Soal Al-Maidah 51 dan Peta Umat Islam

Ini tulisan kedua saya tentang peta umat Islam pascakasus Al Maidah 51 di Pulau Seribu. Saya kembali menuliskannya setelah beberapa waktu lalu mendapati sebuah meme yang cukup menggelitik bagi saya.

“Ini para tokoh & panutan Kami. Bukan Harry T, apalagi Ahok. #Kami Muslim, Kami Cinta NKRI” tulis meme itu dengan dipampangkan foto beberapa tokoh seperti Habib Rizieq Shihab, Arifin Ilham, Munarman, Bachtiar Nasir dan tokoh-tokoh yang cukup populer kala ada Aksi Bela Islam 4 November dan 2 Desember tahun lalu.

Saya sedikit mengulang pernyataan saya beberapa waktu lalu, di mana saya menangkap ada dikotomi yang cukup gegabah dalam menyikapi kostalasi politik atau sosial setelah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) keselo lidah di Pulau Seribu.

Bagi saya, gelombang demonstrasi besar-besaran tersebut menyisakan sebuah catatan buruk. Bagaimana tidak? Saling sengkarut masalah Ahok ini kemudian membuat masyarakat tiba-tiba dibagi menjadi dua kutub. Demonstran dianggap kelompok Islam yang suka marah, yang tidak setuju demo dikategorikan sebagai umat Islam yang “rendah keimananannya”.

Padahal jika ditarik kebelakang, perbedaan tafsir mengenai Al Maidah 51 itu sudah ada sejak dahulu kala. Sebelum Ahok lahir. Sudah sejak lama ada yang menafsirkan ‘pemimpin’ (selanjutnya kita sebut sebagai kelompok A), dan ada yang menafsirkan ‘teman setia’ (selanjutnya kita sebut sebagau kelompok B).

Jadi, jika dipandang sudut ini saja, peta umat Islam bisa dipilah menjadi berbagai macam posisi.

Misalnya, yang kelompok A juga terdiri dari berbagai macam pandangan. Ada yang tersinggung dengan ucapan Ahok, ada juga yang memaafkannya. Bahkan kelompok A ini dalam mengartikan pemimpin pun berbda-beda, sebagian mengartikan pemimpin yang dimasud adalah pimpinan administrasi bernegara, akan tetapi ada yang juga mengartikan pemimpin pada ayat tersebut bukanlah pemimpin administrasi sejenis camat, bupati ataupun presiden.

Kelompok B juga demikian, ada yang merasa bisasa-biasa saja karena memang apa yang diucapkan Ahok itu selaras dengan tafsir yang selama ini diyakininya. Meski demikian, sebagian dari kelompok ini juga ada yang tidak senang Ahok bicara semacam itu. Alasannya, mereka tidak ingin juga Ahok menyakiti hati umat Islam lainnya, meski secara prinsip mereka beda tafsir.

Dari sini saja, petanya bisa diurai sedemikian kompleksnya. Belum lagi jika diteropong dari masalah tokoh-tokoh yang menjadi motor demonstrasi besar-besaran itu. Ada sebagian orang yang tidak setuju dengan sikap Ahok, namun berat hati juga jika datang ke Jakarta. Mereka masih belum punya kerelaan hati dipimpin oleh Bachtiar Nasir dan Habib Rizieq.

Belum lagi jika menelusuri lebih dalam mengenai pergerakan ini dari sudut-sudut yang tak terlihat dari radar media. Siapa yang menyangka jika ada sosok-sosok yang sebenarnya sedang berjuang habis-habisan mengenai ini namun memang sengaja mengambil ‘jalan sunyi’, tidak hanyut dalam hiruk pikuk pemberitaan di media massa ataupun media sosial.

Jadi, apakah masih relevankah jika kemudian menggunakan cara menilai secara sempit perihal masalah ini? Pilihannya hanya soal pilih Habib Rizieq atau Ahok? Kutubnya hanya dua itu-itu saja?

Kembali soal meme yang saya ungkapkan di atas. KenapaHarry Tanu ataupun Ahok kemudian diperhadapkan secara konvrontatif hanya dengan tokoh-tokoh yang ‘itu-itu saja’?

Apakah itu dimaksudkan bahwa jika tidak memilih para tokoh yang terpampang pada foto itu kemudian disamakan dengan mendukung Ahok?

Selanjutnya, apakah tidak terlampau merendahkan para tokoh-tokoh yang mulia itu sendiri jika kemudian ‘dilawankan’ dengan Ahok ataupun Harry Tanu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here