Undokai, Kemenangan Tanpa Perlu Piala

392 views

Undokai adalah Hari Olahraga yang diiukti oleh para pelajar Jepang, mulai tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar hingga SMP. Tahun 2016 adalah pertama kali anak saya, Hallanahla yang duduk dikelas Yuri (kelas ke 2 di TK) turut serta dalam kegiatan tahunan tersebut.

Kegiatan ini mungkin semacam Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) sewaktu saya masih sekolah dulu. Entah, apakah sekarang masih ada Porseni?

Ada banyak hal yang menjadi catatan saya mengenai Undokai yang diikuti anak saya yang masih berusia 4 tahun itu. Mulai dari tekhnis penyelenggaraan hingga bentuk apresiasi terhadap pesertanya.

Pelajaran pertama yang cukup menarik bagi saya adalah keterlibatan orangtua siswa. Undokai di Yochien (TK) hampir sepenuhnya berjalan atas partisipasi orangtua murid dan guru. Kalaupun ada orang luar hanya satu saja, yakni sopir truk pengangkut peralatan dari kelolah ke lokasi. Itupun yang menaikan dan menurunkan barang tanpa ada kuli, semuanya orangtua murid dan guru.

Pagi hari, sebelum pukul 08:00 orang tua murid yang laki-laki sebagian sudah berada di sekolah untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dinaikan ke truk. Sebagian malah ditaruh di gerobak atau sekedar ditenteng, jalan kaki ke lokasi Undokai yang berjarak sekitar 300 meter dari sekolah.

Pelaksanaanya juga orangtua terlibat. Panitia penyelenggara, mulai yang mengambil peralatan saat lomba, mendirikan tenda, membikin garis lapangan, mempersiapkan kostum juga orangtua murid yang telah dibagi-bagi tugasnya.

Hal kedua yang menjadi perhatian saya adalah soal keseriusan. Meski ini “hanya” sebuah perlombaan tingkat sekolah, internal antar teman, namun dipersiapkan dengan sangat serius. Anak-anak bahkan diajak latihan sejak sebulan sebelum hari H. Panitia (orangtua murid) juga harus melakukan gladi resik, beberapa hari sebelum Undokai dimulai.

Awalnya saya menduga ini sekedar acara anak TK, jadi akan dilaksanakan apa adanya. Jikapun ada salah-salah tak akan jadi soal, anak TK mengerti apa?

Ternyata saya keliru, para guru dan pihak sekolah sungguh-sungguh dalam mempersiapkannya. Bahkan setiap panitia diberikan tugas secara tertulis secara detil. Misalnya saya pada lomba pertama harus ambil apa atau melakukan apa. Penyelenggara seakan tak ingin ada kesalahan dalam setiap perlombaan.

Pelajaran ketiga yang cukup berkesan adalah kemampuan para guru dalam menyemangati siswanya untuk berlomba. Bocah-bocah ini seperti sedang memperebutkan hadiah yang cukup besar, hingga setiap pertandingan mereka ikuti penuh keseriusan.

Anak saya, bahkan pada lomba lari ke dua dalam kondisi lutut yang berdarah-darah. Ia tetap semangat berlari dan memenangkan perlombaan tersebut.

Pada awalnya saya mengira anak saya akan mendapat medali atau sejenisnya atas dua kemenangan yang diraihnya. Nyatanya tidak. Semua siswa yang ikut Undokai mendapatkan medali yang sama, tak ada beda antara yang menang dan kalah.

Hal ini yang membuat saya bingung. Ini gurunya memberi semangatnya seperti apa? Menang kalah tak ada beda. Anak saya yang menang senang serta yang kalah pun tidak sedih. Semangat yang menggebu-gebu sewaktu lomba seperti hilang begitu saja selepas berakhirnya acara. Semua berubah menjadi kegembiraan.

Saya jadi menghanyal, seandainya Pilkada atau Pilpres dilaksanakan dengan semangat seperti ini. Menang tak busungkan dada, kalah tak perlu sedih dan kecewa.

Undokai memberikan banyak pelajaran buat saya, termasuk kesabaran karena setelahnya anak saya lututnya bonyok, hampir seminggu jadi manja.

…Undokai, Sekidai Yochien…

Posted by Lazuardi 'yoan' Ansori on 2016 m. spalis 11 d.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here