Anies Hanya Bikin Iklan, Saya Cuma Anak Gawang

Memilih adalah hak, memuji calon yang dipilihnya juga bagian dari hak. Bahkan untuk mengkritisi rival dari idolanya juga merupakan hak dari seseorang. Namun, dalam kecintaan kepada calon pemimpin harus menjaga pikiran tetap sehat, memelihara keadilan dan kejujuran hati.

Seperti yang baru-baru melintas di timeline saya mengenai sebuah video salah satu kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Sebuah video lama sebenarnya, namun mungkin karena tensi sekarang semakin meninggi, dimana Pilkada DKI Jakarta kemungkinan besar menuju putaran kedua, maka rekaman mengenai pengambilan gambar iklan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kembali dimunculkan dengan tendensi negatif.

Sebenarnya jika mau jujur, semua juga tahu jika sebenarnya video tersebut adalah pengambilan gambar untuk sebuah sebuah iklan. Jadi sangat wajar jika kemudian ada sutradara yang memberikan arahan.

Lucunya, entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, lebih parah jika memang sengaja dipergunakan untuk menyerang. Maka video itu diunggah lagi dengan membangun opini jika Anies dan Sandi kalau blusukan ternyata disetting.

Ayolah. Sesempit itukah cara berfikir? Apakah tidak ada bahan kritik atau mungkin materi lain yang lebih cerdas untuk sekedar melemparkan sebuah “serangan”?

Ini bukan soal dukung mendukung. Ini tentang memelihara akal agar tetap waras meski harus larut dalam politik.

Pilkada memang membuat semua sibuk, minimal membuat timeline media sosial kita gaduh. Akan tetapi tidak harus pura-pura gila hanya agar jagoan kita menang atau lawannya nampak buruk.

Seorang sahabat menduga saya mengutarakan ini untuk melindungi atau mendukung Anies Baswedan. Sejujurnya saya tidak keberatan dengan tuduhan tersebut. Jangankan dituduh mendukung Anies, dicap sebagai liberal, kafir, syiah, ahmadiyah, wahabi pun saya sudah biasa. Akan tetapi terkadang saya merasa kasihan, apakah sedangkal itu cara menilai seseorang?

Saya hanya anak gawang yang berusaha melempar bola ke dalam lapangan jika sudah mulai keluar garis. Siapapun saja yang sudah asyik bermain di luar batasan dan saya mengetahuinya, maka sebisa mungkin saya ingatkan.

Tidak hanya hoax yang menyudutkan Anies, tak jarang saya juga mengingatkan teman-teman yang entah sengaja atau tidak larut dalam berita bohong mengenai kandidat lainnya.

Saya sekedar berpesan jika terkadang cara para pendukung berkampanye bisa mempresentasikan kualitas orang yang didukungnya. Oleh karena itu, adu argumenlah secara sehat, dengan cara tetap menjaga kewasaran dan kedewasaan bersikap.

Berikut sengaja saya upload sebuah video yang diduga sebagai setting saat blusukan yang sudah saya gabungkan dengan video iklannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here