Kanjeng Nabi Bukan Alien

Saya pernah dicurigai sebagai antek liberal dan anti-Arab ketika di suatu diskusi yang didominasi oleh mereka yang bercelana cingkrang. Pasalnya, saya menyatakan agar teman-teman yang mengamalkan sunnah Rosul berupa pakaian atau celana di atas mata kaki untuk tidak menilai negatif kelompok masyarakat yang bercelana panjang.

Sebaliknya, saya juga sempat dicap sebagai orang kolot dan sejenisnya, tatkala di sebuah perbincangan para pemakai celana panjang yang sedang mencibir mereka yang memilih untuk bercelana cingkrang. Saya menyarankan kepada mereka untuk menggerus segala curiga terhadap mereka yang bercelana cingkarng tersebut.

Bagi saya, kedua kelompok ini sama-sama mencintai kanjeng Nabi Muhammad SAW, cuma cara dan pengejawantahannya di dunia nyata berbeda.

Mereka yang sedang bercelana cingkrang sejatinya punya niatan yang begitu mulia, yakni meneladani Rasulullah. Mereka meniru hingga sampai gaya berpakaiannya. Cara makan dan minumnya.

Saya sebagai sesama muslim punya ‘kewajiban’¬†untuk berharap dan berdo’a agar mereka juga melanjutkan sampai ke meniru gaya bicara Kanjeng Nabi, cara memperlakukan tetangga, lawan politiknya hingga cara menyayangi alam semesta.

Jadi Inilah yang selalu saya sampaikan kepada kelompok sahabat saya yang non-celana cingkrang. Saya mengajak mereka untuk memahami bahwa sebenarnya yang bercelana ala Nabi tersebut sedang jatuh cinta dengan kekasih Allah, Muhammad SAW. Apa tega kita mencibir mereka yang sedang mencintai Kanjeng Nabi Muhammad?

Jikapun sampai akhirnya disuatu ruang dan waktu yang lain saya juga ikut berbincang dalam diskusi mereka yang bercelana cingkrang, sebenaranya sekedar menawarkan prespektif lain agar mereka tidak kehabisan energi untuk mencurigai kelompok diluar mereka yang dianggap tidak ‘nyunnah’.

Mereka yang tak bercelana seperti Nabi sebanarnya boleh diteropong menggunakan sudut pandang sebagai pecinta Rasulullah juga.

Kanjeng Nabi Muhammad turun di tanah Arab, lantas berpakainnya layaknya orang Arab kebanyakan.

Jika saja boleh beradai-andai, maka bagaimana kalau Nabi Muhammad turun ke tanah jawa di periode Singasari misalnya? Apakah beliau juga tetap berpakaian berdasarkan dengan budaya Arab?

Kanjeng Nabi datang ke sebuah kaum tidak sebagai Alien. Beliau membaur sebagaimana umat tempat beliau di turunkan. Pakaiannya sama persis dengan orang-orang sekitar meskipun tetap punya patokan utama berupa aturan menutup aurat.

Jadi, teman-teman yang sedang berpakaian tidak seperti kanjeng Nabi secara tekstual, secara lahiriah, bisa kita terjemahkan sedang berupaya meniru Rasulullah dari sisi sikap beliau yang tidak berupaya berbeda dengan kebudayaan dan perilaku masyarakat tempat dia lahir dan tinggal.

Maaf, mohom jangan ngomong pakai parameter dalil dulu, mari merangkul dan memandang mereka dari sudut cinta kasihnya kepada junjungan kita bersama, Muhammad SAW.

Lantas jika sama-sama sedang mencintai Kanjeng Nabi, pantaskan saling menjelekan? saling mengolok dan merendahkan satu sama lain?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here