Petir Tanpa Bentuk

Saya tidak mengingat tepatnya, yang pasti terjadi sekitar 13 atau 15 tahun yang lalu, saya dan beberapa sahabat sering berkumpul dan menjalani hidup sama-sama. Bisa dibilang ini ketidaksengajaan, pada saat itu kita sering berinteraksi dan kemudian menamakan diri sebagai anak ‘Petir’.

Petir ini silahkan disebut perkumpulan, geng atau apapun saja. Namun saya memaknai Petir sebagai sebuah indentitas persaudaran di antara kami. Hanya Nama. Dipakai untuk sekedar ‘gagah-gagahan’ atau hanya sebagai sebutan agar enak dan gampang ketika menjadi obyek pembicaraan.

“Kakak, anak Petir, ya?” tanya seorang adik tingkat di kampus.

Saya juga tidak paham, bagaimana nama itu kemudian menjadi dikenal oleh beberapa orang yang sebenarnya di luar lingkungan pergaulan kami.

Bukan soal seperti apa yang terjadi di Petir yang sedang saya coba terangkan. Saya hanya memberikan gambaran bahwa Petir itu bukan organisasi resmi, bukan pula sebuah kelompok yang dikungkung oleh hal-hal yang berbau administratif.

Petir adalah ruh persaudaraan, ikatan batin antar sesama sahabat. Ikatan-ikatan tersebut tidak ‘dipadatkan’ menjadi organisasi, level paling jauh adalah dengan memberi nama Petir itu sendiri.

Maka, dalam petir tidak ada yang namanya Ketua atau pengurus apalagi AD/ART. Tidak jelas juga siapa anggotanya, karena acuannya adalah siapa yang bersedia bersama-sama maka jadilan saudara di Petir.

Persaudaran dan persahabatan tersebut menjadi energi pengikat paling utama, sehingga tidak diperlukan bentuk apapun. Tidak perlu di-wadag-kan.

Sebab, saya percaya jika kemudian dijadikan organisasi yang sifatnya administratif, mana energi persaudaraan yang sejatinya sangat lebar frekuensinya akan terbatasi oleh aturan-aturan legal formal yang cenderung kaku dan sempit.

—–

Dua tahun lalu, saya berkumpul dengan para pemilik kendaraan tertentu. Saya merasa perlu bersama-sama dengan mereka lantaran saya awam dengan kendaraan tersebut dan perlu banyak belajar dari orang-orang yang memang lebih memahaminya.

Bertemulah saya dengan beberapa orang dari seluruh Indonesia. Melalui bantuan media sosial tentunya.

Meski awalnya dan judul pertamanya adalah berkumpul karena kesamaan jenis kendaraan, namun sebagai makhluk sosial, pergaulan kita juga menyangkut masalah-masalah pribadi. Semua komunikasi dan iteraksi bersumbu pada pusat grafitasi yang sama: persaudaraan.

Saling tukar informasi pekerjaan dan bahkan ada yang kemudian jadi ladang meraup rejeki karena dalam perkumpulan tersebut ternyata ada yang sedang butuh benda dan pihak lain ada yang sedang ingin menjualnya.

Saya sendiri banyak menemukan manfaat dari pergaulan itu selain masalah otomotif. Saya bisa mendapatkan rekanan untuk proyek di kantor saya dan beberapa waktu lalu rumah saya juga dikerjakan proses renovasinya oleh teman yang saya kenal lewat perkumpulan ini.

Seiring berjalannya waktu, perkumpulan orang-orang yang diikat oleh rasa persaudaraan ini kemudian menjadi sebuah organisasi, komunitas resmi.

Punya ketua dan pengurus, serta menjadi badah hukum resmi yang pastinya memiliki AD/ART dan segala kelengkapan lainnya.

Saya pribadi tidak menolak adanya pelembagaan itu, karena itu adalah sebuah keniscayaan. Meski demikian, jauh di dalam hati saya pun merasa bahwa dikemudian hari energi grafitasi terhadap rasa persaudaraanya akan memudar karena ada pagar-pagar yang terkadang cukup kaku bernama aturan resmi dan lain-lain.

Namun sekali lagi itu adalah keniscayaan. Maka saya menyiapkan diri sedikit kehilangan nuansa persaudaraan tersebut dan beralih dengan pola pikir organisasi yang resmi. Payungnya tidak sekedar persaudaraan dan kekeluargaan, akan tetapi juga AD/ART dan segala macam aturan-aturan lainnya.

Maka ketika awal tahun lalu saya mengalami benturan-benturan yang sifatnya konfrontatif dengan sesama anggota komunitas, maka seiring saya menggunakan jalur kekeluargaan, saya juga mengusahakan komunikasi keorganisasian untuk menyelesaiakannya.

Jalur kekeluargaan sudah selesai, meski yang berkasus dengan saya enggan meminta maaf, saya secara pribadi tidak mempermasalahkannya. Saya tidak sampai menempuh jalur hukum meskipun saya punya bukti kuat untuk menjeratnya.

Akan tetapi, saya merasa ada kemandekan di jalur komunikasi keorganisasian. Bayangkan, sebuah organisasi yang punya member ribuan dan jejaringnya sudah nasional, untuk menyelesaiakan kasus ‘kecil’ yang menimpa saya butuh lebih dari enam bulan.

Akhirnya saya memutuskan untuk keluar. Secara keorganisasian saya menyatakan ‘talak’. Organisasi tersebut ternyata tidak mampu melindungi saya dari ‘serangan’ pihak lain.

Meski demikian, saya tidak serta merta kehilangan energi persaudaraanya diantara member, karena memang sejak awal saya mengikatkan diri dengan perkumpulan ini karena daya grafitasi dari rasa persaudaraan dan kekeluargaan.

Perasaan saya sudah terikat dengan member-membernya karena rasa cinta sesama sahabat. Bahkan ketika sebelum perkumpulan ini menjadi wadag.

Saya jadi semakin bersyukur, Petir tidak pernah dan tidak akan pernah jadi organisasi. Karena dengan tidak pernah terbentuk maka tidak pernah pula bubar. Namun yang pasti, persahabatan, persaudaraan masih kuat dan terikat sampai kapanpun. Ikatan persahabatan dan persaudaraanya di Petir masih ada dan kuat hingga saat ini. Bahkan ketika diantara kita sudah terpisah jarak ribuan kilometer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here