Iman dan Rujak

143 views

Pria berjenggot itu terus berkoar dengan pengeras suara yang dipegangnya. Di tengah kerumunan warga ia mendalil ini itu tentang bahayanya memakan rujak.

Beberapa menit kemudian, setelah dirasa dirinya perlu beriistirahat dari orasinya yang berapi-api, ia mendekati penjual rujak yang sedari tadi bengong, mencoba memhami apa yang tengah terjadi.

“Bapak jangan khawatir, Tuhan akan memberikan rejeki lewat jalur lain. Yakin saja, pak,” kata pria berjenggot itu sembari mengelus-elus pundak Pak Slamet, sang penjual rujak.

Beberapa menit kemudian orasi berlanjut kembali, seakan tidak memperhatikan raut muka Pak Slamet yang masih terlihat bingung.

“Rujak ini mengandung bakteri dari cabai yang ditanam oleh imigran-imigran gelap asal Cina. Ini berbahaya!” pria berjenggot kembali berteriak melalui pengeras suaranya.

Celotehnya mengenai rujak dan cabai berbakteri dihubung-hubungkan hingga masalah ekonomi global serta gerakan membumihanguskan agama.

Pak Slamet masih tak bersuara. Tak juga mampu memahami dengan pasti apa yang dialaminya. Matanya hanya memandang kerumunan warga yang sebagian besar langganannya manggut-manggut saat mendengar orasi.

Pria berjenggot berhenti lagi. Ia kembali menghibur Pak Slamet.

“Asal bapak yakin, jebreet! Tuhan akan kasih bapak rejeki yang berlimpah” katanya sembari melempar senyum penuh keyakinan.

Pak Slamet tak menyahut, senyum pun tidak. Matanya kali ini memandang kosong.

Ia tersadar dari lamunannya setelah medengar dirinya dipanggil anaknya.

“Pak!” Sang bocah memanggil sembari mengoyang-goyangkan tangan bapaknya yang duduk termenung.

Pak Slamet terperanjak, ia tak melihat lagi kerumunan warga, tak juga nampak pria berjenggot, hanya anaknya yang masih mengenakan seragam sekolah dasar serta lalat-lalat yang mengerubungi dagangannya.

“Ada apa, pak?” tanya anaknya

“Tak ada apa-apa, nak”

“Pak, kata pak guru besok waktunya bayar uang sekolah”

Raut muka Pak Slamet langsung berubah, sedetik ia risau namun segera ia hilangkan penampakan rasa itu agar anakya tak khawatir.

Matanya lantas menoleh ke kotak uang tempat biasanya dia menyimpan hasil jualan rujaknya. Pelan-pelan ia meraih kota itu.

Jebreet!” teriak Pak Slamet sembari membuka kotak uang itu.

Anaknya semakin tak mengerti dengan sikap aneh bapaknya yang membuka kota kosong dengan teriakan. “Bapak kenapa?”

“Tidak ada apa-apa nak, tadi bapak main sulap. Uang yang ada di kotak ini sudah bapak pindah ke kantong gurumu. Besok bapak akan ke sekolah untuk bertemu dengan wali kelasmu,” kata Pak Slamet sembari melempar senyum tipis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here