepala kepada Cak Sutris, penjual warung untuk memesan kopi seperti biasanya.

“Itu lo, Kang. Mereka itu kan sesat, main-mainin aqidah, ngaku Islam” gerutuku

“Lantas?” Tanya Kang Slamet lagi.

“Sekarang mereka diserbu warga, teriak-teriak deh. Kapok!”

“Kamu itu kok seneng banget melihat orang dianiaya” katanya sambil menyalakan rokok lantas membuka-buka koran yang tadi diambilnya.

“Bukan begitu, Kang. Mereka ini sesat, mereka ini telah menodai agama kita, pantas bagi mereka untuk diperlakukan begitu.”

“Oh ya?” Kang Slamet tersenyum kecil

“Ya…” Jawabku dengan nada sedikit kesal

“Setiap ada penganiayaan, baik itu di Palestina, Rohingnya ataupun disini adalah sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan. Akan tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah ketika penganiayaan itu terjadi di sini, terhadap orang-orang yang dianggap sesat, maka penganiayaan itu dianggap wajar”

“Kan karena mereka mencemari agama, Kang?”

“Kenapa nilai-nilai kemanusiaanmu kemudian dibatasi oleh ego agama?”
Aku hanya diam. Pikiranku kalut, emosiku yang meletup membuat tak mampu menemukan argumentasi yang tepat untuk mendebat Kang Slamet.

“Misalnya, di depan warung ini tiba-tiba ada yang kecelakaan, korbannya sekarat, apa lantas perlu kamu identifikasi dahulu agamanya, aliran yang dianut, sebelum kau tolong dia? Tidak bukan?” Kang Slamet mulai berceramah.

“Ada yang terluka, ada yang teraniaya, ada yang butuh pertolongan maka naluri kemanusiaanmu harusnya langsung mendorong untuk bertindak, untuk mengobat lukanya, melindungi dari keteraniayaan dan memberikan pertolongan semampunya tanpa haru tau dia agamanya apa”

Aku sandarkan badanku, seraya menghela nafas. Aku merasa aku telah kalah telak oleh ocehan Kang Slamet. Aku seperti petinju yang kena pukulan di dagu lantas roboh. KO.

“Lantas bagaimana, Kang? Mereka ini sesat. Musuh dalam selimut” Tiba-tiba Cak Sutris, pemilik warung ikut juga dalam obrolan ini.

Kang Slamet tersenyum. “Emangnya kalau sesat kenapa? Bagi kita mereka sesat, mungkin bagi mereka kita ini yang sesat. Lantas apa kemudian karena hal itu kita memilih untuk adu fisik, berdarah-darah untuk meyakinkan diri bahwa yang bukan sesat adalah kita?”

“Ini kan demi masa depan agama kita, Kang. Kalau mereka yang sesat-sesat itu dibiarkan hidup tidak segera dibubarkan, bagaimana nasib generasi berikutnya? Mereka akan menganggap yang sesat-sesat ini sebagai bagian dari agama kita?” tanyaku. Keikutsertaan Cak Sutris tadi seperti memberikan sedikit energi untuk aku kembali mencoba berdebat.

“Haduh. Kamu ini gak baca sejarah, lupa atau bagaimana? Aliran yang kalian bilang sesat itu ada sejak kapan? Sudah dianiaya berapa kali? Apa kemudian membuat mereka hilang?”

Aku menggeleng.

“Apa kemudian dengan dianiaya mereka akan berubah keyakinan? Apa ketika kalian kalungkan pedang di lehernya, serta merta membuat mereka akan beralih kepercayaan? Apa semudah itu keyakinan berubah?” Kang Slamet mencecar kita dengan pertanyaan.

“Orang yang percaya bahwa keyakinan orang lain bisa bubar, bisa berubah dengan penganiayaan, maka orang itu juga percaya bahwa keyaninan yang dia peluk saat ini juga bisa bubar, bisa lompat kesana kemari hanya dengan penganiayaan”

Aku dan Cak Sutris kemudian saling pandang setelah mendengar kalimat Kang Slamet itu. Tiba-tiba suasana menjadi hening.

“Tapi, Kang Slamet memahami kan tentang kekhawatiran kami ini?” tanyaku dengan suara lirih.

“Hehehe” Kang Slamet melepas senyumnya. “Bencana terbesar bukan pada saat orang-orang yang dikategorikan sesat ini dianiaya, diusir atau dibunuh. Tragedi sesungguhnya yang paling mengerikan adalah banyak diantara kita yang kemudian diam-diam merestui penganiayaan, pengusiran dan bahkan pembunuhan itu. Ini pertanda runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai agama itu sendiri.”

“Kang, masyarakat ini sedang menjaga kemurnian agama. Mereka takut dikemudian hari anak-anak kita masuk dalam golongan sesat itu. Gini aja deh, Kang. Semoga saja sih tidak, tapi misalnya di kemudian hari anak sampeyan masuk aliran yang sesat itu bagaimana?” aku mencoba menyerang dengan pertanyaan yang agak keras, memukul ke area yang sensitive, pribadi.

Kang Slamet diam sesaat. Menyeruput kopinya lantas memejamkan matanya, air mukanya tiba-tiba berubah agak sedikit suram. Beberapa detik kemudian dia membuka matanya. Nampak seperti dia menahan air mata.

“Mas.” Katanya dengan pelan. “Jika memang terjadi, saya tidak memilih untuk membentur-benturkan kepala orang yang mengajak anakku ke golongan sesat ke tembok. Aku memilih lari ke kamar, kemudian membentur-benturkan kepalaku ke tempat sujudku, meminta ampun kepada Allah karena gagal mendidik anak yang diamanahkan kepadaku” []

Cerpen ini pernah dipublish di kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here