Manggung di Closing Ceremony Sekidai Yochien

211 views

Jumat (24/3/2017) yang lalu adalah hari terakhir anakku, Nahla di kelas Yuri. Bulan depan, Jepang akan memasuki tahun ajaran baru dan Nahla akan masuk kelas Sumire, kelas terakhir di Yochien (Taman Kanak-Kanak).

Sebagai sebuah ritual yang akan dijalani di hari terakhir sebelum liburan panjang adalah melakukan perform di acara closing ceremony dengan disaksikan para orang tua murid.

Kali ini selain menyanyi bersama, Nahla juga memaninkan alat musik. Kebetulan tidak seperti tahun sebelumnya atau perform yang lainnya, anakku pada kesempatan ini memainkan alat musik yang dipegangnya sendirian.

Sebelumnya, Nahla memainkan alat musik yang sama dengan satu dua teman lainnya. Sedangkan kali ini, tidak ada temannya yang memainkan alat itu selain dirinya. Bagi saya ini kemajuan dan mungkin sangat penting baginya. Paling tidak ini melatih kepercayaan dirinya, mengikuti musik tidak karena ‘nyontek’ teman sebelahnya, tetapi ini kemandirian dirinya dalam membaca intruksi sensei (guru).

Di Jepang, untuk tingkat TK, para siswa sudah diajar untuk sering manggung dan disaksikan oleh teman-temannya serta orangtua murid. Sedikitnya dalam setahun setidaknya ada empat acara resmi yang membuat anak-anak harus bernyanyi, main musik, main drama dan lain sebagainya. Itu semua disaksikan oleh wali murid.

Saya yakin, selain acara-acara tersebut, Nahla dan teman-temannya juga sering manggung. Paling tidak dengan disaksikan oleh rekan-rekannya sendiri, adik kelas atau kakak kelasnya.

Menurut saya manggung ini penting, memberikan pelajaran kepada anak-anak untuk percaya diri. Dengan bernyanyi, main drama atau bermain musik di hadapan banyak orang, anak-anak bisa melatih kemampuannya sekaligus menggerus rasa minder, meminimalisir keraguan-keraguan sekaligus membuat mereka berani mengekspresikan diri.

Saya dulu pernah punya teman yang jika di minta ke depan kelas sudah bisa dipastikan mengucur keringat dinginnya. Gemetar dan kehilangan kemampuan, padahal saya tahu sebenarnya dia menguasai apa yang diperintahkan. Akan tetapi, lantaran grogi, semua yang diketahuinya lenyap.

Nahla waktu datang ke Jepang adalah pribadi yang tertutup. Sulit bergaul dengan orang lain dan hampir tidak mau berkomunikasi selain ayah ibunya. Kini, dia sedikit demi sedikit mampu bersosialisasi, bicara dengan temannya. Meski demikian, masih belum bisa sepenuhnya punya keberanian dan kepercayaan diri seperti yang lainya. Tetapi saya percaya jika suatu saat nanti anak saya itu bisa mengatasinya, amin.

Berikut video Nahla yang tampil di acara closing ceremony di Sekidai Yochien, Kumamoto, Jepang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here