Secangkir Air dari Kloset

Beberapa bulan lalu ada sebuah video yang lalu lalang di timeline media sosial saya. Nampak seorang bapak yang tengah sibuk bekerja dengan laptopnya yang kemudian tersenyum bahagia ketika anaknya yang mungkin baru berusia 2 atau tiga tahun membawakannya segelas air. Pria tersebut lantas meminumnya dengan mimik muka bangga.

Rasa bahaginya jadi berlipat ganda ketika bocah tersebut kembali membawakan segelas air. Pria itu meski tak haus, ia dengan raut muka senang menghabiskan segelas air yang disodorkan.

Kelucuan timbul di akhir video, di mana ternyata sang anak mengambilkan air minum untuk bapaknya dari kamar mandi, di kloset duduk.

Saya tidak tahu apakah itu benar-benar terjadi atau sekedar parodi. Memproduksi kelucuan lewat video singkat.

Akan tetapi saya menangkap sebuah pelajaran dari video kocak tersebut.

Saya membayangkan jadi ayah yang meminum air dari kloset tersebut. Apa yang akan saya lakukan pada sang bocah?

Memarahi, memukul, membodoh-bodohkah atau malah mengusir dari rumah, mencoretnya dari daftar Kartu Keluarga?

Tentu saya tidak setolol itu. Mungkin normal jika kemudian perut saya bereaksi, akan tetapi hal yang pasti saya akan tertawa. Jika sakit perus saya karena air yang saya minum belum pasti, namun saya bisa pastikan jika perut saya akan sakit karena terpingkal-pingkal. Saya akan memeluk dan mengajaknya beli es cream di toko sebelah.

Mengambilkan dan meminta bapaknya minum air kloset tentu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Pakai dalil apapun, perbuatan itu tentu tak layak. Akan tetapi saya tak akan pernah menghabiskan energi untuk hal tersebut. Ia adalah bocah yang ingin menunjukan rasa sayangnya kepada bapaknya. Jika sudah seperti itu, apakah ada yang jauh lebih penting dibanding romantisme sang anak kepada orangtuanya?

Meski saya termasuk bapak yang percaya jika memarahi anak itu boleh pada situasi-situasi tertentu dan kadar yang terukur. Pada momentum seperti yang digambarkan pada video tersebut bukanlah waktu yang pas untuk meluapkan kemarahan, karena yang saya tangkap pada kejadian tersebut malah penuh dengan rasa cinta.

Mungkin pelan-pelan diajari mana yang benar dan yang tak tepat. Setiap penyampaian disesuaikan dengan nuansa kebatinan, usia, momentum dan lain sebagainya.

Saya mengajak semua orang yang kini gemar untuk menyesatkan pihak lain, mengkafirkan kelompok yang berbeda untuk belajar jadi bapak itu.

Taruhlah mereka yang di seberang sana itu menurut keyakinan kalian telah melakukan kesesatan, bid’ah dan lain sebagainya. Maka pandanglah mereka sebagai bocah kecil yang sedang meluapkan rasa cintanya.

Bisa jadi bagi kalian mereka tidak tepat caranya, akan tetapi dalam cinta, parameter ukurnya bukan sekedar benar dan salah saja. Tak perlu kalian secara demonstratif menunjukan kebenaran yang kalian yakini dengan memperhinakan bocah yang belum mengerti apa-apa itu .

Elus-elus saja kepalanya, doakan terus. Letup-letupkan kasih sayang kalian pada mereka yang kalian anggap penuh lumur dosa dan kebodohan.

Bagi yang saya analogikan sebagai bocah, mohon jangan marah. Saya yakin kalian tidak marah. Sudah terbiasa disesatkan, dibid’ahkan dan dikafirkan, maka tak soal jikapun kali ini saya analogikan sebagai bocah kecil yang tak mengerti apa-apa.

Lagian saya hidup sangat lama dalam kultur yang identik dalam kelakuan sang bocah itu. Saya paham, sebenarnya ia hanya pura-pura mengambil air di kloset, biar terlihat lucu. Heheheee

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here