Caramu Meninggalkan Kami

Para jamaah sholat Isya’ mulai meninggalkan surau, tertinggal cuma aku dan Pak RT. Sudah menjadi tugasku setiap selesai sholat Isya’ untuk menutup dan mengunci surau kampung itu. Jadi, pulang terlambat adalah hal biasa bagiku, menunggu hingga semua orang tak ada lagi.

Ada pemandangan yang tak lazim malam ini. Baru kali ini aku dapati Pak RT pulang terakhir, duduk bersila di shaf depan sambil kepala terunduk.

Pak RT mungkin sedang berdzikir atau entah apa, aku tak berani menegurnya. Biasanya Pak Ustadz dan Pak Imam juga sering melakukan ritual seperti yang dilakukan Pak RT malam ini.

Sembari menunggu aku menyapu bagian shaf belakang yang tak berkarpet.

Setengah jam berlalu, sudah tidak ada lagi yang bisa aku berbuat untuk membunuh waktu, tetapi Pak RT belum bergeming dari tempatnya. Aku jadi penasaran dengan apa yang dilakukan Pak RT. Belum sekalipun beliau berperilaku demikian. Rasanya ingin mendekati beliau dan bertanya, namun rasa ingin itu tertutupi oleh perasaan takut mengganggu kekhusukannya.

Aku keluar menuju teras surau, merogoh kantong. “Duh, rokok ketinggalan di rumah” gumamku dalam hati.

“Nih…” suara itu datang dari belakangku sembari disusul sodoran tangan yang memegang sebungkus rokok beserta korek apinya.

“Ah, Pak RT. Bikin kaget saya saja” ternyata Pak RT tahu bahwa aku sedang membutuhkan rokok. Kuambil sebatang dan menyulutnya, sejurus kemudian menyodorkan kembali sebungkus rokok itu.

“Udah, ambil saja semuanya” kata Pak RT dengan suara agak parau dan sedikit gemetar, tak seperti biasanya. Aku kemudian terdorong untuk memperhatikan gerak tubuh dan raut muka Pak RT lebih seksama.

“Bapak sedang ada masalah? atau sedang sakit?” aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun aku sendiri punya tebakan bahwa Pak RT sedang punya masalah dan membuat beliau kemudian bermelankolis ria dengan Tuhan selepas Sholat Isya tadi.

Pak RT tak langsung menjawab. Beliau kemudian duduk di teras surau, yang membuat aku juga ikut duduk disampingnya.

“Aku sedang sedih Mal” nada suara Pak RT merendah, hampir aku tak bisa mendengar apa yang dikatakannya.

“Masalah keluarga Pak?”

“Bukan Mal” jawabnya singkat yang kemudian disusul gerakan tangannya meraih bungkus rokok dan korek api yang sedari tadi aku letakkan diantara tempat duduku dan beliau. “Aku masih terganggu dengan peristiwa tempo hari” sambungnya lalu beliau menyalakan rokoknya.

“Peristiwa apa, pak? Soal Godang yang gantung diri itu pak?” tebaku yang dijawab Pak RT dengan anggukan.

Godang adalah tetangga dekat Pak RT, rumahnya tepat disamping kanan rumah beliau. Dua hari yang lalu Godang ditemukan oleh istrinya gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya.

“Mal, saat hari kejadian dan polisi datang kemudian bertanya kepada istrinya. Aku gemetar dan merasa sangat malu ketika mendengar jawaban istrinya saat ditanya tentang perkiraan kenapa suaminya gantung diri” air mata Pak RT meleleh.

Aku sama sekali belum paham dengan kesedihan Pak RT ini. Sepengetahuanku, Godang bunuh diri karena usahanya bangkrut dan dia terlilit utang. Bunuh diri karena masalah ekonomi adalah hal yang lazim terjadi, akan tetapi kenapa kali ini bisa membuat Pak RT sedemikian terpukul. Apakah ada alasan lain selain utang itu yang orang lain tidak ketahui?

“Emang menurut istri Godang, bunuh dirinya karena apa pak? Bukankah dia gantung diri karena terlilit utang?” aku tak mampu menahan rasa penasaranku.

“Iya” jawab beliau pelan

“Jadi….?” aku sebenarnya ingin meneruskan pertanyaanku bahwa hal sangat lazim orang bunuh diri karena masalah ekonomi.

“Jadi…? Jadi aku termasuk orang yang menanggung dosa atas perbuatan Godang itu, Mal…” suara Pak RT semakin parau.

Aku masih belum bisa menangkap secara jelas arah pembicaraan Pak RT.

“Mal, Godang adalah tetanggaku. Bersebelahan rumah. Dia sudah tiga tahun mengontrak di sebelah rumahku itu, namun aku tak tahu kalau tetanggaku itu sedang punya masalah utang! Tetangga macam apa aku ini, Mal?”

Aku mulai paham, namun aku tak berani bersuara, sengaja aku berikan ruang pada beliau untuk menumpahkan kegalauannya.

“Mal, aku baru saja dapet rejeki dan kemudian beli motor baru. Sobri, tetangga depan rumahku baru saja beli televisi LCD. Hambali, samping rumahku kemarin baru saja pulang dari umroh. Namun ada tetangga kami yang gantung diri hanya karena utang yang nilainya tidak lebih dari setengah harga motorku. Tetangga macam apa aku ini, Mal? Duh Gusti, astaghfirullah. Kalaupun aku tak bisa membantu melunasi utangnya, aku kan bisa menasehati dia tentang dosa orang bunuh diri?”

Kemudian suasana hening, hanya terdengar suara hembusan nafas Pak RT yang semakin berat. Beliau hanya merunduk, duduk berdampingan tak lebih dari semeter membuat aku tahu betul air mata beliau mengalir deras.

“Sebagai tetangga aku gagal, sebagai RT aku juga gagal mengetahui problem rakyatku. RT macam apa aku ini, Mal?” tiba-tiba Pak RT kembali memecah hening.

Aku tak mampu bersuara. Hanya istighfar yang berulang-ulang terucap oleh hatiku.

Godang, caramu meninggalkan kami mungkin bukan cara yang diijinkan oleh Tuhan, dan biarkan itu menjadi urusan Tuhan dengan dirimu. Satu hal yang pasti, caramu meninggalkan kami telah membuat kami sadar bahwa kami adalah manusia yang gagal. []

Untuk: Sondang Hutagalung

Malang, 12 Desember 2011

cerpen ini pernah saya publish di: Kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here