Saya Kafir,

Kata kafir punya tendensi yang sangat menyeramkan, gelap, negatif dan begitu cela. Padahal, menurut saya tidak sepenuhnya demikian. Tak ada yang beban berat apapun dari kata kafir.

Bagi saya, orang Hindu, Budha, Kristen dan sebagainya selain Islam adalah kafir. Begitu pula sebaliknya, bagi orang Kristen saya kafir. Jadi apa persoalannya?

Seseorang jadi Hindu karena menolak keyakinan mengenai Islam. Saya jadi muslim pun otomatis tidak percaya dengan ajaran Budha. Lantas apa masalahnya?

Bahkan kalau mau berbangga-bangga diri, saya senang jika dikatakan kafir oleh orang Kristen. Artinya saya tidak percaya Kristen. Dengan kata lain, tidak ada distorsi keyakinan saya tentang Islam.

Saya juga menyarankan kepada para sahabat-sahabat saya yang Kristen, bersyukurlah jika ada teman beda agama yang menyatakan anda kafir, karena itu menunjukan bahwa anda benar-benar Kristen.

Meskipun dalam koridor sebagai manusia biasa, klaim kafir dari sesama manusia tidak sepenuh mencerminkan pendapat Tuhan. Jadi, rasa bangga saat dikatai kafir oleh mereka yang beda keyakinan juga jangan keterlaluan. hehehee

Konsep berfikir seperti ini yang membuat saya sama sekali tidak gundah apalagi sampai marah ketika dikatai kafr oleh orang lain. Termasuk jika ada teman muslim yang mengatakan saya kafir pun saya tidak khawatir.

Dalam berbagai diskusi, sudah tidak terhitung saya dianggap kafir, sesat dan sebagainya oleh orang yang katanya mengaku Islam. Kebanyakan mereka yang menganggap dan menuduh saya kafir adalah orang yang dalam kehidupan nyata tidak mengenal diri saya. Mereka hanya menilai dari penggalan-penggalan pernyataan saya, itupun disalahpahami.

Saya sendiri termasuk hamba yang tak pernah punya nyali untuk mencuri kewenangan Tuhan dalam menentukan seorang muslim telah kafir atau tidak. Itu sebabnya saya sering kagum dengan sahabat-sahabat saya yang muslim yang menuduh saya kafir. Karena, butuh keberanian tingkat tinggi untuk mengambil alih kuasa Tuhan.

Kata kafir itu ringan-ringan saja bagi saya pribadi, jika itu datangnya dari pihak luar yang tak mengerti diri saya. Tentu saja tekanannya sangat beda jika yang menganggap saya kafir adalah bapak saya atau guru saya yang mengetahui jalan pikir serta laku saya.

Lebih jauh, menurut seorang guru, Mbah Nun, kata kafir pun tidak berdiri sendiri. Tidak bisa hanya mengatakan “kamu kafir”, titik. Harus diperjelas, kafir kepada apa?

Saya kafir, kafir terhadap setan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here