Pulau Jokowi

Sekitar setahun yang lalu seseorang teman posting foto dirinya sedang berwisata di sebuah pantai di Jember. Ia menuliskan jika tengah berada di Teluk Love. Sebuah tempat yang berada di area paling timur Pantai Payangan, Jember. Dinamakan Teluk Love karena memang jika dilihat dari Bukit Domba, teluk tersebut seolah-olah membentuk lambang hati, love.

Ketika itu saya bertanya kenapa dinamakan Teluk Love? Sudah pasti saya memahami jika bentuknya tersebut yang melatarbelakangi kata “Love”, akan tetapi apakah tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang lebih pas untuk menggambarkan lokasi tersebut?

Apakah tidak bisa mempergunakan “Teluk Cinta”, “Teluk Asmara” dan lain sebagainya?

Hal ini bukan dalam kerangka rasa anti terhadap bahasa asing, namun jika menyangkut identitas suatu hal yang ada di bumi Indonesia, maka alangkah eloknya jika menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Kecuali memang tak kita temui padanan kata yang cocok dengan bahasa nusantara.

Media juga sering terjebak dalam hal-hal seperti ini. Sangat sering kita membaca atau mendengar pembawa acara sepakbola menyebut “coach”, padahal kata “pelatih” sama sekali tidak negatifnya.

Contoh lain, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Palembang dan juga di Jawa Barat, baik media maupun pejabatnya lebih suka menyebut kata “venue”. Padahal kita punya banyak padanan kata untuk itu. Sebut saja arena, gelanggang, lapangan, kawasan, lokasi dan berderet kata lain yang sangat Indonesia.

“Nah, untuk PON XIX 2016 yang akan digelar di Jabar, kami akan semaksimal mungkin menyediakan venue yang baik, meskipun venue di Jabar terpisah-pisah,” kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), Senin (15/1/2015), dikutip dari sindonews.com.

Sekali lagi, ini tidak tentang anti terhadap bahasa asing, namun demi anak cucu dan demi kedaulatan indentitas diri maka alangkah bijaknya kita pergunakan bahasa negeri ini.

Nenek moyang kita punya pertahanan yang luar biasa terhadap kebudayaanya, dalah hal ini soal bahasa. Bayangkan saja, 350 tahun kita di jajah Belanda, namun bahasa bangsa penjajah tersebut tidak dipakai oleh umumnya masyarakat saat itu hingga sekarang.

Silahkan bandingkan sendiri dengan negara-negara lain yang kebanyakan bahasa bangsa penjajah masih melekat hingga saat ini. Indonesia tidak, nusantara punya tembok tebal dalam mempertahankan jatidirinya.

Lantas, apakah kemudian kita sekarang dengan suka cita meninggalkan budaya bangsa sendiri?

Atas hal ini pula, rasa prihatin meningkat ketika akhir-akhir ini ketika mendengar berita tentang adanya rencana pemerintah, melalui pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan yang mempersilahkan pihak asing memberi nama pulau di kawasan Indonesia.

Dengan dalih menarik investasi dan bisnis, Luhut mempersilahkan negara asing mengelola sendiri suatu pulau, termasuk dalam pemberian nama.

“Kelihatannya Singapura berminat, Jepang berminat. Jepang malah minta, boleh enggak kita punya satu daerah sendiri, dari orang-orang Jepang-nya, ya silahkan saja,” kata Luhut, dalam briefing dengan media di kantornya, Senin (9/1/2017), seperti diwartakan oleh viva.co.id.

“Jadi apa masalahnya, kita enggak jual pulau kok, tapi kau enggak boleh beri (nama) Belitung, kecuali kau kasih nama Yokohama pun suka-suka kau itu, tapi pulau itu masih milik orang Indonesia bukan punya Jepang,” lanjutnya.

Indonesia memang saat ini memiliki ribuan pulau yang belum diberikan nama resmi. Namun apakah kita kehilangan daya untuk kemudian mempelajari sejarah serta menelaah kearifan lokal setempat untuk sekedar memberi nama?

Ini bukan sekedar bisnis, ini tidak hanya soal kedaulatan yang dibaca dari sebuah legalitas kepemilikan pulau. Nama adalah sebuah sejarah, catatan panjang kebelakang dan juga kedepan untuk anak cucu kita nantinya.

Bukankah karena nama Tangkuban Perahu kita mengenal cerita-cerita kedaerahan yang kemudian membantu anak turun kita masuk jauh kebelakang, mengenal nenek moyangnya? Serta banyak sekali nama-nama lain yang akhirnya jadi sebuah media mengingat masa silam atau mungkin sekedar sebagai wadah untuk mengumbar romantisme dengan para leluhur.

Daripada memberi nama Pulau Yokohama, maka akan lebih baik menggunakan nama Pulau Jokowi. Sebab ketika 20 atau 30 tahun yang akan datang, jika anak atau cucu kita bertanya tentang kenapa nama pulau tersebut Jokowi, maka dengan bangga orang menjawab jika Jokowi adalah presiden yang membuat pulau tersebut jadi tempat wisata yang indah, membuka jutaan lapangan pekerjaan untuk rakyat dan dicintai oleh warga setempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here