Wahai Rakyatku

Edhie Baskoro Yudhoyono yang selama ini akrab disapa Ibas jadi perhatian publik beberapa waktu yang lalu. Putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut jadi bulan-bulanan netizen lantaran cuitannya yang dinilai kurang pas.

Menanggapi polemik politik yang cukup memanas menjelang Pilkada DKI Jakarta, dimana salah satu kontestannya adalah kakak kandungnya, Agus Hari Murti Yudhoyono, Ibas menuliskan pernyataan di twitter yang memancing pergunjingan warga pengguna media sosial.

“Wahai Rakyatku & Saudara”ku. Janganlah kita larut dlm Demokrasi yg Menyesatkan (Fitnah). Masih bnyk cara yg lebih Ksatria menuju satu tujuan” tulis Ibas di twitter, Selasa (14/2/2017).

Kata “rakyatku” yang menjadi sorotan banyak orang. Terkesan ada yang kurang tepat dengan kata itu pada sistem sosial yang ada saat ini.

Saya sendiri sebenarnya tidak berani membuat kesimpulan bahwa kalimat Ibas itu salah. Parameter saya bukan salah atau benar, akan tetapi lebih ke arah pantas atau tidak, wagu atau sudah tepat.

Bisa jadi tidak salah, karena dia tercatat pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Merasa sebagai wakilnya rakyat, maka ia menyapa orang-orang yang memilihnya dengan sebutan “rakyatku”.

Namun jangan dipersalahkan juga jika kemudian banyak protes dengan sapaan yang lontarkan Ibas tersebut. Menyebut “rakyatku” memang terasa sebuah kepongahan serta berada posisinya lebih unggul.

Rakyat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti penduduk suatu negara, orang biasa, pasukan atau anak buah. Dengan menyematkan akhiran -ku, seolah-olah sedang menyatakan kepemilikan.

Pada era demokrasi semacam ini, rakyat memang memilih perwakilannya di sistem kenegaraan, mereka memilih pemimpinnya. Akan tetapi perlu diingat, bahwa rakyat dalam sebuah sistem demokrasi bukan berposisi sebagai balatentara, pasukan, anak buah yang berada di bawah kekuasaan wakil-wakilnya di parlemen ataupun yang menjabat di pemerintahan.

Memanggil rakyat dengan sapaan “rakyatku” bukan malah menunjukan kedekatan atau kemelekatan hubungan. Kesan yang muncul malah sebuah kesombongan, seolah-olah berada pada posisi sang pemilik rakyat, seorang bos dari anak buahnya, pimpinan atas sebuah balatentara.

Sekali lagi ini bukan soal salah atau benar pilihan kata tersebut. Ini soal kepekaan dan kecermatan Ibas dalam memilih kosa kata yang masih belum cukup mumpuni dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Terlebih istri Ibas, Aliya Rajasa membuat pembelaan yang justru semakin absurd.

“Wahai: “Rakyatku/Bangsaku/Negaraku/Tuhanku/Tanah Airku,dll” Pada intinya sama definisinya secara kosakata. Pemahaman netizen saja yg -.” tulis Aliya.

Saya mengutip pernyataan istri Ibas ini dari tribunnews.com, karena pernyataan aslinya dikabarkan telah menghilang dari timelinenya. Kemungkinan sudah dihapus.

Semoga SBY menurunkan kemampuannya dalam merangkai kata dan menyusun kalimat kepada anaknya. Karena bagi saya, Presiden keenam Republik Indonesia tersebut termasuk orang cukup bagus dalam pemilihan kata di setiap pidatonya. Susunan kalimat dan rangkaian kata-katanya sungguh manis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here