Tolong

165 views

Di sebuah pertigaan Soleh turun dari angkot untuk pindah angkot jurusan lain agar bisa sampai ke rumahnya. Sengatan matahari menyambutnya, udara panas mengundang keringat untuk keluar, basahi keningnya. Sesekali dia mengusap wajahnya dan menelan ludah untuk sedikit obati rasa dahaganya.

Dirogohnya kantong celananya, didapati tiga lembar uang seribuan. Kembali dia periksa semua kantongnya, berharap ada lagi sisa uang.

Di seberang jalan ada penjual minuman yang membuat hausnya semakin menggila, namun uang yang dia punya hanya cukup untuk naik angkot pulang.

Ditelan ludahnya sekali lagi, sambil meyakinkan dirinya bahwa sekitar setengah jam lagi dahaganya akan hilang dengan minum air kendi di meja makannya.

Lamunan Soleh tentang segarnya air kendi tiba-tiba buyar oleh colekan bocah kecil dari belakangnya.

“Mas, minta tolong” ujar bocah itu dengan nada memelas.

Soleh menggelengkan kepalanya, memberi tanda bahwa dia tak punya uang untuk diberikan pada bocah yang diduganya pengemis kecil tersebut.

“Mas, tolong saya antar ke rumah. Uang saya hilang, tidak bisa pulang” rengek bocah usia sekitar 12 tahun itu. Wajahnya sepertinya kelelahan dan matanya sayu. Soleh bukan tipe orang yang bisa melepaskan pandangan begitu saja pada wajah seperti ini.

“Hilang dimana, dek? Rumah kamu di mana?” Tanya Soleh.

“Tidak tahu jatuh di mana, mas. Rumah saya di Kampung Joha”

Otak Soleh berputar. Berfikir keras gimana bisa menolong bocah kecil ini. Kampung Joha dan rumahnya berlawanan arah, uang di kantongnya hanya cukup untuk satu orang, sekali jalan.

“Ini dek, uang tiga ribu. Cukup untuk kamu naik angkot pulang” Soleh menyodorkan uang tiga ribu miliknya. Dia berencana pulang jalan kaki saja ke rumahnya, jaraknya memang empat kilometer, tapi dia merasa kakinya masih cukup kuat untuk sampai ke rumah.

Bocah kecil itu tak segera menerima uang pemberian Soleh. Wajahnya semakin bingung. Rasa cemas tergambar dari sorot matanya.

“Mas, tolong antar saya. Kalau saya pulang sendirian nanti dimarahi ibu tiri saya” lantas air mata bocah itupun mengalir.

“Kenapa?” Soleh sedikit bingung

“Tolong antar saya, Mas. Jelasin ke ibu kalau saya terambat pulang karena uang saya hilang, bukan karena main-main”

Soleh semakin bingung. Hati ingin menolong bocah malang ini, namun dia sudah tidak punya uang sedikitpun lagi untuk menolongnya. Dirogohnya kembali kantongnya, mengambil handphone bututnya. Ternyata setelah dicek, pulsa pun habis. Tidak ada sisa pulsa yang cukup hanya sekedar untuk mengirim SMS ke teman untuk dimintai tolong.

Mata Soleh menulusur ke penjuru arah, meneliti apakah ada wajah yang dia kenal untuk di mintai tolong. Pertigaan ini tidak banyak orang lewat, hanya satu dua orang dan penjual minuman di seberang jalan.

“Dek, kamu diam di sini dulu ya. Sebentar lagi aku kembali” kata Soleh, sesaat kemudian dia menyeberang jalan. Menuju penjual minuman.

“Bang” Sapa Soleh pada penjual minuman

“Mau beli yang mana, Mas?” Penjual itu berdiri dari tempat duduknya sambil menunjuk beberapa jenis minuman botol yang ada di lapaknya.

“Maaf, Bang. Saya bukan mau beli, saya mau minta tolong”

Seketika muka penjual itu berubah kecut. “Minta tolong apa?” katanya dengan nada sedikit judes

“Bang, boleh saya pinjam uangnya sepuluh ribu saja. Ini HP, saya tinggal di sini, Bang” Soleh lantas menyodorkan handphone butut miliknya.

“Mas, di sini bukan tempat pegadaian” jawab penjual itu dengan ketus tanpa sedikitpun meraih handphone yang disodorkan Soleh.

“Bang, tolong. HP ini masih laku 50 ribu kok. Kalo dalam dua hari saya gak nebus HP ini, abang boleh jual ke orang lain” Soleh berupaya merayu.

“Bukan HP curian nih?” Penjual mulai sedikit tertarik namun tetap waspada

“Kalau perlu saya tinggal KTP saya, Bang”

Penjual itu meraih handphone, memperhatikan dengan memutar-mutar. Tak ingin kehilangan detil setiap sudut handphone itu.

Beberapa saat penjual minuman itu berfikir. Sesekali memperhatikan wajah Soleh dengan tatapan sedikit curiga.

“Gini aja, Mas. Kamu saya kasih 10 ribu, tapi nebusnya 15 ribu. Besok siang harus kamu tebus, jika kamu tidak datang sampai jam 12 besok siang, HP ini milik saya”

“Lusa gimana?” Soleh menawar.

“Tidak, harus besok”

Soleh diam sejenak, mencoba memikirkan tawaran itu. Matanya melirik ke sebarang jalan,memperhatikan bocah yang akan ditolongnya.

“Baik lah, Bang”

Penjual itu pun membuka kotak uangnya, mengambil uang dan diberikan pada Soleh.

“Terimakasih, Bang” Kata Soleh lantas mengambil langkah mendekat pada sang bocah.

“Gimana, Mas” Tanya anak kecil itu, dia sepertinya tak sabar untuk ingin tau apakah dia akan ditolong atau tidak.

“Ayo, kamu saya akan antar pulang”. Soleh melempas senyum harapan. Tidak lama kemudian, angkot menuju Kampung Joha muncul. Mereka berdua segera naik.

Sekitar 20 menit perjalanan, sampai juga mereka di Kampung Joha. “Jalan kaki agak jauh tidak apa-apa kan, Mas?”

“Iya, tidak apa-apa” Soleh lantas mengikuti bocah itu menuju rumahnya.

Setelah lebih dari sepuluh menit berjalan kaki, anak kecil itu menunjuk sebuah rumah dengan kondisi agak reot. Dinding kayu kusam, dengan warna cak yang sudah mulai banyak yang terkelupas. Mungkin terakhir dicat sepuluh tahun yang lalu.

Bocah itu mengetuk beberapa kali ke pintu dan mengucapkan salam. Tanganya meraih daun pintu lantas membukanya. “Silahkan masuk, Mas” ajak si bocah.

Saat Soleh melangkah masuk ruangan, kepalanya melongok ke dalam, memperhatikan isi ruangan. Tiba-tiba telinga Soleh seperti buntu, sunyi senyap. Jantungnya berdegup cepat. Kaget. Matanya melihat seuatu yang tak pernah diduganya dalam ruangan itu.

Ada sorot lampu menerpa wajahnya hingga dia harus menyipitkan mata menahan silau. Dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa orang. Memasang wajah sumringah, begitu pula sang bocah yang diantarnya, sebelumnya selalu terlihat sedih kini tiba-tiba tersenyum ceria.

“Ada apa ini?” Tanya soleh sambil menoleh ke bocah yang barusan ditolongnya itu.

Tidak ada jawaban, hanya ada seorang lelaki yang membawa sebuah mikrofon yang diikuti lelaki lainnya dibelakang yang menggendong kamera.

Lelaki itu kemudian menjabat tangan Soleh. Lantas menyerahkan sebuah amplop coklat tebal. Soleh makin bingung, agak ragu dia menerima amplop itu.

“Buka, Mas” Suruh lelaki itu. Di belakangnya masih banyak yang sibuk dengan kamera dan lampu sorot.

Soleh yang masih belum mengerti situasi itu, membuka pelan amplop. Dilihatnya dua ikat uang seratus ribuan.

“Selamat, Mas. Kami dari sebuah acara reality show. Mas sudah ikhlas menolong anak kecil ini, maka mas berhak mendapatkan uang tunai dua puluh juta rupiah” kata sang lelaki yang kemudian disusul suara riuh tepuk tangan orang-orang yang ada di ruangan itu.

“Bagaimana perasaan, mas?” Tanyanya sembari mendekatkan mikrofon ke mulut Soleh.

Soleh hanya terdiam, tangannya gemetar memegang tumpukan uang itu. Tidak berapa lama, matanya mengeluarkan air mata. Lelaki pembawa mikrofon, host dari reality show tersebut tidak mau kehilangan momentum. Dia berbalik ke kamera. “Pemirsa, kita saksikan betapa harunya sang pahlawan kita ini. Dia sampai menangis bahagia menerima hadiah dua puluh juta dari kami”

Setelah beberapa detik soleh terdiam dalam tangisnya, dia menepuk pundak host acara tersebut. Setelah berbalik, Soleh memegang tangan sang host lantas menaruh tumpukan uang hadiah ditanganya.

Tanpa bicara sepatah katapun, Soleh berbalik berjalan dengan cepat meningalkan rumah itu. Semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak mengikuti Soleh yang lantas berlari kecil setelah dia tau telah dibuntuti.

Tak seberapa jauh dari rumah itu, Soleh mendapati Masjid. Dia ingat jika dia belum solat dzuhur. Menuju ke tempat wudhu dan masuk untuk mendirikan solat.

Host dan semua kru yang tadinya mengejar tidak berani untuk menggangu solat Soleh, mereka memutuskan untuk menunggu di teras Masjid, mereka saling pandang. Kebingungan atas apa yang telah terjadi.

Empat rokaat telah usai, dzikir pendek pun juga sudah dijalankan. Wajah Soleh merunduk dalam. Air matanya terlihat metes, membasahi sajadah.

Astaghfirullah. Astaghfirullah. Duh Gusti, kenapa Kau beri cobaan semacam ini kepadaku? Ampuni segala dosaku ya Tuhan, berikan aku kesempatan untuk mendapat ridho-Mu. Kenapa ketika aku mencari ridho-Mu, Engkau malah memberikanku dua puluh juta?” []

—-

Pare, 3 Juli 2013

Cerpen ini pernah dipublish di kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here