Bukan Hanya Bikin ‘Vlog’ Tak Jelas

Ketika masih SMA, sulit sekali mendapatkan warnet yang mumpuni dalam hal kecepatan ataupun harga yang cocok untuk orang desa semacam saya. Hanya ada satu warnet langganan saya ketika itu, yakni di kantor Telkom.

Selepas sekolah saya sering menghabiskan waktu di sana. Tidak banyak yang saya kerjakan, mengingat kecepatan internet ketika itu tidak sekilat saat ini. Untuk membuka satu halaman saja butuh berlapis-lapis kesabaran jika ditakar dengan kecepatan internet saat ini. Akan tetapi saat itu, menunggu lebih satu menit untuk satu halaman website bukan barang yang aneh, wajar-wajar saja.

Tidak banyak konten yang saya tahu pada saat itu. Tempat room chatting pun hanya saya tahu dari plaza. Kebanyakan hanya browsing-browsing tak jelas. Karena bahasa inggris saya kualitasnya keterlaluan, situs yang dikunjungi pun terbatas yang berbahasa indonesia saja.

Intinya tak sebanyak saat ini sumber referensi bacaan ketika itu. Berita terbaru, artikel-artikel ringan, hanya itu. Tidak ada game, chatting pun sesekali dengan orang tak dikenal di luar sana, obrolkan hal-hal tak jelas ujung pangkalnya.

Semasa kuliah pun demikian. Tinggal di kota yang tak besar, menemukan warnet dengan kualitas kecepatan internet yang mumpuni juga bukan perkara mudah. Meski demikian, kegemaran saya untuk berselancar di dunia maya masih sangat kuat. Sebagai perokok berat, jatah uang untuk ke warnet masih lebih tinggi dibandingkan dengan uang untuk mengepulkan mulut dengan asap.

Internet saat itu punya peran penting bagi saya untuk banyak membuka kebuntuan diri. Menemani kesepian saya dengan hal-hal yang terkadang benar-benar saya ketahui ketika itu.

Bahkan suatu waktu saya ‘dituduh’ sebagai orang yang tahu semuanya, padahal saya hanya copy paste dari apa yang saya baca di internet dan mereka ketika itu masih belum punya kesempatan untuk menemukan kenikmatan berinternet.

Dunia internet membantu saya dalam banyak hal. Bisa belajar dari dunia luar saat secara fisik saya ‘terjebak’ di suatu daerah yang sulit untuk mendapatkan akses-akses informasi secara langsung. Membuka wawasan, menemukan banyak teman dan banyak lagi yang bisa saya dapati dari internet.

Meskipun harus diakui jika banyak juga konten-konten tak baik di internet, terutama di akhir-akhir ini. Materi tak sehat seperti pornografi jutaan kali lebih banyak dibanding saat saya masih SMA atau kuliah dulu. Mungkin juga karena saya dulu diselamatkan oleh kualitas koneksi internet yang tak mungkin putar video, download gambar saja perlu dibantu dengan tenaga dalam.

Penyakit baru berupa menyebarnya informasi hoax juga semakin marak di dunia maya, membuat internet semakin sesak. Akan tetapi hal-hal positif juga makin berjubel. Kini malah tidak hanya mendapatkan ilmu dari media internet, bahkan ada yang memanfaatkannya untuk mencari nafkah.

Meningkatnya pengguna internet seiring dengan membaiknya kualitas koneksi serta semakin mudahnya memiliki alat untuk mengaksesnya. Laptop bukan barang mewah lagi, kini hampir semua orang memiliki smartphone.

Jika dulu harus antri di warnet untuk mencari bahan untuk mengerjakan tugas perkuliahan, kini hanya dengan berbaring di ranjang sembari jempol mengetik ponsel sudah bisa.

Harga untuk berinternet juga sangat murah. Sangat jauh jika dibanding saat masih SMA, Telkomnet Instan seingat saya Rp. 190 per menit, dan untuk tarif melalui seluler bisa sampai Rp 12 per kb.

Sekali lagi harus diakui jika meningkatnya penggunanaan internet bukan berarti tanpa efek buruk. Akan tetapi akses informasi melalui jejaring internet menjadi kebutuhan masyarakat, baik itu pekerja dan juga pelajar.

Siswa kini bisa mengerjakan tugas dengan bantuan internet. Mahasiswa jauh lebih ringan dalam menyelesaikan studinya dengan cara aktif membanca referensi-referensi ilmiah yang tersedia di internet dan lain sebagainya.

Sekarang tinggal bagaimana membekali anak-anak, adik-adik kita untuk bijak dalam berinternet, dalam mengakses media sosial dan sejenisnya. Karena menutup pintu begitu saja kepada mereka agar tidak masuk ke wilayah dunia maya tentu saja tidak mungkin dan malah kontraproduktif terhadap proses belajarnya.

Hal ini yang menbuat saya sedikit terperanjak saat membaca berita mengenai Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan peringatan kepada penerima Kartu Indonesia Pintar agar tidak mempergunakan uang bantuannya untuk beli pulsa.

“Tidak boleh untuk beli pulsa. Kalau ketahuan beli pulsa, dicabut,” kata Presiden Jokowi saat menyerahkan bantuan sosial yang dilakukan di kantor Kecamatan Galang, Kota Batam, Kamis (23/3/2017), dikutip dari Tempo.

Presiden menyatakan jika bantuan tersebut harus dipergunakan untuk membeli keperluan sekolah, seperti untuk membeli seragam, sepatu, atau buku.

Pertanyaanya, memangnya pulsa tidak bisa untuk keperluan sekolah? Dipergunakan untuk akses internet dan mengerjaka tugas-tugas sekolah, memperluas wawasan?

Kenapa kemudian internet kemudian selalu identik dengan sesuatu yang merusak siswa? Saya kenal banyak orang yang kemudian terbuka kran ilmunya karena internet. Saya sering bertemu orang-orang yang kemudian bisa banyak tahu dan juga banyak berkomunikasi dengan dunia luar yang sebelumnya sulit ia akses karena keterbatasan geografis termpat ia tinggal. Tidak sedikit saya temui seseorang yang kemudian menemukan pintu rejeki dari internet. Meskipun banyak juga saya mengetahui teman-teman saya terperosok pada sisi negatif dari dunia awang-awang ini.

Saya hanya menekankan jika banyak anak muda di Indoensia ini kreatif dan bisa menemukan dunia positifnya melalui internet. Sangat banyak anak-anak muda Indonesia di Internet bukan hanya bikin vlog tidak jelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here