Tukang Tambal Ban

214 views

“Bang, sepertinya ini harus ganti ban dalam. Sudah tidak mungkin ditambal,” kata tukang tambal ban padaku

“Ya udah, ganti saja. Berapa harga ban dalam, pak?” tanyaku

“23.000, itu sudah dengan ongkos pasangnya,” jawabnya

“oke,” aku menyetujui harga itu. Kemudian tukang tambal ban kembali bekerja, sementara aku melanjutkan obrolan dengan Kang Slamet di tempat duduk panjang yang ada di bengkel sederhana itu.

Tak selang berpa lama, tukang tambal ban kembali lagi. “Bang, sepertinya as belakang motor itu,” katanya, namun belum sempat melantutkan kalimatnya Kang Slamet memotongnya.

“Oh iya, saya tahu. Udah, pasang saja mas,” ujar Kang Slamet seraya melempar senyum, yang kemudian membuat tukang tambal ban kembali melanjutkan pekerjaanya.

“Kenapa toh, Kang?” tanyaku penasaran. Lalu beliau menjelaskan tentang keadaan sepeda motor yang sudah tua itu agak lain cara pasang roda belakang. Harus bongkar knalpot dulu dan lain sebagainya. Intinya, untuk mengganti ban motor ini tidak seperti motor-motor ‘normal’ lainnya.

“Udah selesai, bang. Maaf lama,” kata tukang tambal ban yang dibalas senyum oleh Kang Slamet.

“Berapa, Bang?” tanyaku, sekedar basa-basi. Sebab sebelumnya tukang tambal ban ini sudah bilang harganya.

“23.000 bang”

Aku merogoh kantong, waktu menunggu sudah aku persiapkan uang pas untuk membayar. Namun ternyata Kang Slamet sudah mendahului saya. Beliau menyodorkan uang 30.000.

“Yang ini saja Kang, ini uang pas” kata saya. gerakan tangan penambal ban seakan setuju dengan usulan saya. Mungkin dia merasa tak perlu repot lagi mencari uang kembalian.

“Ambil yang ini saja. Tak usah pakai kembalian” Kang Slamet memaksa.

“Eh, nanti lewat jalan gunung agung ya? kita mampir makan siang di warung soto lamongan langgananku” pinta Kang Slamet yang aku jawab dengan anggukan kecil.

Kang Slamet menghirup dalam-dalam rokoknya. Habis makan soto seperti ini, kata Kang Slamet memang akan tambah nikmat jika disambung dengan merokok.

“Kang, kenapa harus bayar tukang tambal ban itu lebih sih?” aku coba buka obrolan.

“Tidak kenapa-kenapa”

“Kang Slamet selalu bayar lebih orang ya? Baik amat sih”

“Ga ada hubungannya dengan baik. Saya bayar lebih karena saya tahu motor butut itu sulit banget masang roda belakangnya. Ribet, harus ini dan itu dulu. Kan tadi kamu lihat sendiri, masangnya sampai segitu lama”

“Tapi kan dia tak minta bayaran lebih? dia minta cuma 23 ribu” aku coba mengejar

“Tapi ketika saya bayar lebih kan gak salah juga kan? Secara fiqh, mungkin kamu dianggap tidak berdosa saat bayar dia 23 ribu. Karena ijab qobulnya ya segitu. Namun apakah semua kemudian kamu pandang pakai ilmu fiqh semacam itu? Secara hukum emang kewajiban kamu bayar 23 ribu, namun ada hal yang posisinya jauh diatas hukum. Contohnya, secara fiqh kamu hanya diwajibkan membelanjakan 2,5% pendapatanmu untuk orang miskin, namun akhlak bisa mendorong kamu mebelanjakan 30%, bahkan tawakal bisa merayumu untuk menyerahkan 90% dari hartamu”

“Salah dia sendiri lah, Kang. dia yang menghargai pekerjaanya segitu. Dia gak mau minta bayaran lebih meskipun pekerjaannya lebih berat dari biasanya. Jika dia sendiri menghargai keringatnya dengan murah, maka dia yang patut disalahkan,”

“heheheee. Kamu masih gemar gunakan dalil milik orang untuk kamu pakai” katanya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Maksudnya?”

“Apa yang kamu ungkapkan itu dalil tukang tambal ban. Dia yang berhak gunakan penilaian semacam itu. Kamu jangan gunakan hal-hal yang sebenarnya diwilayahnya untuk mengahkimi tukang tambal ban”

“Saya masih tidak paham Kang?”

“Ada dalil ‘istri harus taat sama suami.’ ini dalil miliknya istri, kamu sebagai suami jangan gunakan ini dalam berhubungan dengan istrimu. Nanti kamu akan nyuruh istrimu panjat pohon kelapa dengan alasan istri harus nurut perintah suami. Dalil itu wilayahnya istri, kamu tak usah mengungkitnya,”

Aku mengangguk pelan.

“Ada juga yang meminta maaf sama temanya sambil nodong, ‘masak kamu ga memaafkan saya, Tuhan saja Maha Pemaaf.’ Dalil Tuhan saja Maha Pemaaf itu miliknya orang yang sedang dimintai maaf, yang dalam posisi minta maaf ‘tidak berhak’ mempergunakannya.”

“Oke Kang, saya sudah agak mengerti sekarang”

“Wabah macam ini meluas. Orang dengan pola pikir macam kamu ini banyak. Ada guru honorer digaji 80.000 sebulan. Eh, dia yang dihakimi, ‘salah sendiri kenapa mau diupah segitu. Dia yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri kok’. Kalau ingin mencari-cari alasan kenapa ada orang ratusan ribu orang yang mau menjadi guru honorer dengan upah murah. Maka kamu akan dapati alasan yang berbeda-beda setiap orang. Repot dan juga bukan wilayah kamu. Maka sebaiknya tak usah terlalu keras berupaya mencari tahu, berfikirlah di wilayah lain. Ketika ada seseorang mau digaji 80.000 sebulan atau bahkan bersedia tidak dibayar sekalipun tidak serta merta menggugurkan ‘kewajiban’ orang yang memakai jasanya untuk membayar secara layak ke orang itu,”

Rokok Kang Slamet habis. Mematikan di asbak. Bukanya beranjak dari tempat duduk namun ternyata menyulut sebatang rokok lagi. Sepertinya penyakit ngoceh Kang Slamet lagi kumat, dia ingin meneruskan ceramahnya.

“Ada guru ngaji, dia berniat ibadah. Biar tidak dibayar sekalipun dia iklas. Biarkan dia bermelankolis ria dengan niatan ibadah itu, orang luar tak perlu ikut campur. Sebagai orang tua murid yang diajar oleh guru ngaji itu, jangan sekali-kali memepergunakan dalil ibadah itu. Meskipun dia berniat ibadah, tidak mengurangi ‘kewajiban’ orang tua murid untuk memberikan imbalan yang layak kepada guru ngaji itu,”

“Kamu nyalahin tukang tambal ban yang menghargai kerjanya sebegitu murah. Bukan wilayahmu untuk mencari tahu kenapa dia begitu. Kewajiban kamu adalah menilai apakah layak dia diganjar segitu?”

“Iya Kang. Saya mengerti sekarang. Tapi ngomong-ngomong, kita harus pergi sekarang. Kita sudah terlalu lama di warung ini” kataku.

Kang Slamet senyum.

“Berapa semuanya pak? Soto dua, es teh dua” tanyaku pada pemilik warung

“13 ribu pak…”

“Silahkan pak” saya menyodorkan uang 15.000 “Kembaliannya simpan” kataku.

Kami menuju keluar warung, saya berbisik pada Kang Slamet “Kang, 2000 udah cukup untuk membayar 30 menit kita pakai warungnya untuk ngobrol tadi nggak?”

Kang Slamet cuma nyengir . []

Cerpen ini pernah dipublish di kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here