Doa Masuk Neraka

355 views

Kampung ini dirundung duka, Pak Warji, salah satu warga yang terkenal baik meninggal dunia pagi ini.

Para tetangga merasa kehilangan. Lelaki yang sejak tujuh tahun hidup sendiri setelah istrinya meninggal dan anaknya tinggal di kota bersama keluarganya itu pergi selamanya dengan cara yang cukup tenang. Tiba-tiba terduduk di tepi jalan saat keluar dari rumah menuju sawahnya.

Tak banyak yang tahu sebabnya, karena tak pernah ada kabar Pak Warji menderita sakit. Meski sudah berumur lebih dari 60 tahun, badannya nampak segar bugar dan rajin ke sawah. Perawakannya yang kalem dan sering mengumbar senyum membuat para tetangga senang dengannya.

Pak Warji memang tangguh. Sebagai orang yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, ia bekerja keras bersama istrinya untuk bisa menyekolahkan satu-satunya anak yang mereka miliki untuk bisa sekolah, jadi sarjana.

Bambang, sang anak akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya dengan prestasi yang cemerlang. Jadi sarjana dan kemudian bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang tak sedikit. Ia juga menikahi seorang wanita cerdas dan juga cantik.

Pak Warji bangga dengan apa yang dicapai oleh anaknya. Meski demikian ia memilih untuk tinggal di kampung dan menikmati masa tuanya di sawah. Berulang kali diajak Bambang untuk tinggal di kota, lelaki tua itu menolak. Baginya, kampung tempat kelahirannya itu adalah tepat paling tepat untuk dirinya.

Jenasah Pak Wardi dimakamkan menjelang ashar sebab harus menunggu Bambang dan keluarganya sampai.

Sejak semula warga merasa ada yang janggal dengan Bambang. Dan akhirnya gelagat tidak bagus itu benar-benar terlihat nyata selepas salat Isya’.

Warga ramai berkumpul di depan rumah Pak Wardi. Mereka yang siap untuk tahlilan tidak bisa masuk rumah lantaran Bambang menolak. Pria beranak satu itu berkeyakinan jika tahlilan itu bid’ah dan dirinya tidak bersedia rumahnya digunakan untuk ritual seperti itu.

Dalam suasana kebingungan warga kampung yang memang sebagian tak mengerti apa-apa tersebut datang Kang Slamet yang juga berniat untuk tahlilan.

Sebentar kemudian Kang Slamet memahami situasi setelah ada satu dua orang bercerita mengenai sikap Bambang.

“Begini saja, mari kita ke Masjid. Kita tahlilan dan doakan Pak Warji di Masjid” usul Kang Slamet yang kemudian disetujui oleh para warga. Beranjak mereka dari rumah Pak Warji menuju Masjid yang jaraknya tak seberapa jauh

Tahlilan usai. Memang tidak seperti biasanya, selepas tahlilan ada acara makan-makan. Kali ini hanya ada air minum kemasan dan beberapa kue yang dibawa oleh ibu-ibu tetangga yang ternyata memahami situasi. Mereka berinisiatif untuk menyajikan beberapa kue dan membikin kopi satu teko yang mungkin cukup hanya untuk empat atau lima orang saja.

Beberapa orang sudah pulang, namun sebagian besar masih di teras Masjid. Hampir semuanya membahas tentang Bambang.

“Kenapa kalian tahlilan untuk bapak saya di Masjid?” warga kaget, ternyata Bambang datang dan melayangkan protesnya.

“Duduk sini, nak” ajak Kang Slamet yang sedang duduk di teras Masjid tua tersebut sembari menikmati kopi bersama pak RT serta dua tokoh kampung lainnya.

Bambang melangkah mendekat, sementara warga lainnya memandang dengan tatapan heran. Keluguan warga kampung membuat mereka semakin bingung dengan sikap Bambang yang sangat tak lazim.

“Minum kopi, nak?” tanya Kang Slamet pada Bambang yang sudah duduk bersama.

“Tidak, terimakasih. Saya tidak minum kopi” jawab Bambang.

“Apa salahnya warga kampung tahlilan?” kata Kang Slamet.

“Tahlilan itu bid’ah, Kang. Tidak boleh dilakukan. Kang Salmet dan tokoh agama di sini harusnya menjaga umat dari kesesatan” Bambang langsung mencecar.

“Meski mendoakan bapakmu, kan mereka melakukan tidak di rumahmu, mbok kamu biarkan saja” jawab Kang Slamet kalem sembari menyalakan rokoknya.

“Tapi…”

“Sudahlah, nak” potong Kang Slamet. “Silahkan kamu menjalankan apa yang kamu yakini, namun biarkan saja warga ini meluapkan rasa cintanya kepada mendiang bapakmu dengan jalan mendoakannya”

“Doanya tidak sampai? menurut kamu begitukan?” tanya Kang Slamet yang tanpa menunggu jawaban langsung disusul dengan cecaran pernyataan lainnya. “Kalo kamu yakin doa orng-orang kampung yang lugu ini tidak sampai. Beranikah kamu suruh mereka semua mendoakan bapakmu masuk neraka?”

Kang Slamet kemudian berdiri. Gerak tubuhnya yang semula kalem tiba-tiba sedikit gemar. Ia berdiri.

“Kamu suruh orang-orang ini berdoa agar bapakmu masuk neraka,” suara Kang Slamet sedikit meninggi meski tak sampai membentak.

“Hei kalian warga kampung, apa kalian mau mendoakan Pak Warji masuk neraka? ayo, doakan sekarang juga! yang keras doanya” tatapan Kang Slamet tajam ke arah warga yang masih berkerumun.

Banyak warga tertunduk, Jono terlihat matanya berkaca-kaca, bahkan Sunu menangis mendengar kalimat Kang Salmet tersebut.

“Tatap mereka, bambang!” pinta Kang Slamet.

Bambang hanya merunduk, ia sepertinya sadar jika perbuatannya telah menyinggung banyak orang.

“Kamu boleh yakin bahwa doa mereka tidak sampai, bahwa mereka melakukan bid’ah. Bahkan jika keyakinan kamu sudah sampai pada tingkat tertinggi dengan berani menyuruh mereka mendoakan bapakmu di siksa di alam kubur, maka saya yakin mereka juga tidak akan mau. Sebab, meski tak bisa memastikan doa mereka terkabul, minimal mereka punya rasa cinta hingga tak pernah tega untuk melakukannya”

“Lihatlah wajah-wajah sedih mereka yang kehilangan seseorang yang baik di kampung ini. Ditinggal salah satu tetangga yang tak pernah absen membantu orang lain. Ditinggal lelaki yang tak segan menafkahkan waktu, tenaga dan uangnya untuk kemaslahatan orang banyak. Ditinggal pria tua yang saban hari menyapa mereka dengan senyuman ramah,”

“Kalo kamu sebut ini bid’ah, maka kami menyebut ini cinta kasih kepada tetangga dan sesama muslim”

Kang Slamet mukanya semakin tegang. Rokok dihisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Sementara Bambang hanya terdiam dan warga ada yang meledak tangisnya.

“Saya memilih meyakini doa para tetangga ini sampai, sebab hal itu membuat kami akan terus meniru Pak Warji. Mencotoh untuk selalu berbuat baik kepada sesama, berperilaku sopan terhadap tetangga dan menghargai siapa saja. Kalau pun tak ada yang mendoakan baik jika nanti kami mati, minimal tak ada yang berdoa buruk.”

“Keyakinan itu yang membuat warga yang mungkin kamu anggap sesat ini selalu menjaga perilakunya terhadap orang lain”

Kang Slamet diam. Suasana jadi hening. Terdengar desah nafas berat dan sebuah tangis yang tertahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here