Hati-Hati! Mereka Tak Sekedar Menculik Anak-Anak

639 views

Beberapa minggu ini media sosial kita dijejali kabar berita mengenai penculikan anak. Imbauan kepada para orangtua untuk selalu waspada dan mengawasi putra putrinya.

Awal bulan Maret saya mendapati sebuah foto selebaran yang diposting di media sosial. Isinya mengenai adanya kelompok penculik anak-anak usia satu hingga 12 tahun. Pada selebaran yang disematkan pula logo kepolisian Jawa Barat itu disebutkan jika para penculik menggunakan modus berpura-pura sebagai orang gila, penjual, ibu hamil, pengemis dan lain sebagainya.

Tak ayal, selebaran ini kemudian jadi viral. Padahal berdasarkan informasi yang diwartakan oleh detik.com, Kabid Humas Polda Jabar Kombes (Pol) Yusri Yunus menampik telah mengeluarkan selebaran yang telah menyebar luas lewat pesan berantai dan postingan di media sosial.

“Polda Jabar tidak pernah mengeluarkan selebaran seperti itu. Kita kan punya Bhabinkamtibmas yang sosialisasi ke masyarakat,” kata Yusri, Selasa (7/3/2017).

Sejak itu saya kemudian berfikir jika sebenarnya isu mengenai penculikan ini tidak berdiri sendiri. Gonjang-ganjing tersebut merukan sebuah puzzle yang jika dirangkai dengan kejadian-kejadian lain, bisa jadi membentuk gambar besarnya.

Beberapa hari kemudian muncul video yang cukup mengerikan. Dinampakan beberapa jenasah anak-anak yang dalam kondisi terpotong. Lantas ada beberapa pria yang membawa beberapa bagian organ tubuh yang sudah terpisah dari badan.

Saat saya melihat dan memperhatikannya, jelas sekali bahasa orang-orang yang ada di video tersebut bukan bahasa Indonesia dan saya pun menduga kuat bukan bahasa daerah yang ada di tanah air.

Kemudian saya menebak video tersebut merupakan rekaman proses identifikasi korban suatu kecelakaan atau tragedi. Dimana orang-orang di tempat itu sedang berusaha menyatukan kembali potongan-potongan tubuh anak-anak yang terpisah untuk proses identifikasi.

Kenapa kemudian ada selebaran bodong dan juga video yang tidak sesuai dengan konteks tersebut disebarkan? Tentu ini sebuah soalan. Apakah ulah orang iseng, ataukan ada sesuatu yang jauh lebih besar?

Sebagai orang awam yang tidak memilki akses informasi yang benar-benar akurat mengenai peristiwa tersebut, maka saya meyakini jika penculikan itu ada. Tetap waspada terhadap penculikan, namun juga harus juga mewaspadai tingkat kewaspadaan.

Tingkat kewaspadaan yang tidak terukur akan menimbulkan keresahan lainnya. Penculikan sudah membuat resah, namun ternyata cara mengantisipasi keresahan tersebut ternyata menimbulkan keresahan baru.

Sila googling kata-kata “orang gila dituduh penculik”, maka akan kita dapati berbagai berita dari berbagai daerah yang menggambarkan ada banyak orang gila yang akhirnya jadi korban amukan masyarakat karena dikira penculik yang sedang menyamar.

Mereka dihabisi, dihajar hingga remuk redam. Sudah gila, hidup luntang lantung dan kini harus menghadapi penganiayaan atasnama kewaspadaan.

Sebenaranya peristiwa-peristiwa meresahkan yang sudah terdistorsi dari fakta sesungguhnya sudah sering terjadi. Bukan barang baru. Saat saya masih bocah, sering diingatkan oleh orangtua agar hati-hati jika bertemu orang pencari barang rongsokan. Kala itu, ada isu yang menyatakan jika ada penculik anak-anak yang menyamar sebagai penculik anak-anak yang akan dijadikan tumbal sebuah ritual.

Pada tahun 97-98, sebelum reformasi di Jawa Timur dihebohkan mengenai isu ninja. Fakta bahwa ada pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut ninja memang benar adanya. Akan tetapi kewaspadaan dan rasa khawatir yang tak terukur berakibat keriuahan yang lainnya.

Di daerah dekat kos-kosan saya saat itu ada orang tak dikenal hampir dilumat-lumat oleh warga karena dicurigai sebagai ninja. Kisah lain yang saya dapat, ada remaja yang babak belur karena dihajar habis-habisan hingga hampir tewas karena diduga sebagai komplotan ninja, padahal dia hanya seroang pencuri sendal.

Mengapa ada isu seperti ini? apakah ini ‘diproduksi’ oleh pihak tertentu ataukan sebuah peristiwa normal dari dinamika bermasyarakat? Tentu perlu kajian lebih jauh.

Mengenai kita harus berhati-hati dan tidak abai kepada keselamatan anak-anak kita adalah sebuah keniscayaan. Bahwa kita wajib untuk mengawasi dan bertanggungjawab atas kondisi anak-anak sama sekali tidak saya tentang. Terhadap informasi mengenai penculikan ini memang sepatutnya harus waspada.

Akan tetapi, saya juga berpesan agar selalu waspada atas kewaspadaan kita terhadap penculikan anak ini. Karena saya mengendus jika dari kewaspadaan dan kegelisahan masyarakat saat ini juga bagian dari upaya pihak tertentu untuk menculik harta paling berharga dari masyarakat, yakni kedamaian dan ketentraman. Lebih tragis lagi jika ada yang telah berupaya menculik akal sehat serta nilai-nilai kemanusiaan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here