Rengekan Anakku dan Tangis Petani Kendeng

“Ini, boleh?” tanya anaku sembari meperlihatkan sebungkus coklat, jajanan kesukaanya.

Jika sudah seperti ini, ada dua kemungkinan. Pertama, ia melakukannya setelah minta ijin ke istri saya dan ditolak. Bocah ini memang terbiasa lari ke tempat saya saat sudah mentok bernegosiasi dengan ibunya.

Kedua, terkadang juga ia datang ke saya lantaran diperintah ibunya yang merasa sudah terpojok. Mau menolak permintaan tidak bisa, mengiyakan pun berat. “Sana, tanya ayah” perintah istriku pada anaku.

Jika sudah datang atas perintah ibunya, biasanya saya langsung menegur istri saya. Bagi saya tidak sepatutnya anak dilempar ke sana ke mari. Jika memang tidak setuju, lakukan sendiri tanpa ‘melempar’ ke pihak lain. Kalaupun mentok dan ada yang perlu dibahas, maka sepatutnya antara ayah dan ibu saja yang melakukan di belakang sang anak. Bukannya si bocah yang diminta hilir mudik untuk mencoba bernegosiasi.

Peristiwa ini memang terkadang kurang mengenakan. Sejujurnya saya kurang suka anak saya kemudian punya inisiatif bernegosiasi dengan saya ketika ibunya sudah menolak. Sepatutnya ia tak perlu datang ke saya karena sudah pasti kalau ibu menolak, pasti ayahnya juga tidak memperbolehkannya.

Apakah hal ini wajar dalam dunia anak-anak? Saya tidak paham. Mungkin ini sebuah sifat keeogisan lelaki, sebagai ayah inginnya semua hal bisa selesai tanpa harus ke hadapan saya untuk urusan-urusan sepele. Makan coklat, minum jus, beli mainan dan hal remeh temeh lainnya sepatutnya sudah tidak perlu ada negosiasi lanjutan.

Namun, saya tetap menyadari jika ibu sang bocah ini terkadang melakukan penolakan karena dalam suatu momen yang kurang pas diajak negosiasi. Sang bocah salah waktu dan tempat dalam memohon ijin pada ibunya.

Jadi, datangnya anak saya itu bisa jadi juga sebagai bentuk alternatif ketika ibunya dalam situasi psikologis atau faktor lainnya yang tidak bisa untuk diminta berunding. Boleh dikata anak saya sedang protes karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya. “Ini kan coklat yang biasanya, kenapa sekarang tak boleh?” mungkin seperti itu bahasa hati anak saya.

Meski jengkel, saya terpaksa harus pintar-pintar mengamati hal ini. Kenapa anak ini sampai datang ke tempat saya untuk minta ijin? Apakah karena merasa permintaanya ditolak ibunya yang sedang kurang bisa diajak bicara karena satu dan yang lain hal? Ataukah ia datang sebagai bentuk strateginya saja? Mencari celah agar keinginannya bisa terpenuhi.

Rengekan anak saya ini sebenarnya sebelas dua belas dengan protes dan tangis para petani Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Mereka sudah melakukan aksi protes ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pendirian PT Semen Indonesia.

Saya tidak masuk ke inti masalah protesnya, ini mengenai alur komunikasi. Petani Kendeng hingga sampai Jakarta untuk menyuarakan protesnya sudah pasti karena tidak mendapat jawaban puas dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Semua pasti paham akan hal itu, namun ternyata ketika sudah berhari-hari kaki mereka disemen, tangis mereka disiarkan di media-media, jawaban Istana ternyata hanya sekedar melempar bola permasalahan kembali ke Ganjar.

“Itukan memang pemda punya kewenangan buat (menerbitkan) izin itu, tidak semua dari Presiden,” kata Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/3/2017), dikutip dari kompas.com.

Orang-orang ini hingga sampai ke Istana karena jalur negosiasi di wilayah provinsi sudah mandeg, telah mentok. Setahu saya, mereka sampai ke Jakarta ketika sudah melakukan berbagai cara untuk melakukan negosiasi dengan Pemda.

Nuansa kekecewaan terlihat jelas dari pernyataan Gunarti dan Gunarto, kedua orang tersebut merupakan perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Negara.

Berdasarkan pernyataan Gunardi, nampak jika Presiden Jokowi melempar bola panas ini kembali ke Ganjar. Para petani tersebut diminta kepada Gubernurnya saja.

“Ya itu kalau mengenai izin ya harus tanyanya sama Gubernur. Selama ini sudah komunikasi sama Gubernur atau belum? Jangankan, bukan hanya komunikasi, kami itu sampai melakukan apapun, jangan sampai Pak Ganjar itu mengeluarkan izin dulu. tapi, Gubernurnya sudah ngotot,” kata Gunarti di Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu (22/3/2017) seperti yang diwartakan merdeka.com.

Bagi saya, rasanya tidak patut jika pihak Istana kemudian membuat para petani yang protes ini hilir mudik mencari jawaban. Selayaknya, dipahami jika mereka datang karena kekuatan negosiasi mereka di daerah telah mentok.

Seperti halnya anak saya minta ijin makan coklat kepada saya. Tinggal saya amati, apakah rengekan anak saya tersebut karena ibunya memberi keputusan dalam kondisi yang kurang tepat, ataukan hanya strategi sang anak untuk bisa memenuhi hasratnya makan coklat?

Apapun itu kesimpulannya, hal paling bijak adalah mengajak bicara sang ibu secara baik-baik. Di belakang, tanpa diketahui sang anak. Jika memang harus memutuskan tidak, maka ayah ambil alih tanggungjawab dengan mengatakan: Tidak!. Begitu pula sebaliknya.

Kasihan jika anak-anak ini harus ke sana ke mari mencari jawaban. Orangtua macam apa itu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here