Ditabrak atau Menabrakan Diri ke Mobil Kepresidenan?

Mobil Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan mogok ketika melakukan perjalanan dinas di Kalimantan Barat, Sabtu (18/3/2017). Insiden ini ternyata kemudian menjadi sebuah isu yang cukup liar hingga sampai menyeret Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apa soal hingga SBY masuk pusaran isu mobil Presiden Jokowi yang mogok?

Ternyata hasil menggoreng insiden mogoknya mobil RI1 tersebut adalah mencuatnya kabar mengenai fakta yang menyebutkan jika SBY ternyata mempergunakan mobil kepresidenan.

Tak butuh waktu lama, pernyataan-pernyataan orang disekitaran Istana hilir mudik di media mengenai kebenaran kabar soal SBY yang masih menggunakan mobil milik negara.

“Pihak Beliau menyatakan masih membutuhkan mobil itu. Maka itu statusnya dipinjamkan oleh negara,” ujar Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala, Selasa (21/3/2017), dikutip dari Kompas.

Tidak hanya itu, Djumala juga menyatakan jika pihak SBY sudah berkomitmen untuk segera mengembalikan mobil tersebut.

“Tapi yang paling penting ada komitmen dari beliau akan dikembalikan dalam waktu dekat,” katanya.

Pernyataan ini jelas sudah menjurus pada sebuah fakta jika SBY adalah pihak yang meminjam mobil tersebut. Tentu saja pernyataan ini menjadi santapan lezat bagi media dan juga pihak-pihak yang ingin mendiskreditkan SBY.

Disamping itu, muncul kesan jika Presiden Jokowi kini memakai mobil rusak lantaran satu mobil lainnya masih dipergunakan oleh SBY yang sudah tidak lagi menjabat apapun di pemerintahan.

Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan jam. Isu ini seperti bola liar yang ditendang ke sana kemari dimana sasarannya tetap ke SBY.

Warga pengguna internet dalam waktu singkat telah memproduksi artikel ataupun minimal status pendek di media sosialnya mengenai hal ini. Tetap, tujuannya ke SBY.

Saya sendiri tidak mengerti, apakah isu ini sengaja digulirkan atau sekedar sebuah keseleo lidah yang kemudian dimanfaatkan.

Sebab, menurut saya ini konyol jika kemudian ‘sengaja’ dipakai menyerang SBY. Ini bukan soal saya membela siapa-siapa, ini tentang kejujuran dalam berpendapat sekaligus analisis sederhana tentang penyebaran wacana ke publik.

Jika ini memang dibuat sebagai senjata, maka saya katakan jika ini senjata yang diciptakan oleh orang konyol. Karena sangat mudah untuk dipatahkan.

“Setelah SBY purnabakti pada 2014 lalu, kewajiban negara untuk sediakan kendaraan belum dilakukan dengan alasan penghematan. Lalu pada 20 Oktober 2014 lalu, mobil yang telah digunakan SBY selama 7 tahun itu diantar dan diserahkan ke rumah SBY. Itu clear dan tidak ada cacat hukum,” tutur SBY dalam rilis tertulisnya.

Bahwa menurut undang-undang, mantan Presiden punya hak untuk mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari rumah hingga kendaraan. Maka sebenarnya yang punya hutang adalah negara dalam posisi ini.

“Saya juga membuka dokumen hukum yakni UU No. 7 tahun 1978 tentang hak keuangan/administratif presiden dan wapres serta bekas presiden. Pasal 8 disebutkan bahwa bekas (mantan) presiden dan wapres disediakan sebuah kendaraan milik negara beserta pengemudinya,” lanjut SBY.

Maka berhati-hatilah menguar pendapat. Saya sendiri beberapa kali karena ingin buru-buru berkesimpulan sering kemudian terjungkal karena ada sesuatu yang lupa saya amati dan perhatikan.

Pada era serba cepat kita butuh memperluas cakrawala berfikir, memperdalam perenungan agar arus informasi berjalan lebih tenang. Saya melihat ada beberapa teman-teman saya sendiri ‘terjebak’ dalam kasus mobil ini. Ada yang begitu buru-buru mengarahkan sasarannya kepada SBY.

Lagi-lagi saya kembalikan bahwa apakah mencuatnya wacana ini memang ‘diproduksi’ guna untuk menyerang atau bisa saja ini adalah kecerdasan pihak tertentu yang begitu piawai dalam memanfaatkan penyataan Djumala sebagai umpan untuk memancing reaksi masyarakat dan media?

Jadi pertanyaanyaa adalah: apakah ada pihak konyol yang ‘menabrak’ menggunakan mobil kepresidenan, ataukah ada yang sedang ‘menabrakan diri’ ke mobil tersebut agar terkesan didzalimi? Keduanya sama-sama punya peluang, meski salah satu diantaranya sangat kecil kemungkinannya.

Apapun jawabannya, yang jadi korban tabrakan itu tetaplah rakyat. Di mana sudah saling hujat dan hina lantaran sebuah peristiwa yang sebenarnya tidak teramat mereka pahami duduk perkaranya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here