Sepeda dan Ratu Sima

Ini adalah hari ke tiga saya melihat sepeda ini terparkir di taman dekat tempat tinggal saya di Jepang. Letak dan posisinya tidak menunjukan bahwa itu adalah tempat yang tepat untuk memarkir sepeda.

Semejak tiga hari lalu saya tidak melihat ada perubahan posisi sepeda ini, tidak juga diambil orang meski tak terkunci.

“Orang Jepang jujur, Tidak mengambil barang yang bukan miliknya,”

Apakah itu yang ada dibenak anda saat saya ceritakan hal di atas?

Tidak, saya tidak dalam rangka ingin menunjukan betapa orang Jepang jujur. Saya sebenarnya sedang berusaha menggelitik pola berfikir kebanyakan dari kita yang memuji budaya orang lain.

Puja puji tersebut lantas membuat kita semakin jauh terhadap budaya kita sendiri. Cakrawala berfikir serta yang jadi pedoman untuk hal-hal baik selalu dari pihak luar yang sebenarnya jika ditelisik lebih jauh, bisa-bisa tidak cocok dengan kultur budaya orang nusantara.

Saat ada peristiwa yang menunjukan sebuah kejujuran orang Jepang, kita terkagum dan berucap: “Orang Jepang keren, ya? Andai orang Indonesia seperti itu”

Menurut saya ini salah satu sumber masalah ketidakjujuran yang terjadi di Tanah Air. Karena contohnya budaya orang lain yang belum tentu cocok dengan karakter orang kita. Harusnya belajar pada sejarah Nusantara itu sendiri yang kemungkinan besar sesuai dengan karakter manusia Indonesia.

Kita sudah minder dengan kejujuran orang-orang Kalingga di masa pemerintahan Ratu Sima? Atau lebih parah lagi, sudah banyak yang tidak memgetahui sejarah kejujuran orang nusantara itu?

Tidak hanya soal hal ini. Dalam banyak bidang kita sering terkesima dan lantas mengadopsinya secara gegebah ke masyarakat nusantara. Kurikulum pendidikan, sistem bernegara dan lain-lainnya. []

Kumamoto, 6 September 2016

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here