Tata Nilai, Mbah Surip Hingga Habib Luthfi bin Yahya

1,151 views

Situasi politik menjelang 4 November 2016 sempat menghangat. Beberapa manuver politik terlihat atau mungkin memang sengaja diperlihatkan ke publik. Pertemuan-pertemuan beberapa tokoh nasional diberitakan di berbagai media massa. Meski saya sangat paham, jika saat itu banyak juga pertemuan-pertemuan yang tidak dimunculkan atau mungkin juga tidak terjamah radar rakyat biasa ataupun awak media.

Saya sendiri memberikan sebuah catatan mengenai pertemuan-pertemuan yang diberitakan tersebut. Saya menilai bahwa kita semua belum benar-benar sembuh dari gejala kehilangan tata nilai.

Bagaimana tidak? Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi Prabowo Subianto dan beberapa waktu setelahnya ia mengundang beberapa tokoh agama, ulama.

Saya tidak bicara soal tekhnisnya, akan tetapi bagi saya ada yang tidak tepat. Presiden dalam waktu yang berdekatan dan dalam agenda politik yang serupa mendatangi tokoh politik namun untuk tokoh agama ia mengundang.

Jika meneropong masalah ini dari sudut tata nilai, maka saya menggambarkan bagaimana Pak Jokowi menempatkan frekuensi politik lebih unggul dibandingkan frekuensi-frekuensi agama.

Sebenarnya penyakit kehilangan tata nilai ini bukan barang baru. Presiden Sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebenarnya tidak jauh beda. Salah satu contoh adalah ketika meninggalnya Mbah Surip dan WS Rendra.

Saat Mbah Surip wafat, masyarakat heboh. Lelaki yang beberapa waktu sebelum meninggal tiba-tiba menjadi selebritis tersebut membuat SBY melakukan jumpa pers di Komplek Istana Kepresidenan untuk mengucapkan rasa belasungkawanya.

Akan tetapi, beberapa hari setelahnya, ketika WS Rendra meninggal, SBY ‘hanya’ mengucapkan belasungkawanya melalui Hatta Radjasa yang kala itu menjabat sebagai Menteri Skeretaris Negara.

Apa perlu diperjelas dengan membanding-bandingkan posisi Mbah Surip dan Rendra dalam bangsa ini? Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Mbah Surip, namun mari kita pakai pikiran yang jernih untuk menimbang apakah elok Presiden buat jumpa pers untuk kematian Mbah Surip di Istana Kepresidenan, sementara untuk Rendra, SBY hanya ‘titip salam’ ke wartawan melalui menterinya?

Saya yakin Rendra tidak butuh penghormatan-penghormatan dari penguasa, namun apa yang dilakukan oleh SBY bagi saya adalah cerimnan bagaimana negara sedang kehilangan daya untuk mengidentifikasi mana yang secara nilai lebih mulia dan mana yang sebenarnya biasa-biasa saja.

Meski demikian, hari ini sesak nafas saya karena perkara-perkara tata nilai sedikit terobati. Saya membaca berita hari ini Pak Jokowi sowan ke Habib M. Lutfi Bin Yahya di Pekalongan, Jawa Tengah.

Saya abaikan mengenai ‘komunikasi’ Pak Jokowi melalui sarungnya dan berbagai hal yang lebih terbaca sebagai pencitraan. Bagi saya datangnya pemimpin ke ulama adalah cara bernegara yang tepat. Itu sudah cukup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here