Macan Itu Akhirnya Roboh

Sumber: detik.com

Suatu malam di sebuah obrolan saya berterus terang pada seorang perempuan yang berasal dari sebuah kota di Jawa Timur (tak perlu saya sebut nama kotanya). Awalnya dia bercerita mengenai sebuah tugu yang menjadi ikon kotanya, namun belum sempat ia berbangga saya langsung bilang tugu itu mengecewakan.

“Itu siapa senimannya? Pembangunan dengan anggaran sebegitu besar tetapi dikerjakan dengan sangat tidak bagus” kataku.

Bagi saya, relief yang ada di tugu itu jauh dari kata bagus. Bahkan di jaman semoderen ini, untuk bisa membuat relief saja masih kalah dari candi-candi yang diukir pada jaman dahulu kala.

Konsep, lokasi dan idenya memang cukup apik. Tetapi kelemahannya hanya pada reliefnya. Kualitasnya memprihatinkan. Atau mungkin saya yang tidak paham seni?

Anggaran besar sepatutnya bisa menyewa seniman handal, mengerjakan dengan tekhnik terbaik. Sebab, itu akan menjadi sebuah ikon, sebuah monumen yang dikenal orang banyak.

Saya pernah melihat sebuah patung naga yang dibuat oleh pemerintah daerah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Bagi saya, patung yang ada di pantai tempat warga sering berkumpul itu digarap dengan cukup bagus. Tidak sekedar menarik, akan tetapi terlihat benar jika dikerjakan bukan oleh orang sembarangan.

Apa yang saya ceritakan di awal tulisan ini mungkin juga terjadi di berbagai tempat. Pembangunan suatu tempat yang tujuannya sebagai tempat rekreasi, membentuk atau menciptakan sebuah ikon yang sebenarnya punya kedekatan dengan faktor seni, akan tetapi dikerjakan tanpa memperhatikan faktor estetika.

Sepertihalnya seperti apa yang ramai dibicarakan belakangan ini. Warga pengguna media sosial heboh oleh patung macan yang berada di Komandan Rayon Militer (Koramil) 1123 Cisewu, yang bernaung di bawah Komandan Distrik Militer (Kodim) 0611 Garut, Jawa Barat. Diketahui jika foto tersebut pertama kali diunggah oleh akun Kementrian Humor Indonesia di facebook.

Foto patung itu viral di media sosial lantaran dianggap netizen ada yang aneh. Dari segi bentuk, tingkat presisi hingga faktor penampakan secara umum yang tidak lazim dan cenderung aneh membuat patung ini jadi bahan pergunjingan pengguna media sosial.

Kepala yang besar, mulut yang lebar dan bahkan terkesan sedang tersenyum membuat netizen menganggap patung ini lucu.

“Patung itu dibangun sekitar enam tahunan yang lalu,” ungkap Danramil Cisewu Kapten Inf Nandang Sucahya, Senin (13/3/2017), dikutip dari Detik

Setelah ramai dibicarakan oleh para warga pengguna internet, patung macan ‘tersenyum’ itu kemudian diturunkan. “Sesuai perintah, sudah kita bongkar, patungnya akan kita ganti dalam waktu dekat ini,” pungkas Danramil.

Sumber: detik.com

Meski saya sendiri berpendapat jika patung macan itu tak bagus, akan tetapi saya tak tega juga melihat patung itu dibongkar. Saya sedih melihat foto macan itu tersungkur di depan kantor Koramil.

Bahwa ada yang aneh dengan patung macan tersebut, bukan berarti tak bisa dihargai. Saya memilih menjelaskan makna patung itu sesuai bentuknya dari pada harus menghancurkannya. Misalnya sebut saja jika itu adalah patung macan yang ‘humanis’. Meski garang, tetapi tetap bisa tampil penuh senyum. Menggambarkan jika tentara itu garang namun tetap tidak kehilangan sisi humanisnya.

Tapi mau bagaimana lagi, patung sudah hancur. Netizen sudah puas dalam memperoloknya. Biarkan ini jadi bahan pelajaran bagi siapapun saja untuk serius dalam membelanjakan anggaran untuk hal-hal yang bersinggungan dengan karya seni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here