Transaksi Secara Murahan dengan Tuhan

457 views

Asap mengepul dari mulut Kang Salmet yang sedang berdiri di halaman Masjid. Beliau sepertinya sedang beristirahat setelah bersama anak-anak remaja Masjid membersihkan serta mempersiapkan halaman Masjid untuk sholat Idul Adha dan memotong hewan kurban beberapa hari lagi.

Sudah jadi kebiasaan sejak seminggu sebelum lebaran, Masjid sudah dipersiapkan tempat pemotongan dan dirapikan. Mata Kang Slamet cermat memperhatikan sekelilingnya, mencari sesuatu yang mungkin dirasa kurang bersih atau kurang rapi.

Assalamualaikum, Kang?” Sapaku saat menghampirinya selepas sholat ashar.

Waalaikumsalam” jawabnya sambil menjabat tanganku.

“Bagaimana kabar, Kang?”

“Alhamdulillah baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana, sudah lama gak kelihatan jama’ah di Masjid?”

“hehehe. Saya lagi sibuk dikantor Kang, banyak kerjaan. Kalo bukan hari minggu gini saya jarang bisa ke Masjid” jawabku sambil melepas senyum malu. “Lagi bersih-bersih untuk persiapan untuk hari raya kuban ya Kang?” tanyaku sekaligus mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iya” jawabnya singkat yang kemudian disusul dengan menghisap dalam-dalam rokoknya.

“Gak terasa, tinggal beberapa hari lagi akan sudah lebaran ya, Kang? Sampeyan mau kurban tahun ini Kang?” tanyaku.

“Insyaallah”

“Sapi atau kambing, Kang?” aku jadi penasaran

Kang Slamet hanya menjawab dengan senyuman, membuat aku jadi semakin ingin tahu.

“Udah beli, Kang hewan kurbannya?” aku terus mengejar.

“Belum, nanti aja kalau udah mendekati hari raya. Kalo beli duluan nanti repot ngerawatnya”

“Wah, kok belum beli sih, Kang? Kalo beli nanti, harganya mahal, Kang. Kalau sampeyan beli hewan kurabnnya sebulan yang lalu, sampeyan bisa menghemat ratusan ribu kalau kambing, dan bisa jutaan kalau Sapi”

Kang Slamet hanya tersenyum mendengar ocehanku.

“Kambing sebulan yang lalu harganya paling mahal satu juta setengah, tapi kalau sampeyan beli sekarang, bisa-bisa harganya dua juta lebih. Sapi juga begitu, Kang. Bulan lalu harganya mungkin cuma enam atau tujuh juta, sekarang bisa sembilan juta. Selisih harganya luarbiasa, Kang?” aku coba terus menjelaskan.

“Sampeyan sebenarnya mau kurban apa sih, Kang? Kambing atau sapi?” aku bertanya lagi

“Kambing” Jawab Kang Slamet pelan.

“Kenapa gak patungan aja, Kang sama orang-orang yang juga berniat kurban kambing? Bisa berhemat banyak lo”

“Maksudnya?” Tanya Kang Slamet

“Begini Kang, taruhlah sampeyan sekarang beli kambing dengan harga dua juta lebih. Bandingkan jika sampeyan patungan sama tujuh orang yang juga akan kurban kambing, lalu beli sapi. Misalnya sapi harganya sembilan juta, kalau dibagi tujuh orang kan per orangnya gak sampai ngeluarin dua juta, Kang” jelasku.

Kang Slamet untuk sesaat tidak merespon penjelasanku. Hanya diam sambil menikmati asap tembakau yang masuk ke paru-parunya.

Kang Slamet mengambil nafas dalam-dalam lalu menepuk-nepuk pundaku. “hehehe. Kita ini emang kadang sering bertransaksi secara murahan dengan Tuhan” lantas beliau melangkah pergi meninggalkanku.

Aku hanya mampu diam, dada tiba-tiba terasak sesak, lantas bibir ini berucap pelan “Astaghfirullah…” []

—-

Banyuwangi, 17 Oktober 2012

Cerpen ini pernah dipublish di kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here