Ikhlas

214 views

Tubuh Seta yang besar itu terlempar beberapa meter kebelakang saat akan menghalangi tangan Amin yang sedang memberikan beberapa lembar uang kepada Sutini.

“Ah, ilmumu kanuraganmu masih tinggi juga Min…” kata Seta sambil berjalan mendekat pada Amin.

Amin hanya tersenyum simpul, sedikit melirik pada Seta.

“Terimakasih ya Mas Amin. Nanti jika ada rejeki, saya akan bayar” Kata Sutini gemetar bahagia bercampur takut dengan perbuatan Seta.

“Iya, tidak apa-apa Bu Tini. Sekarang, Silahkan Bu Tini ke Rumah Sakit dan bayar biaya pengobatan anak Ibu”

Sutini bergegas beranjak dari teras rumah kontrakan Amin, meninggalkan Amin dan Seta.Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening. Hanya ada suara angin mendesir pelan dan langkah hati-hati Seta yang masih mencoba mendekat ke Amin. Sementara Amin masih juga berdiri, tidak nampak ada sikap siaga atau memasang kuda-kuda. Dia hanya menolehkan wajahnya ke Seta sambil terus mengumbar senyum ringannya.

“Belum kapok juga kamu Seta?”

“Hahahaaa….. mana mungkin aku kapok? Baginda Iblis telah memberiku tugas untuk menghalang-halangi kamu berbuat baik. Ini tugas mulia bagiku, tidak ada kata kapok atau bosan”

“Ya sudah kalau memang seperti itu” Kata Amin dengan nada santai, sejurus kemudian membalikan badannya dan melangkah masuk kedalah rumahnya.

Amin mengambil sebuah buku di meja ruang tamunya, kemudian mengambil posisi yang dianggapnya nyaman di sofa kusam warna merah tua untuk melanjutkan bacaanya.

“Hei, Min… Kenapa kamu mau membatu tetangga, teman dan bahkan orang yang baru kamu kenal atau malah belum kamu kenal sama sekali? Bukankah kebiasanmu itu aneh?” Tanya Seta yang tiba-tiba muncul .

“Ya karena aku bisa membantu” Jawab Amin singkat tanpa menoleh pada Seta.

“Ah, itu bukan jawaban…”

“Kamu aku jawab kayak apa lagi? Kita sudah ribuan kali obrolkan hal ini kan?”

“Iya, namun selalu jawabanmu tak pernah memuaskan….” Seta terus mengejar

“Aku bisa membantu orang karena memang Allah memberikan aku keleluasaan tenaga, waktu dan harta untuk bisa membatu mereka. Aku minjamin orang duit ya karena Allah yang bikin ada duit di dompetku saat mereka pinjam. Kalau tidak diberi Allah duit, mana mungkin saya bisa minjamin duit, sederhana kan alasannya?”

“Waduuh. Kamu memang orang yang luar biasa, Min. Tidak banyak orang yang punya kedermawanan seperti kamu. Hampir tidak ada orang dikampung ini yang tidak pernah menerima kebaikan atau bantuanmu. Meski kamu tidak sekaya Pak Jono, namun kalau dihitung-hitung sedekah kamu lebih banyak dari dia” Seta tiba-tiba balik memuji Amin.

Amin tersenyum ringan, “ Sudahlah, jangan coba untuk membuatku jadi sombong”.

“Sialan! Manusia satu ini memang sulit untuk dirayu” gumam Seta pelan.

Seta berjalan memutar mengelilingi tempat duduk Amin seraya terus menjaga jarak. Dia sangat sadar jika dia mencoba mendekat maka akan ada semacam energi panas yang mendorongnya ke belakang. Sudah ratusan kali Seta harus jungkir balik ketika mencoba untuk mendekat atau menyentuh tubuh Amin. Kejadian paling terakhir adalah saat dia mencoba menghalangi tangan Amin saat menyodorkan uang ke Sutini beberapa saat sebelumnya.

“Amin, ilmu apa yang kamu punya sehingga aku tidak bisa menyentuhmu?”

“Aku tak punya ilmu apapun”

“Ah yang benar saja? Kamu pasti punya ilmu yang sangat tinggi. Sudah bertahun-tahun aku mencoba menyentuh atau mendekatimu, namun aku selalu terpukul mundur oleh tenaga dalammu itu”

“Itu bukan tenagaku”

“Lalu milik siapa? Gurumu?”

“Hanya Allah yang memiliki segalanya”

Sesungguhnya ini hanya basa-basi Seta saja. Dia sebenarnya sudah paham atas apa yang terjadi selama ini. Baginda Iblis telah memberikan wasiat padanya bahwa sikap ikhlas Amin dalam beramal baik yang membuat Amin memiliki kekuatan luar biasa, tubuhnya tidak akan bisa didekati apalagi disentuh oleh Seta.

“Seandainya saja engkau mau menyalon dari jadi Kepala Desa, saya yakin engkau akan terpilih, Min. Sikapmu yang ramah, kesediaanmu untuk membantu warga desa dan bahkan pengorbananmu kepada para tetangga sudah tidak terhitung jumlahnya. Kebaikanmu bisa jadi modal, Min”

“Seta, aku berbuat ini semua selama ini bukan untuk dipuji orang atau kujadikan sebagai modal mencari jabatan”

“Ini kan soal memanfaatkan peluang, Min” Seta masih terus merayu.

“Ya sama saja itu”

——

Matahari begitu terik, membakar udara kota. Amin melaju pelan di jalan raya dengan motor tuanya. Tiba-tiba Amin merasa ada yang aneh dengan laju motornya, jalannya jadi agak tersendat-sendat.

“Sepertinya bensinnya habis” gumamnya.

Motor tuanya itu memang tak memiliki indicator bensin. Sepertinya Amin lupa jika motornya kemarin dipinjam tetangganya. Dia sadar jika SPBU masih lumayan jauh, sekitar satu kilometer. Di daerah itupun tidak ada penjual bensin eceran.

Amin menepi, turun dari motor dan bersiap untuk mendorong motornya. Ini pasti akan melelahkan, terik matahari dan jarak yang lumayan jauh itu akan menguras tenaga Amin yang hari itu sedang puasa.

Baru lima langkah Amin mendorong motornya, ada seorang pengendara motor dari arah belakang tiba-tiba menepi “Kenapa, mas?” Tanya pengendara itu.

“Bensinnya habis, pak” Jawab Amin sambil mengehentikan langkahnya.

Pria itu kemudian turun dari motornya. “SPBU masih jauh lo mas, di dekat sini sepertinya juga tidak ada penjual bendin eceran” katanya. Kemudian pria itu berjalan di sekitaran tempat motornya seraya matanya mengawasi ke sekitar, ada yang sedang dicarinya.

“Mas, kita cari botol atau gelas air mineral bekas. Biar saya ambilkan bensin dari motor saya saja” Ternyata pria itu berniat menawarkan bantuan.

“Wah, maafkan saya telah merepotkan bapak” kata Amin yang merasa girang telah mendapat bantuan dari orang lain.

Beberapa saat setelah mendapatkan gelas untuk memindahkan beberapa milliliter bensin, sekedar cukup untuk bisa mengantarkan Amin ke SPBU terdekat, Pria itu melaju tanpa sempat memperkenalkan namanya.

Amin tak segera beranjak pergi. Dia tergun ditepi jalan itu sambil terus merenungkan apa yang telah terjadi padanya saat itu. Terasa aneh baginya, seorang yang tak dikenalnya tiba-tiba muncul saat dia mengalami kesulitan.

“Ah, ini pasti karena selama ini saya baik sama orang lain” gumamnya dalam hati. Lalu terlintas dalam benaknya rentetan peristiwa-peristiwa saat dia membantu orang lain.

Muncul dalam ingatannya saat dia harus menjual handphone untuk membantu Pak Tejo tetangganya yang sedang sakit keras dan butuh biiiaya operasi. Lalu bayang-bayang Alimin, bocah SD yang sering dia bayar uang sekolahnya karena bapaknya yang cuma seorang buruh sering kekurang uang.

Teringat dia saat hampir seminggu membantu Bu Juminah mendirikan warung di barat Balai Desa tanpa dibayar sedikitpun, hanya diupah dengan nasi pecel. Kemudian wajah Pak Haji Sobri menggeliat benaknya, dia ingat betul ketika mengajarinya mengaji selama lebih dari dua bulan sebelum berangkat ke tanah suci.

Memorinya kemudian melaju pada peristiwa banjir yang menimpa berapa rumah disekitar sungai di desanya beberapa tahun sebelumnya. Dia merelakan rumah kontraannya menjadi tempat menampung beberapa orang orang yang rumahnya.

Dan masih banyak lagi peristiwa-peritiwa lainya yang membuatnya melamun lumayan lama di tepi jalan itu.

“Berbuat baik pada orang akan mendapat perbuatan baik juga dari orang lain. Seandainya aku selama ini tak banyak menolong orang lain, tentu hari ini tak ada yang menolongku” katanya dalam hati.

Sebuah tepukan dipundak mengakhiri segala lamunan Amin. Sebuah tepukan itu kemudian disusul dengan sebuah dekapan akrab. “Kamu memang pantas mendapat pertolongan itu, Min… hahahahahaaaa…”

“Seta, bagaimana mungkin kau bisa menyentuhku dan bahkan merangkulku?” Amin kebingungan. []

Banyuwangi, 24 Juni 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here