Bendera

Ramai soal bendera belakangan ini membuat ingataan saya meluncur ke peristiwa ketika masih duduk di bangku SMP. Saya melihat seorang tentara hampir tempeleng remaja penonton sepakbola di lapangan kecamatan.

Pasalnya, anak desa ini meletakan bendera merah putih di bawah bendera tim kesebelasan desanya. Kayu panjang yang dia pakai mengibarkan bendera tersebut terikat dua bendera, dipaling atas atau ujung bendera tim sepakbola yang didukung, dan tepat di bawahnya bendera merah putih.

Tentara itu dengan suara lantang membentak si remaja desa. Nyaris bogem mentah melayang. Beruntung, tentara itu menyadari betapa remaja ini hanya anak kampung yang memang tak mengerti aturan.

Dengan nada tinggi, sang tentara memerintahkan remaja itu membalik posisi bendera itu. Merah putih berada di atas.

Raut muka penuh rasa takut dan menyadari ketololannya, remaja tersebut memenuhi perintah pria tegap berbaju loreng yang ada di depannya.

Kala itu, di sebuah kampung kecil, seorang serdadu berpangkat rendah memahami betul bagaimana cara bendera merah putih diperlakukan. Saat itu juga, remaja-remaja desa tumbuh besar tanpa pernah punya kesempatan menjamah informasi-informasi mengenai bagaimana berperilaku terhadap bendera harus langsung bertemu dengan pelajaran yang mungkin tak ia lupakan sepanjang hidupnya. Bahkan saya dan juga yang ada di lokasi tersebut juga akan mengingat momen dan menarik sebuah simpulan.

Kini, pada sebuah peradababan yang konon jauh lebih maju, pada sebuah wilayah yang katanya kota besar ternyata kejadian seperti di kampung saya itu terjadi lagi. Ketidakmengertian tentang bagaiaman cara berperilaku terhadap bendera merah putih.

Lelaki muda menuliskan lafal arab di bendera merah putik keta sedang demonstrasi. Dengan semangat membara untuk menunjukan cinta terhadap negara sekaligus ingin mendemonstrasikan kecintaannya kepada agama yang dipeluknya, ia melukis lafal tauhid di atas bendera. Tentu saja, letupan-letupan semangat tersebut yang kemungkinan membuat dirinya semakin jauh dari pemahaman mengenai bagaimana cara berperilaku yang benar terhadap simbol negara.

Harus diakui jika insiden tersebut kemudian menjadi ‘komuditi politik’. Isu ini lantas semakin runyam, sebab yang tertulis di bendera adalah lafal yang sangat identik dengan Islam.

Polisi reaktif, mereka segera beraksi, pelaku pembawa bendera bertulis arab itu berhasil diringkus. Sementara itu, aksi cepat polisi -sengaja- diterjemahkan sebagai upaya untuk mendzolimi Islam.

Lantas bertebaran foto-foto bendera yang juga di corat-coret. Diantaranya bendera yang bertuliskan “Metallica” dan juga “Slank”. Kemudian disusul munculnya pertanyaan sinis: “Kenapa kalau tulisan tauhid pelakunya ditangkap?”

Pertanyaan semacam itu tidak sepenuhnya salah. Pada frekuensi tertentu, pertanyaan tersebut ada benarnya juga.

Akan tetapi, pada kasus ini bagi saya tidak sampai seperti itu levelnya. Meskipun saya menyadari jika ada yang sedang berupaya menggiring insiden ini pada kondisi dimana Islam benar-benar didzolimi untuk kasus bendera.

Bendera yang ditulisi, dicorat-coret secara hukum salah. Jadi tidak perlu pembenaran apapun. Mau ditulisi “slank” ataupun lafal arab, tetap sama-sama salah jika dipandang dari sudut hukum.

Oleh karena itulah, sebaiknya tidak perlu mendebat terlalu jauh mengenai hal tersebut.

Jika memang perlu jadi sorotan adalah, kenapa saat konser Metallica ataupun Slank tidak ada aparat keamanan yang menyadari kekeliruan tersebut? Sementara serdadu berpangkat rendah di kampung saya puluhan tahun lalu memahami masalah bendera ini.

Jadi permasalahannya tentang kualitas aparat penegak hukum, sosialisasi undang-undang kepada masyarakat dan masalah sejenis lainnya.

Polisi berhasil mengamankan remaja yang menuliskan lafal arab di bendera adalah tindakan yang tak salah. Meskipun idealnya, mereka yang berperilaku serupa di waktu lampau juga diamankan. Meski demikian, perlu pertimbangan lebih lanjut, apakah benar-benar anak-anak muda ini ‘ditempeleng’? Ataukan seperti tentara di kampung saya itu, memberi pelajaran yang tak terlupakan tanpa harus ada yang dilukai?

Selanjutnya bercermin, kenapa sampai ada kejadian-kejadian seperti itu di lapangan, di mana saat itu ada aparat kepolisian. Karena sangat ironis jika ternayata banyak polisi juga tidak paham bagaimana meperlakukan bendera merah putih.

Juga pada mereka yang kini sedang membakar emosi dirinya menggunakan sentimen keagamaan sebaiknya menahan diri. Jika memang harus marah-marah, maka bisa juga dialihkan rasa marahnya, misalnya dengan merubah cara pandangnya.

Remaja yang sedang ditangkap polisi karena mencoret bendera itu bisa juga diterjemahkan sebagai tindakan menistakan agama, tidak hanya melukai simbol negara. Bagaimana tidak? lafal tauhid yang dianggap suci oleh umat Islam digunakan sebagai media melanggar hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here