Mengepel Lantai Masjid

543 views

Kang Slamet sadar, ada seorang lelaki mengawasinya sedari ia mengambil wudhu, salat dan akhirnya duduk di teras masjid sembari memakai sepatu. Lelaki itu duduk tak jauh dari tempat wudhu. Entah apa yang dikerjakan, akan tetapi Kang Slamet tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui jika lelaki itu beberapa kali mencuri pandang.

Bukan tanpa alasan Kang Slamet tak segera pergi dari Masjid tersebut. Ia memang sedang bingung mau ke arah mana. Tak punya petunjuk arah dan memang sudah menjadi kebiasaan Kang Slamet untuk tidak bertanya arah kepada siapapun selain pada instingnya.

Setelah memikirkan sejenak, Kang Slamet kemudian berjalan ke arah kanan.

Akan tetapi, selepas melangkah kira-kira 300 meter dari Masjid, Kang Slamet merasa arah yang diambilnya salah. Ia bergegas berbalik arah.

Kang Slamet terkejut ketika melintasi Masjid tempat ia salat sebelumnya. Ia melihat lelaki yang mengawasinya tadi mengepel lantai Masjid. Kang Slamet menyadari jika kelaki itu mengepel tempat di mana ia mendirikan salat. Semua itu jelas terlihat oleh Kang Slamet karena jarak antara jalan dan dalam Masjid tak terpaut jauh. Meski sudah tak muda, mata Kang Slamet juga masih normal.

Sadar. Kang Slamet segera memahami situasi dan mengerti apa yang terjadi. Dugaannya semakin kuat selepas ia melihat sebuah papan nama di depan Masjid yang sebelumnya tak terbaca olehnya.

Tertulis di situ nama sebuah organisasi atau kelompok yang Kang Slamet pernah dengar sangat ketat dalam menjaga kesucian Masjidnya. Mereka akan langsung mengepel Masjid setelah ada orang asing yang dianggap membawa najis.

“Kang Slamet marah melihat itu?” tanya Cak Sutris sembari menyerahkan kopi pesanan Kang Slamet.

“Habis tuh orang,” aku coba menebak. Saya tahu benar kebiasaan Kang Slamet yang suka ceplas ceplos jika ada yang tak nyaman baginya.

“Kenapa marah?” tanya Kang Slamet sembari menuangkan kopinya di lepek. “Aku malah terkesan dengan dia”

“Maksudnya, Kang?” sahut Cak Sutris.

“Lelaki itu menunggu aku pergi baru mengepel, tidak saat aku di situ. Jika saja aku tak berbalik arah, tentu kejadian itu tak pernah ku ketahui”

Kang Slamat menyalakan rokoknya, membenahi tempat duduknya. Jika sudah begini, aku sudah perkirakan bakalan ceramah panjang lebar lelaki berusia 50 tahun itu.

“Dia menganggap aku membawa najis ke Masjidnya, akan tetapi dia masih memikirkan sopan santun hingga membersihkannya selepas aku pergi. Ia tidak ingin menyinggung perasaanku meski baginya aku kotor. Apakah itu bukan sebuah kearifan?” jelas Kang Slamet.

Cak Sutris mengangguk pelan, ia sudah mulai memahami arah pembicaraan pelanggan setianya itu.

“Apa Kang Slamet tidak tersinggung?” tanyaku

“Tersinggung atau tidak, bukan soalan besar. Ia mengepel Masjid bisa jadi karena aku dianggapnya melakukan hal yang menurut dia tidak bersih atau membawa najis. Misalnya, ia menilai waktu aku ke kamar mandi tidak sesuai dengan kriteria mereka dalam menjaga kebersihan badan. Itu sebabnya Masjid perlu dibersihkan dari najis yang terbawa olehku”

“Bagiku itu sama sekali tak penting. Poin utamanya adalah sikapnya yang tidak pongah atas kebenaran yang diyakininya. Ia masih punya takaran yang sangat bijak, hingga dalam mejalankan kebenaran yang dipercayanya tidak perlu menyakiti hati orang lain” lanjut Kang Slamet.

“Sekarang ini, banyak yang tak memiliki kemuliaan sikap sejenis itu. Merasa benar itu bukan masalah, tetapi menunjukan kebenaran yang diyakininya dengan cara kehilangan kepekaan terhadap perasaan orang lain adalah sebuah kekejian paling tolol”

“Maksudnya ini kelompok yang suka mengkafirkan pihak lain itu, Kang?” sambar Cak Sutris.

“Ada segerombolan orang yang menurutku terlalu jumawa dengan ajaran yang diyakininya. Sebenarnya tak ada masalah dengan kepercayaan itu, cuma mulut mereka seperti tidak punya sensor. Otaknya tak miliki kecerdasan yang cukup untuk menilai kebudayaan, sejarah, bahasa dan lain sebagainya dari masyarakat sekitarnya. Hatinya terlampau keras, lantas tak mampu mengeluarkan getaran-getaran kasih sayang kepada umat,”

“Lidahnya seperti lidah ular, berbisa. Di ruang publik tiba-tiba menghina kebiasaan umat Islam nusantara yang sudah dilakukan secara turun temurun. Menilai orang sejenis ini tidak perlu sampai ke benar atau salah apa yang diucapkannya. Kedunguan dalam membaca situasi sudah bisa mewakili kedangkalan hatinya,”

Cak Sutris tersenyum. “Itu sama saja kalo ada orang baru yang datang ke warung ini, tiba-tiba ceramah bahayanya kopi.” katanya.

“Bukannya kita dengerin, tapi mungkin jenggotnya tuh orang kita cukur pakai celurit” sahutku yang kemudian disambut dengan tawa seisi warung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here