Mbah Haji Soleh

“Sul, tunggu sebentar, Sul” Mbah Soleh memanggil Samsul yang hendak pulang selepas sholat Maghrib di Musholah.

Samsul menghentikan langkahnya. “Ada apa, Mbah?” tanya Samsul dengan nada pelan.

“Besok kamu bisa antar saya ke kota?”

“eemmmm, anu, Mbah. Anu.” raut muka Samsul tiba-tiba berubah murung.

“Ada apa Sul? Kamu besok ada urusan? Kalo besok tidak bisa, kamu antar saya lusa juga tidak apa-apa. Bank kan masih buka kalau hari jum’at,”

“Bukan begitu masalahnya, Mbah. Motor saya tadi siang sudah saya jual” jawab Samsul lirih sambil menundukkan mukanya.

Mbah Soleh menghela nafas panjang. Kemudian menepuk pundak Samsul seraya mengajaknya berjalan pulang. Rumah mereka memang searah.

Dalam beberapa langkah, tidak ada yang berbicara. Seorang kakek usia 70 tahun bersama pemuda usia 30-an itu berjalan dengan penuh keheningan.

“Untuk berobat anakmu ya, Sul?” Tebak Mbah Soleh

Samsul hanya mengangguk pelan. Terlihat jelas ada kesedihan yang begitu dalam dalam raut mukanya.

“Sampeyan ke kota untuk nabung ya, Mbah?” tanya Samsul balik. Dia memang hafal betul, setiap ke kota tujuan Mbah Soleh pasti untuk setor uang ke bank.

“Sebenarnya bukan hanya untuk setor, tapi juga untuk mendaftar untuk berangkat haji. Akhirnya, setelah 20 tahun lebih menabung sedikit demi sedikit.”

Samsul tersenyum. Dia ikut bahagia. Samsul tahu betul bagaimana perjuangan lelaki tua itu mengumpulkan uang untuk bisa menunaikan ibadah haji. Mulai dari jadi tukang kebun Sekolah Dasar di kampung itu, Mbah Soleh juga memelihara sapi milik Pak Kades dan pekerjaan lainnya.

Duda sebatang kara itu memilih menabung penghasilannya dibanding harus memperbaiki gubuknya yang sudah reot itu. Samsul mengerti betul hal itu, karena dialah yang sering membantu Mbah Soleh memperbaiki genting yang bocor atau kayu-kayu yang sudah mulai rapuh di gubuk Mbah Soleh.

“Selamat ya, Mbah. Nanti doakan saya di Ka’bah ya, Mbah” kata Samsul dengan raut muka yang tiba-tiba sumringah.

“Ah, katanya kan harus antri, Sul. Daftar tahun ini berangkatnya bisa beberapa tahun berikutnya,”

“Anakmu bagaimana perkembangannya Sul?” tanya Mbah Soleh, yang sekejap merubah kembali suasana menjadi muram kembali.

“Habis operasi, Mbah. Motor saya jual untuk biaya operasinya Kasim. Nanti setelah keadaannya sudah membaik setelah operasi kali ini, dia harus menjalani beberapa operasi lanjutan, Mbah. Begitu kata dokter di rumah sakit kemarin,” Samsul mencoba menjelaskan kondisi anaknya.

“Maaf ya Sul, aku belum sempat jenguk anakmu di rumah sakit. Beberapa hari ini aku disuruh Pak Kades menjual beberapa sapinya. Maklum, menjelang hari raya kurban begini harga sapi naik. Aku mau ke kota juga mau nyetorin uang yang dikasih ama Pak Kades setelah aku menjualkan beberapa sapinya kemarin. Saya do’akan agar Kasim segera sembuh”

“Gak apa-apa, Mbah. Terimakasih do’anya” jawab Samsul singkat.

Di persimpangan jalan, saat Samsul dan Mbah Soleh harus berpisah menuju rumahnya masing-masing, tiba-tiba Samsul menawarkan sesuatu pada Mbah Soleh.

“Oh ya, Mbah. Bagaimana kalau ke kotanya lusa saja, hari jum’at. Saya mau ke kota juga, ke rumah sakit. Saya mau ganti istri saya jagaain Kasim. Nanti saya pinjem motonya Budi aja, Mbah.”

Mbah soleh mengangguk tanda setuju.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam” Jawab Mbah Soleh, sejurus kemudian mereka berjalan menuju tempat tinggalnya masing-masing.

“Mari, Mbah. Ini helmnya” ajak Samsul sambil menyodorkan helm berwarna hitam kusam.

“Nanti kamu tungguin saya di Bank ya, Sul. Setelah dari Bank, aku mau ikut jenguk anakmu.”

“Beres, Mbah. sudah pasti saya tungguin. Tapi nanti pulangnya Mbah dibonceng Budi ya, Mbah. soalnya saya gak pulang. Nungguin Kasim di rumah sakit. Selepas Ashar, Budi akan ke rumah sakit untuk ambil motornya ini. Sekaligus nganter Mbah pulang”

Mbah Soleh mengangguk, kemudian naik motor.

Melihat Mbah Soleh keluar dari pintu Bank, Samsul segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju tempat parkiran motor.

“Maaf ya Sul, lama nunggunya. Antriannya banyak.”

“Nggak apa-apa, Mbah. Kita harus segera ke Rumah Sakit, Mbah. Biar bisa sholat Jum’at di sana aja.”

“Iya, Sul. Udah dekat waktunya sholat Jum’at”

“Mbah, tumben keluar dari Bank kok bawa amplop tebel? Itu dokumen-dokumen untuk mendaftar berangkat haji ya, Mbah?” tanya Samsul seraya menyiapkan helm untuk Mbah Soleh.

Mbah Soleh hanya menjawab dengan senyuman saja.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam” jawab Istri Samsul, yang kemudian menggapai tangan Samsul dan tangan Mbah Soleh untuk bersalaman. Lalu mempersilahkan Mbah Soleh duduk.

“Tadi Sholat Jum’at di mana, Mas?” tanya Istri Samsul

“Di Masjid depan rumah sakit”

“Bagaimana keadaan Kasim?” tanya Mbah Soleh pada Istri Samsul.

“Kata dokter sih sudah agak stabil, Mbah. Tapi dia lebih sering tidur seperti ini…”

“Dokter sudah datang melihat Kasim hari ini, bu?” tanya Samsul.

“Udah mas, tadi katanya habis sholat jum’at dokter mau bicara sama mas di ruangannya. Katanya ada yang mau dijelaskan,” ujar istri Samsul.

“Oh, gitu ya? kalo begitu aku langsung ke ruangannya saja sekarang,” kata Samsul. “Mbah, saya tinggal dulu, ya” pamitnya yang dijawab dengan anggukan oleh Mbah Soleh.

Sekitar sejam kemudian, Samsul datang. Air wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang kurang baik. “Bagaimana, mas? Apa kata dokter?” Istrinya menyambut dengan pertanyaan.

Samsul duduk di ranjang, di samping Kasim yang masih terlelap tidur. “Kasim harus operasi lagi dan biayanya kali ini sangat banyak,” katanya lirih.

Kalimat itu kontan membuat istri Samsul duduk lemas. “Apalagi yang kita jual, mas? Kita sudah tak punya apa-apa. Hutang juga sudah banyak,” keluh Istri Samsul.

Mbah Soleh, berdiri dari tempat duduknya. Lantas duduk kembali di sisi ranjang, disamping Samsul.

“Sul. Ini” Kata Mbah Soleh sambil menyerahkan sebuah amplop coklat tebal.

“Apa Mbah? Inikan dokumen pendaftaran haji sampeyan” Samsul menerima itu meskipun benaknya masih didominasi oleh kebingungan.

“Buka saja dulu” perintah Mbah Soleh

“Haaah!” Samsul kaget setelah membuka amplop yang ternyata berisi tumpukan duit. “Uang apa ini Mbah? Puluhan juta?”

“Aku tidak jadi daftar berangkat haji. Sudah, pakai saja uang itu untuk kesembuhan anakmu Sul”

“Tapi, Mbah. Ini tabungan sampeyan selama bertahun-tahun untuk naik haji, Mbah” Samsul masih belum percaya atas apa yang terjadi

“Sul, pakai saja. Tolong jangan ditolak” pinta Mbah Soleh

“Mbah. Mbah, tunggu sebentar, Mbah” panggil Samsul yang membuat Mbah Soleh mengurungkan langkahnya untuk keluar dari Musholah selepas sholat Maghrib.

“Ada apa, Sul?”

“Ini, Mbah. Ada surat, tadi Pak RT nitip ke saya. Katanya Mbah Soleh dapet kiriman surat” Kata Samsul sembari menyerahkan sebuah amplop yang lumayan besar.

“Surat? seumur-umur saya tidak pernah dikirimi orang surat. Salah orang mungkin, Sul” Mbah Soleh masih belum percaya.

“Tapi Mbah, itu memang untuk sampeyan. Disampulnya ditulis untuk Mbah Soleh, RT 03 RW 09. Di RT ini yang namanya Mbah Soleh ya cuma sampeyan, Mbah. Tidak ada yang lain.” Samsul coba menjelaskan.

Dengan masih dipenuhi keraguan, Mbah Soleh membuka amplop itu. Samsul mendekat, sepertinya dia juga penasaran dengan isi surat itu.

Mbah Soleh membukanya, mengambil isinya. Ada beberapa lembar kertas. Ditumpukan paling atas terdapat tulisan singkat.

Assalamualaikum, Mbah. Bagaimana kabarnya? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Mbah Haji Soleh

Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena baru bisa mengirimkan foto-foto ini sekarang… harusnya saya kirim sebulan yang lalu, beberapa hari setelah kita sampai di tanah Air, sesuai dengan janji saya waktu itu.

Wassalamualaikum

Qosim”

Mbah Soleh kemudian membuka lembaran berikutnya yang ternyata berupa foto-foto. Dan betapa terkejutnya Mbah Soleh dan juga Samsul yang ternyata memperhatikan foto itu.

Dalam foto itu, seorang laki-laki gagah berkulit putih bergandengan dengan orang tua yang wajahnya sangat mirip dengan Mbah Soleh. Dua orang yang sama-sama menggunakan ihram itu foto dengan latar belakang sebuah Masjid yang indah.

“Ini Masjidil Haram, Mbah. Mbah foto-foto di depan Masjidil Haram?” tanya Samsul penuh kebingungan.

Mbah Soleh semakin bingung, kakinya gemetar. Kemudian dia membuka lembar-lembar berikutnya, semuanya hampir sama, foto-foto Mbah Soleh menggunakan ihram, ada yang di Arafah, Mina dan lainnya.

Mbah Soleh duduk lemas di pintu Musholah, mulutnya mengucap lirih. “Allah…. Allah… Allah… Allah… Allah…” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here