Rejeki dan Pedal Rem

Pagi ini mampir di timeline facebook saya sebuah postingan yang berkisah mengenai persaingan dagang di Saui Arabia. Ada dua kisah dalam postingan tersebut.

Pertama tentang sebuah departemen store terkemuka di Saudi yang memberikan bantuan kepada pesaingnya yang membuat toko serupa yang berdekatan dengan lokasi usahanya. Kedua perihal pengusaha peternakan ayam yang meminjamkan uang kepada salah satu pesaing terbesarnya dalam bisnis tersebut yang sedang terlilit hutang, menuju bangkrut.

Kisah tersebut temanya mengenai rejeki dari Allah yang tidak akan tertukar. Sebuah sistem bisnis di Saudi yang ‘tak lazim’, di mana digambarkan tidak ada rasa khawatir akan sebuah persaingan karena kepercayaan soal rejeki yang telah diatur oleh Tuhan. Cerita-cerita itu dikaitkan mengenai keimanan.

Tentu itu sebuah kisah yang menarik, bahkan inspiratif bagi banyak orang. Di tengah liarnya pesaingan dagang yang selama ini kita lihat, ternyata di Saudi ada sebuah pemahaman yang tidak biasa.

Saya sendiri percaya dengan konsep berdagang seperti itu. Bedanya, saya tidak menemukannya dari peristiwa di luar negeri, apalagi jauh negeri Arab. Saya memperoleh pengalaman soal rejeki ini dari pedagang-pedagang di tanah air.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu daya pernah melakukan perjalanan dari Makassar ke Barru. Ditengah perjalanan kami berhenti di sebuah jalan yang berderet penjual dange, sebuah makanan khas daerah tersebut. Kiri kanan jalan berderet penjual yang cara memasaknya dengan jalan di bakar tersebut.

Kami masuk ke salah satunya dan kemudian menikmatinya. Saat itu saya jadi berfikir jika rejeki itu diatur oleh Allah. Siapa yang membuat sopir kami mengenjak rem tepat di depan warung yang kami masuki? Bukan warung yang sebelumnya ataupun setelahnya. Toh semua dari kami yang di dalam mobil tidak memilki pengetahuan apapun mengenai mana yang lebih enak diantara warung-warung yang berjejer tersebut. Itu semua pasti atas kehendak Tuhan. Rejeki pemilik warung itu ditentukan oleh Allah lewat keinginan sopir untuk mengijak pedal rem.

Contoh seperti itu banyak sekali di Indonesia. Jika kita dari Surabaya ke Malang, di daerah Apollo ada banyak penjual klepon. Kios-kiosnya berjejer dan klepon yang ditawarkan juga sejenis. Bagaimana mereka bisa berjualan dengan konsep seperti itu? Tentu hal tersebut cenderung merugikan jika dipandang dengan kacamata persaingan dagang modern.

Kalau kita dari Pasuruan ke Mojokerto lewat Mojosari, maka akan bertemu dengan banyak penjual krupuk. Salah satu yang terkenal adalah kerupuk kulit sapi. Kios-kios mereka juga saling berdampingan, rejeki datang berdasarkan orang mengerem dan parkir kendaraannya di sisi mana. Semua itu yang mengatur Allah.

Kalau kita ke Taman Safari II di Pasuruan, maka sebelum memasuki gerbang pintu masuk kebun binatang tersebut akan banyak penduduk yang menawarkan wortel segar. Mereka sama-sama menjual wortel dan harganya juga seragam. Lantas, siapa lagi kalau bukan Allah yang mengatur pembelinya berhenti di penjual yang mana?

Sangat banyak contoh-contoh lain di Indoensia yang mencerminkan sebuah ‘persaingan’ bisnis model seperti itu. Orang-orang kecil yang bedagang dengan serius, satu sama lain saling berdampingan meski punya jenis dagangan yang serupa. Keimanan dan kepercayaan tentang rejeki akan datang tanpa tertukar alamatnya membuat perdagangan model seperti itu bisa jalan dengan damai.

Meski demikian, tidak semua konsep berdagang dengan berdampingan lokasinya itu identik dengan kepasrahan terhadap datangnya rejeki. Ada juga yang memang sengaja berdampingan malah untuk saling meniadakan satu sama lain. Dimana-mana kini ada Alfamart dan Indomart berdampingan, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here