Bener dan Pener

Bermula dari obrolan di group whatsapp (WA) tentang sebuah kabar yang dikirim oleh seorang teman dan ternyata berita tersebut hoax, saya berpesan agar dalam menyebarkan informasi perlu kehati-hatian.

“Yang penting niatannya untuk membantu sesama…” timpal seorang teman lainnya.

Pernyataan tersebut lantas membuat saya teringat sebuah wejangan dari salah seorang guru. Ia berpesan jika berbuat sesuatu itu tidak sekedar bener, tetapi juga ‘pener‘.

Saya sendiri tidak mampu mendefinisikan kata ‘pener‘ ini secara sempurna. ‘Pener‘ dalam bahasa jawa yang saya pahami adalah sebuah kebenaran yang memiliki tingkat presisi yang cukup tinggi terhadap faktor-faktor lainnya.

Benar sejatinya bukan puncak dari berbagai dialektika sosial. Pada kenyataanya kita sering diperhadapkan pada kondisi di mana dituntut tidak hanya bener atau salah.

Ada dimensi lain yang juga mengiringi setiap peristiwa. Selain bener-salah, kita akan diperhadapkan pada pantas atau tidak pantas, wagu atau tidak, indah ataukah jelek, mudharat atau manfaat dan lain sebagainya.

Jadi, saya selalu menempatkan kebenaran bukanlah puncak dari segala hal. Meskipun sering saya tempatkan sebagai pusat grafitasi atas segala hal.

Dalam kebudayaan jawa, sesuatu tidak sekedar ditakar dari benar dan salah. Jawa memiliki ‘pener‘ yang levelnya lebih tinggi dibandingkan bener.

Jawa juga memiliki istilah ‘mpan papan‘ yang juga mirip atau serupa dengan ‘pener‘. Mpan papan ini sebuah idomatik mengenai peristiwa, benda atau keadaan yang posisinya tepat dengan kondisi yang ada.

Meletakan sepatu di kaki, topi di kepala itu mpan papan. Semahal-mahalnya harga sepatu, ia menemukan derajat tertingginya ketika dipakai di kaki, bukan di kepala. Topi juga demikian, seindah-indahnya topi, ia akan kehilangan martabatnya sebagai topi jika ditaruh di pantat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here