Ahok dan Gelandangan yang Mati di Depan Warung

Seorang pria tua gelandangan ditemukan tewas di teras warung makan milik Slamet, di Jalan Raya Siman, Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, Ponorogo.

Berita di kompas.com pada Selasa (17/1/2017) membuat saya mengeritkan dahi. Bagaimana tidak? Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini ada yang meninggal karena kelaparan. Di negeri yang konon masyarakatnya sangat religius ini bisa sampai ada kaum miskin merenggang nyawa sebab tak bisa makan.

Jika kemudia berita itu muncul ke permukaan dan jadi pembahasan publik, maka yang digarisbawahi adalah persoalan sosial belaka. Grafitasi pembahasanya pada masalah sosial yang seakan terpisah jauh dari perkara agama.

Hampir sulit ditemukan ada yang melihat tragedi tersebut sebagai sebuah penistaan agama. Bagaimana mungkin orang beragama bisa lalai hingga ada yang mati dengan cara setragis itu? Ini cara beragama masyarakatnya seperti apa? Ini cara beragama para pemimpinnya bagaimana?

Tak banyak yang memaknai peristiwa memilukan itu dari sudut pandang keagamaan.

Agama kemudian “dikerdilkan” hanya perkara Alquran, haji, sholat, puasa dan sejenisnya. Padahal, apa di dunia ini yang tidak berhubungan dengan agama?

Kesempitan cara pandang tersebut kemudian membuat peristiwa-peristiwa seperti kisah tewasnya gelandangan itu tidak dimaknai sebagai penodaan agama. Sangat berbeda ketika Ahok –dibuat malaikat– keleso lidah di Pulau Seribu. Ramai-ramai orang tersinggung, merasa agamanya dinistakan.

Bahkan untuk masalah Ahok, seorang kenalan tiap hari berkoar meskipun ia tinggal ratusan kilometer dari Jakarta. Akan tetapi ia tidak tak peka terhadap penistaan agama yang terjadi hanya berjarak beberapa kilometer dari rumahnya. Karena penistaan agama yang ada dekat dirinya tersebut berupa pencemaran lingkungan.

Orang buang limbah ke laut itu kejahatan agama. Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan cenderung merusak tatanan hidup adalah perbuatan yang bertentangan dengan agama, bukan? Apa namanya jika bukan penodaan agama jika ada yang sengaja membuang limbah ke laut hingga ada ikan-ikan mati dan nelayan kesulitan mencari nafkah?

Mereka mengkalim diri sebagai anti sekuler, namun entah sengaja atau tidak malah bertidak seolah-olah penganut sekulerisme.

Saya bukan orang sekuler, karena saya tidak pernah mendikotomikan sesuatu dengan agama dan non-agama. Semua hal yang ada di dunia ini saya anggap punya koneksi dengan nilai-nilai religiusitas.

Planet-planet yang bergerak hingga sebutir debu yang terbang punya hubungan langsung dengan Tuhan. Nyawa manusia hingga nyawa seekor coro berada dalam koridor kekuasaan yang Maha Esa. Mulut bisa bicara hingga anus berak itu juga peritiwa yang sangat religius. Lantas apa yang tidak berhubungan dengan agama?

Hingga akhirnya, setiap laku kehidupan jika dalam cara pandang seperti yang saya sebutkan di atas akan selalu bisa bernilai ibadah. Masyarakat bikin negara hingga bikin gardu pos kampling adalah ibadah. Berzikir di Masjid hingga menolong semut yang tercebur air itu juga ibadah. Menulis surat lamaran kerja hingga menulis status facebook adalah laku ibadah. Bahkan setiap tarikan nafas bisa jadi pemicu romantisme spiritualitas seseorang.

Sehingga saya juga sempat heran ketika hari ini saya membaca sebuah meme yang menyebutkan jika dalam beribadah kita tak boleh kreatif. Ini tidak jelas ibadah yang mana yang tidak boleh ada kratifitas. Bukankah dia membuat meme itu sebuah ibadah? apakah menciptakan meme itu bukan kreatifitas?

Kalo yang dimaksud ibadah yang tidak boleh dikreatifi adalah ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa, haji dan beberapa yang lain saya setuju, itu memang tidak boleh ditambah atau dikurangi. Akan tetapi yang lain sudah pasti harus kreatif. Seperti buat meme dan kemudian di posting di media sosial adalah bentuk dari kreatifitas.

Saya kemudian jadi menduga-duga jika mungkin saja malaikat membuat Ahok keselo lidah di Pulau Seribu salah satu tujuannya adalah untuk mempertontonkan bagaimana masyarakat kita semakin sekuler. Semakin kuat tembok pembatas antara agama dan yang katanya non-agama.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here