Menikah Lagi

Beberapa bulan lalu rumah didatangi sejumlah perempuan muda. Mereka adalah teman-teman istriku yang juga kenalan saya. Datang untuk bersilaturahmi, makan-makan seadanya sembari bersenda gurau.

Hingga pada suatu ketika, mereka yang kesemuanya belum menikah itu bertanya menganai sejarah pertemuan saya dengan istri. Mereka ingin mengulik cerita mengenai bagaimana awal mulanya bisa menikahi perempuan yang kini jadi teman hidupku itu.

Saya akhirnya bercerita sekenanya. Iya, sesederhana mungkin. Sebab jika untuk mengisahkan perjalanan hingga sampai menikahi perempuan yang baru saya kenal tersebut sangat sulit. Meski suka bercerita, akan tetapi untuk mengisahkan nuansa kebatian diri saya sebelum bertemu calon istri hingga akhirnya menikah bukan perkara mudah.

Adakah bahasa yang bisa menjelaskan tentang bagaimana orang seperti saya ini berani menikahi seorang wanita yang secara fisik baru bertemu 10 hari sebelum akad nikah?

Lebih jauh lagi, siapa lagi kalau bukan Allah yang kemudian membuat ada seorang wanita bersediah dinikahi oleh lelaki model seperti saya ini tanpa pernah bertemu lebih dari dua minggu?

Itu dari sudut pandang rentang waktu perkenalan dan perjumpaan. Belum lagi jika dinilai dari jumlah saldo rekening dan lain sebagainya. Sebuah mementum yang hanya atas kuasa Allah itu bisa terjadi.

Dan saya sama sekali tidak mampu memformulasikan secara gamblang bagaimana itu bisa terjadi. Kebingunan itulah yang membuat saya sangat hati-hati jika dimintai petunjuk mengenai pernikahan oleh beberapa orang. Pasalnya, saya sendiri tidak terlampau memahami situasi saat itu.

Pada masa-masa itulah saya benar-benar menemukan kepasrahan. Ketika itu level sprirtualitas berada di titik yang cukup tepat untuk benar-benar merasakan bahwa segala sesatu berjalan atas kehendak Allah. Mengalir begitu saja.

Tidak ada kepongahan, lepas semua keakuan, tanpa memiliki rasa takut menghadapi hari depan. Ikhlas menjalani semua yang sedang berlaku tanpa pernah kepikiran kata ikhlas.

Ada banyak peristiwa-peristiwa yang cukup ajaib. Saya sengaja tidak atau jarang bercerita ke orang lain karena takut sebagai bentuk ketakaburan diri.

Saya hanya bisa berujar jika dari segala keajaiban-keajaiban itu, salah satu yang paling indah adalah Allah menempatkan salah satu wanita mulia yang penuh kesabaran untuk mendampingi hidup saya, Mila Kurniawaty.

Kini, secara jujur saya kehilangan nuansa spiritualitas itu. Saya mencoba mencari terus, akan tetapi rasanya sulit. Mungkin karena semakin banyak dosa dan hati terkontaminasi oleh banyak hal yang duniawiyah.

Tentu saja, usaha saya tersebut bukan untuk menikah lagi. Karena saya sudah bahagia dengan keluarga kecil ini. Ini sekedar rindu dengan kepasrahan hati dan kejernihan dalam menjalani hidup.

Hari ini, 14 Maret 2017 adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke tujuh. Salah satu hadiah terindah dari Allah pada perjalanan kehidupan saya. Ketika hanya ‘sesaat’ saya berada pada titik terbaik untuk berpasrah, bisa mendapatkan anugerah yang sedemikian hebat. Apa jadinya jika setiap saat saya bisa memelihara getaran batin itu? []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here