Demokrasi Berpenyakit

Semalam, Jum’at (10/2/2017) adalah debat terakhir untuk para Calon Gubernur DKI Jakarta. Tidak sepenuhnya saya menonton, hanya beberapa penggalan-penggalan yang saya dengar. Iya, hanya mendengar karena saya mengikuti debat tersebut sembari main Playstation.

Bagi saya, bagian yang cukup menarik adalah pertanyaan moderator di akhir acara. Alfianto meminta ketiga pasangan tersebut untuk menyampaikan keunggulan rivalnya.

Jawaban dari ketiga kontestan Pilkada Jakarta tersebut membuat saya menarik sebuah kesimpulan jika sebenarnya dalam sebuah perhelatan politik semacam Pilkada, rakyat tak pernah menjadi prioritas utama.

Ketiga pasangan tersebut tidak ada satu pun yang berani dengan terbuka mengungkap kebaikan rivalnya. Mereka tidak tahu, tak pernah eksplrorasi atau ada sejenis ketakutan jika pasangan lain nampak lebih unggul.

Djarot Saiful Hidayat sebagai pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak berani menyatakan dengan gamblang mengenai kebaikan-kebaikan pasangan lain.

Anies Baswedan yang memang punya kelebihan dalam meracik kata-kata pun sebenarnya menjawab secara diplomatis pertanyaan moderator. Ia tak cukup punya nyali dalam mejawab pertanyaan yang sebenarnya sederhana tersebut.

Agus Yudhoyono pun setali tiga uang. Ia memuji pasangan lainnya akan tetapi memberikan catatan negatif setelahnya. Catatan negatifnya terhadap rival lebih panjang dibandingkan sisi positif yang ia ungkapkan.

Bagi saya, ini bukan soal siapa diantara ketiganya yang lebih unggul. Saya hanya meneropong dari sisi perilaku para politikus yang sedang berjuang menjadi pemimpin rakyat ini dalam berkompetisi.

Boleh jadi, jawaban-jawaban semacam itu sangat wajar dan mungkin bernilai bagus jika dipandang dari kacamata strategi atau komunikasi politik. Akan tetapi sebagai rakyat biasa, saya memandang pemimpin dari kejernihan hati dan kerelaan diri ketika mendapati ada sosok lain yang lebih cocok buat rakyat dibanding dirinya. Maka saya akan melihat perdebatan-perdebatan tersebut adalah panggung untuk mempertontonkan kebusukan calon pemimpin.

Demokrasi yang berpenyakit seperti ini yang kemudian melahirkan pemimpin penuh coreng di hadapan rakyatnya sendiri. Meski terpilih, wajah mereka menjadi buruk lantaran proses yang dilaluinya penuh dengan caci maki, saling hina dan umbar aib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here