Kiriman Terakhir

132 views

Perahu itu merapat ke dermaga. Gelap gulita, tak ada bintang ataupun rembulan, hanya lampu-lapu kecil di sepanjang dermaga yang panjangnya tak lebih dari sepuluh meter menjorok ke laut.

Wanita muda berwajah pucat, bibirnya membiru dipaksa untuk segera turun dari perahu oleh dua orang pengantarnya.

Sementara itu, dua lelaki bebadan tegap yang berdiri di dermaga segera menarik tangan wanita berambut panjang tersebut. Selanjutnya, dua lelaki itu tanpa banyak berkata menggiring tamu barunya tersebut berjalan menyusuri dermaga.

Sunyi, tak ada banyak suara hingga akhirnya ketiganya sampai ke sebuah bangunan.

Dibuka pintu dan kemudian wanita tersebut dipersilahkan duduk di sebuah kursi lipat yang nampak sudah berkarat.

Tidak sendirian, di ruangan yang tak terlampau luas itu banyak orang yang kondisinya hampir serupa. Tak ada yang bicara dan semuanya bermuka pucat serta bibirnya membiru.

Suasana hening itu sesekali dipecahkan oleh seorang petugas yang keluar dari sebuah pintu kemudian menunjuk satu diantara mereka. Ia lantas mengajak orang yang ditunjuknya itu masuk ruangan lainnya.

“Hei, kamu!” teriak petugas sambil menunjuk ke perempuan tadi. “Iya, kamu yang rambut panjang” tambahnya, mempertegas siapa yang sebenarnya dia panggil. “Ke sini kamu, ikut saya” perintahnya.

Setelah masuk, perempuan itu mendapati sebuah meja besar berwarna hitam. Di atas meja itu ada tumpukan-pumpukan kertas. Di ujung meja ada seorang lelaki berkulit hitam berpakaian rapi sedang duduk.

“Nama?” tanya petugas itu sembari membuka-buka beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.

“Sartini, pak” jawabnya, getaran suaranya menandakan dia sangat ketakutan.

Penanya lantas manggut-manggut sambil terus membaca lembaran-lembaran yang dipegangnya.

“Pendidikan terakhir?” tanyanya lagi.

“Anu…” Sartini kebingungan untuk menjawab.

“SMP ya?” katanya lagi sambil terus membaca kertas, hanya sesekali melirik ke Sartini. “oh, ternyata SMP cuma sampai kelas dua. Artinya kamu lulusan SD”

Sartini mengangguk pelan, dia semakin ketakutan.

“Lulusan SD, mau jadi apa kamu?” kata petugas dengan nada setengah mengejek.

Sartini hanya mampu merunduk lesu, rasa takutnya semakin meningkat. Keringat dingin membasahi kening dan lehernya.

“Ya sudah, saya akan coba jelaskan beberapa hal penting,” kali ini, lelaki itu menampilkan wajah yang cukup serius.

“Kamu akan tinggal di pulau ini sampai nanti ada perintah dari boz besar untuk memberangkatkan kamu ke tempat tujuanmu. Selama tinggal di sini, kamu harus bekerja sesuai dengan arahan dan perintah para petugas yang ada di sini,” lanjutnya.

Pria itu lantas membenahi tempat duduknya sembari menatap tajam Sartini.

“Jangan membantah apalagi membangkang setiap perintah jika tidak ingin menerima hukuman”

Sartini semakin ketakutan. Badannya gemetar, wajahnya tertunduk semakin dalam tanpa pernah berani untuk melihat wajah lelaki yang sedang mengajaknya bicara tersebut.

“Selanjutnya, kamu tidak boleh berhubungan dengan siapapun saja selain yang ada di pulau ini. Tidak ada lagi komunikasi dengan keluarga atau siapapun saja di luar sini” lanjutnya.

“Maaf pak, kira-kira sampai kapan saya tinggal di sini?” Sartini tiba-tiba memberanikan diri untuk melayangkan pertanyaan.

“Kan sudah saya bilang, tunggu perintah bos besar! bisa besok, bisa 100 hari atau bisa juga 100 tahun” Petugas itu membentak. “Kamu jangan banyak tanya, dengarkan saja apa kata-kata saya! mengerti?” suaranya semakin meninggi.

Sartini mengangguk, gemetar.

“Setelah saya pelajari berkas-berkasmu, saya tempatkan kamu di Barak Z. Di sana tempatnya orang-orang kelas tolol macam kamu ini, nanti kamu bisa lihat sendiri apa-apa yang harus kamu kerjakan”

Tak lama berselang datang dua petugas yang siap membawa Sartini keluar dari ruangan itu. Tubuh Sartini didorong dengan kasar hingga hampir jatuh. “Pergi ke sana!” bentak petugas itu sambil menunjuk sebuah pintu. Pintu yang berbeda dengan pitu tempat Sartini masuk.

Matahari begitu terik. Panas membakar kulit Sartini yang sedang mencangkul tanah. Ia tak sendirian, beberapa orang melakukan pekerjaan yang sama, baik itu lelaki ataupun perempuan.

Deretan orang mencangkul itu diawasi oleh beberapa petugas berwajah seram. Mata mereka menyorot tajam, mengawasi gerak gerik para pekerja. Sesekali mereka membentak jika melihat ada yang mereka anggap tak sesuai dengan perintah.

Tidak hanya membentak dan berteriak, para petugas tersebut juga siap menghatamkan tongkat panjang yang mereka genggam. Tongkat rotan sepanjang satu meter itu siap mendarat di punggung ataupun kaki para pekerja yang mereka anggap malas-malasan atau membantah.

“Mbak, saya lapar” Bisik Sartini pada Mbak Maya disampingnya.

“Emangnya kamu sudah tidak dapat kiriman?” tanya Mbak Maya sembari terus mencangkul dan sesekali matanya melirik ke pengawas. Dia takut, jangan sampai obrolan itu terdengar oleh petugas yang bisa berakibat punggungnya memar-memar tak karuan karena hantaman tongkat rotan.

“Sudah tidak mbak, sejak dua hari ini ibuku dan anaku sudah tidak mengirim makanan ke sini”

Memang, semenjak hari pertama Sartini datang ke pulau penampungan tersebut, ia selalu mendapatkan kiriman makanan ke kamarnya. Petugas mengatakan jika kiriman itu berasal dari sanak keluarganya.

Biasanya, makanan dan juga surat diantarkan pada malam hari. Meski demikian, tidak satupun yang pernah mengetahui bagaimana kiriman tersebut bisa sampai ke pulau terpencil itu.

“Emangnya kamu disini sudah berapa hari?” Tanya Mbak Maya lagi.

“Sembilan hari, Mbak”

“Oh, pantes” kata Mbak Maya kemudian disusul dengan senyum penuh arti.

“Hei! Kamu! Jangan bicara kalau kerja!” suara itu mengagetkan Sartini dan Mbak Maya. Selanjutnya sebuah suara khas yang membuat Mbak Maya menjerit, merintih. Tongkat rotan pengawas mengntam keras di punggung Mbak Maya.

Sartini menuliskan sebuah tanda di tembok kamarnya, sebuah deretan seperti gambar pagar bambu. Dari barisan garis yang digambarnya menunjukan jika malam ini adalah hari ke 40 ia berada di pulau yang membuatnya tersiksa.

“Bu, saya lapar” keluh Sartini dalam hati, seolah dia merengek pada Ibunya di kampung.

“Kenapa Ibu, suami dan anaku tak lagi mengrimkan makanan kepadaku? bahkan kalian tak lagi sudi untuk berkirim surat kepadaku? Kenapa hanya diminggu pertama saja kalian mengirimkannya? Apakah kalian tak tahu, makanan yang diberikan petugas sangat menjijikkan, bahkan tikus pun tak mau memakannya? Apakah kalian tidak tahu, jika aku disini tersiksa, bekerja kasar layaknya binatang?”

“tok.. tok.. tok…” Suara ketukan pintu membuyarkan gelisah Sartini.

Sebuah celah di bagian bawah pintu terbuka. Celah ini biasanya di pakai petugas untuk memasukkan jatah makanan.

Sartini terperangah setelah melihat apa yang keluar dari celah itu. Ayam goreng, sate kambing dan beberapa makanan kesukaannya.

“Ini kiriman dari keluargamu” terdengar suara dari balik pintu.

Malam ini Sartini pun tidur dengan perut kenyang. Ia seperti lupa jika esok ia harus kembali bekerja dan menjalani siksaan demi siksaan yang tak pernah ia ketahui ujungnya.

“Berbaris yang rapi!” teriak seorang petugas. “Hari ini kita akan kerja di sektor 12”

Sejurus kemudian kerumunan pekerja itu berbaris memanjang dan berjalan menuju tempat yang telah ditunjukan oleh petugas tadi. Berjalan lambat, bebaris seperti semut.

Barisan tersebut berjalan pelan menuju sebuah area yang di ujung pulau. Pada perjalanan tersebut, rombongan di mana Sartini juga ikut serta, melewati sebuah taman yang indah. Di taman yang penuh bungan dan tanaman segar itu berkumpul orang-orang berwajah gembira.

“Mbak, mereka yang ada di taman kok tidak kerja seperti kita?” tanya Sartini pada Mbak Maya yang berada tepat didepannya.

Mbak Maya menoleh ke arah taman. “Oh, mereka itu orang-orang yang beruntung, pendidikan tinggi dan pintar. Mereka hidup enak di sini, nanti juga bakalan kerja yang nyaman,” jelasnya sambil matanya terus waspada pada pengawas, dia tak mau tongkat hitam menghantamnya lagi.

“Mereka makan enak terus ya, Mbak?”

“Iya. Mereka tiap hari dapat kiriman makanan dari anak-anak dan keluarganya. Tidak hanya keluarga, mereka juga tak jarang dapat kiriman makanan dari orang-orang yang pernah berhutang budi pada mereka. Selama di sini, hidup mereka terjamin.”

“Oh gitu ya Mbak”

“Plak!”

Sebuah pukulan tongkat hitam mendarat telak di leher belakang Sartini. Badan Sartini terhuyung, roboh dan dari mulutnya memuntahkan darah.

Ini malam ke seribu Sartini mendekam di pulau petaka ini. Mata Sartini menatap cemas lubang di pintu tempat petugas memasukkan makanan ke kamarnya.

“tok… tok… tok…” ketukan pintu, sebuah ritual sebelum petugas memasukan makan itu telah membuat jantung Sartini berdetak semakin kencang. Dia teringat kata Mbak Maya. Sahabatnya tersebut pernah bilang jika di hari ke seribu keluarga kita akan mengirimkan makanan, yang membuat Sartini ketakutan adalah pesan Mbak Maya bahwa kiriman di hari ke seribu itu adalah kiriman terakhir. Biasanya orang-orang di Barak Z, di kelas orang tolol tidak akan pernah ada lagi kiriman. Kalaupun ada, sesekali sewaktu akan lebaran.

“Ini ada kiriman dari keluargamu” suara bersumber dari balik pintu itu membuat air mata Sartini meleleh.

Dari lubang itu keluar berbagai makanan enak. Rasa lapar Sartini tak bisa tertahan, terakhir dia makan enak kiriman keluarganya pada hari ke-seratus. Dibalik lahapnya dia menyantap kiriman itu, air matanya terus mengalir deras, kesedihan total saat mengetahui ini adalah makanan enak terakhirnya, kemungkinan besar tak ada lagi kiriman makanan buatnya. []

Cerpen ini pernah dipublish di: kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here