Perilaku Muslim dan Pandangan Mahasiswi Cina

Umat Islam di dunia menghadapi sebuah keniscayaan mengenai pandangan negatif dari orang-orang non-muslim. Terutama mereka yang berasal dari negara yang secara ‘kultur’ jauh dari Islam. Tidak hanya yang orang-orang dari benua Amerika ataupun Eropa, mereka yang berasal dari daratan Asia pun banyak yang mengenali Islam secara keliru.

Tak bisa dipungkiri, peran media serta memang perilaku sebagian orang yang mengatasnamakan Islam dalam beberapa dekade terakhir membuat mereka yang tak pernah bersentuhan langsung dengan orang muslim jadi salah paham tentang Islam.

Banjirnya informasi di berbagai media serta munculnya kelompok-kelompok teroris dengan bendera Islam semakin memperburuk citra serta memperlebar jurang kesalahpahaman.

Maka saya sendiri sangat maklum jika bertemu dengan siapaun saja yang non-muslim, terutama ketika di daerah yang bukan mayoritas muslim, kemudian saya ‘diperlakukan’ secara khusus.

Entah ditanya-tanya atau minimal saya bisa membaca jika mereka menyelipkan rasa penasaran dan bahkan kecurigaan terhadap saya.

Mereka tak sepenuhnya salah, karena memang mereka tak tahu.

Saya sendiri berpendapat jika menjelaskan kepada mereka secara verbal butuh waktu yang cukup lama, perlu diskusi panjang karena di dalam benak mereka sudah tertumpuk-tumpuk informasi negatif mengenai Islam.

Saya pribadi memiliki kepercayaan mengenai kekuatan perilaku sedikit lebih baik dibandingkan penjelasan verbal yang berbuih-buih.

Keyakinan saya tersebut sedikit terbukti ketika berada di Kumamoto. Di sana saya mengamati beberapa orang non-muslim yang beberapa kali bergabung dengan teman-teman komunitas muslim asal Indonesia.

Sekedar bincang-bincang ringan dan becanda serta mencicipi masakan khas Indonesia.

Ternyata berdasarkan pengakuan mereka, pertemuan dan pengalaman mereka bertemu dengan komunitas muslim membuatnya tersadar akan kekeliruannya mengenai agama Islam.

Seorang mahasiswi asal Cina yang berteman dengan salah satu mahasiswi asal Indonesia bercerita bagaimana sahabatnya yang muslim tersebut membantunya saat berada dalam kesulitan.

Ia juga mengatakan jika pengalamannya bersama-sama muslim Indonesia membuat pandangan mereka mengenai muslim berubah. Perempuan muda itu terkesan dari hubungan persaudaraan serta interaksi antar muslim yang ia saksikan sendiri.

Padahal, ia belum pernah sama sekali berbincang mengenai Islam itu seperti apa. Tidak bertanya, pun tidak ada yang menjelaskan kepadanya secara verbal tentang apa itu Islam. Kalopun ada, itu tidak banyak dan sama sekali tak mampu menjelaskan Islam secara luas.

Hal ini semakin menguatkan keyakinan saya jika perilaku yang Islami jauh lebih efektif dalam menjungkirbalikan stigma negatif orang-orang non-muslim terhadap Islam.

Kita berbuih-buih menjelaskan mengenai Islam yang rahmatan lil alamin, namun tak pernah memperlihatkannya dalam perilaku keseharian, maka itu sama saja bohong.

Ketika sebagian muslim mengeluhkan media-media barat yang terus menerus menyudutkan Islam. Maka sebagai muslim yang tak punya kekuatan apapun dalam mengendalikan transportasi informasi dunia bisa membantu memulihkan nama baik Islam dengan jalan berperilaku secara Islami.

Simak penggalan pengakuan mahasiswi Cina yang sempat terekam oleh kamera saya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here