Membaca Lowongan Kerja

Beberapa tahun yang lalu saya ditugasi pimpinan kantor untuk menemui para pelamar yang jumlahnya cukup banyak. Saya sedikit bingung, sebab saya bukan dari divisi yang seharusnya mengurusi penerimaan karyawan baru. Akan tetapi, karena ditugasi maka saya lakukan saja semampunya.

Ada sekitar sembilan orang seingat saya. Pikirku, jika diajak bicara satu persatu akan memakan banyak waktu. Hingga akhirnya saya kumpulkan saja di sebuah ruangan untuk diberi penjelasan secara umum dulu.

Saya tahu jika mereka datang atas sebuah iklan lowongan pekerjaan yang dipasang perusahaan di koran beberapa hari sebelumnya. Perusahaan memang sedang mencari beberapa orang baru.

Tanpa memeriksa berkas-berkas mereka dahulu, saya langsung bertanya kepada semuanya mengenai pengetahuannya terhadap posisi yang dilamarnya.

“Dari sekian banyak orang yang hadir, siapa yang mengetahui apa itu account officer?” tanyaku tentang posisi jabatan yang ditulis di lowongan pekerjaan yang diiklankan.

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku itu. Dugaan saya, kemungkinan grogi atau ada peluang cukup besar juga sebenarnya mereka memang sama sekali tidak tahu.

Saya tatap satu persatu wajah mereka sembari menunggu ada salah satu diantaranya menjawab. Terlihat mereka anak-anak muda yang kemungkinan besar belum pernah punya pengalaman kerja.

Sekitar semenit menunggu suasana hening tersebut akhirnya saya bicara untuk menjelaskan pekerjaan yang sedang mereka lamar itu.

Account officer itu bahasa gampangnya adalah sales” kataku singkat.

Kuperhatikan beberapa orang terlihat dari mimik wajahnya menandakan sedikit terperanjak, meski kemudian buru-buru mereka coba tutupi keterkejutannya itu.

Saya tersenyum sembari menjelaskan secara detail mengenai pekerjaan yang akan mereka jalani. Sengaja saya ceritakan bagian-bagian tersulitnya tanpa berusaha sedikitpun memberikan pemanis.

Saya bukan orang yang berpengalaman ataupun memiliki pengetahuan mengenai cara merekrut pegawai. Jadi apa yang saya lakukan praktis sekenanya saja dan sebaik mungkin berdasarkan ukuran saya sendiri.

Bahkan saat itu langsung saya ajari bagaimana cara menjual dan cara mengisi formulir untuk customer baru.

“Silahkan dibawa pulang formulir-formulir ini untuk dipelajari, besok silahkan kembali lagi” pinta saya yang kemudian mempersilahkan semua pelamar untuk pulang.

Dan seperti dugaan saya sebelumnya, yang kembali esok harinya hanya seorang saja. Lainnya tidak kembali ataupun memberikan kabar.

Enggan Membaca

Paparan kisah di atas bagi saya membuktikan beberapa hal. Pertama mengenai keterdesakan hingga akhirnya melakukan segala sesuatu tanpa terukur.

Para pelamar tersebut saya identifikasi secara asal-asalan (karena saya tidak membaca berkas-berkasnya) sebagai orang-orang yang sedang tidak punya pekerjaan dan belum pernah bekerja di perusahaan manapun sebelumnya.

Kedua, enggan membaca. kedatangan mereka 80 persen berjudi, sisanya nekat. Bagaimana mungkin melamar sebuah pekerjaan tanpa terlebih dahulu mempelajari jabatan yang sedang dilamarnya? Jikapun ingin nekat dan bersedia bekerja apapun saja, tetap saja ketika ingin melamar kerja, selayaknya digali informasi sebanyak mungkin mengenai posisi yang sedang dilamar. Baca.

Saya sendiri bukan termasuk orang yang rajin membaca. Akan tetapi ketika ingin menyeburkan diri ke sesuatu hal maka saya akan berusaha membekali diri dengan informasi sebanyak mungkin mengenainya.

Karena saya pernah mengalami pengalaman yang cukup memalukan, konyol. Pernah suatu waktu saya dipanggil wawancara sebuah perusahaan. Di tengah-tengah wawancara saya ditanya mengenai peluang untuk dipekerjakan di posisi yang tidak saya lamar. Pewawancara menyebutkan sebuah nama jabatan yang bagi saya asing.

Lantas ditanya mengenai kemampuan saya yang bidah pekerjaan yang barusan ditawarkan itu.

Sekitar lima detik diam. Saya mencoba menebak jabatan yang ditawarkan itu dari namanya. Bodoh dan sombongnya saya waktu itu adalah tidak jujur saja mengatakan jika tidak mengetahuinya.

Saya akhirnya jawab berdasarkan dugaan saya saja. Panjang lebar tanpa ragu.

Begitu keluar kantor itu saya raih ponsel dalam kantong dan kemudian browsing, mencari tahu. Saya langsung merasa malu setengah mati. Pasalnya, apa yang saya jabarkan di wawancara tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan yang ditawarkan.

Perusahaan itupun akhirnya tidak pernah menelpon atau mengirim email lagi pada saya. hehehe.

Keterdesakan untuk segera bisa mendapatkan pekerjaan memang kadang kala membuat seseorang menipis kepekaan dan daya ukurnya mengenai segala hal. Pekerjaan apapun dilamar. Tahu atau tidak jenis pekerjaanya, tetap saja dilamar. Paling utama adalah dapat uang dan tidak lagi berstatus penganggur.

Faktor itu masih bisa saya maklumi, meskipun saya sering dapati kenyataan bahwa para karyawan yang awalnya bekerja karena asal dapat kerjaan, biasanya kurang mampu menghadapi tekanan. Paling rendah akibatnya adalah jadi pekerja yang suka mengeluh dan jika sudah tak tahan akan segera mengundurkan diri.

Hal lain yang sangat sulit saya bisa mencari pemaklumannya adalah kemalasan untuk membaca. Kita boleh nekat, tetapi baca-baca dikit itu tetap harus.

Saya teringat kisah-kisah di atas karena hari ini mendapati kenyataan yang cukup membuat saya greget. Ketika saya memposting sebuah artikel yang isinya ajakan menjadi penulis lepas yang dibayar, saya ada project besar yang tidak bisa saya kerjakan sendirian hingga harus cari rekan penulis lainnya. Pada postingan itu ada seorang netizen bertanya di kolom komentar: “caranya?”.

Dia bertanya, berarti tertarik. Namun dari dia bertanya itu pula dapat disimpulkan dia tak membaca link yang saya berikan. Lantas bagaimana orang bisa tertarik jadi penulis tapi enggan membaca? ironis, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here