Sebutkan Satu Saja di Semesta Ini yang Tidak Berhubungan dengan Tuhan

263 views

Apakah ada di dunia yang tidak berhubungan dengan Tuhan?

Jika mendapati pertanyaan semacam itu, sebagai orang beragama, mampukah kita menjawab?

Semua hal pasti berhubungan dengan Tuhan. Apa saja yang ada di muka bumi dan semesta ini terkait dengan Penciptanya. Mulai dari manusia hingga seekor coro. Bintang di langit, gunung, bahkan debu yang berterbangan punya koneksitas dengan agama. Tidak sekedar peristiwa hujan, bunga yang mekar, padi yang tumbuh, bahkan (maaf) kentut pun sebenarnya punya hubungan dengan nilai-nilai religiusitas.

Namun belakangan makna agama sebagai ‘wakil’ nilai spiritualitas terkotak hanya yang berhubungan dengan ritual-ritual. Kitab suci, cara beribadah dan sejenisnya.

Jika Islam, nilai agama kemudian terdistorsi hingga dimaknai sebatas kitab suci Alquran, Sholat, Haji dan hal-hal lain sejenis itu. Lebih parahnya, agama kemudian didangkalkan hanya pada simbol-simbol wadag. Peci, sarung, gamis, bahasa dan hal-hal lain yang sifatnya hanya simbolik.

Maka pada suatu waktu saya menuliskan sebuah celotehan dengan judul “Ahok dan Gelandangan yang Mati di Depan Warung“. Di mana ada fenomena masyarakat yang sedemikian tersinggung jiwa keagamaanya saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bicara Alquran, namun merasa tidak ada penistaan agama pada peristiwa matinya gelandangan atau pencemaran laut.

Ada juga kelompok yang melarang umat kratif dalam hal beribadah. Konyolnya, dia mengimbau itu lewat sebuah meme. Apakah membuat meme itu bukan kreatifitas? Dan apakah menghimbau saudara seagama itu bukan bagian dari ibadah? Lucu jadinya, ia menyatakan mereka yang beribadah yang dikreatifi itu adalah bid’ah, padahal dia beribadah dengan cara membuat meme yang pastinya itu bentuk dari sebuah kreatifitas.

Agama itu meliputi segala hal. Tuhan itu ada di mana-mana. Kemanapun mata menghadap, di sana kita melihat Tuhan. Mengurusi anak yatim, menarik becak, membetulkan genting yang bocor hingga membuat partai politik adalah sebuah aktifas yang sepatutnya Tuhan dihadirkan.

Petani mencangkul sawah hingga ketua RT berikan surat-surat kepada rakyatnya selayaknya punya grafitasi kepada nilai spiritualitas. Jualan di pasar hingga berpolitik juga tak boleh lepas dari nilai-nilai agama jika memang mengaku bertuhan.

Agama harus hadir ke semua lini, masuk ke segala sudut guna menjaga agar tidak sampai ada yang offside. Politikus harus menggenggam nilai-nilai agama saat berpolitik, agar menjadi pagar agar tidak melakukan kedzoliman terhadap rakyat.

Pemimpin yang mengaku bertuhan wajib menggantungkan laku lampahnya terhadap tiang tauhid. Agama adalah pagar paling digdaya untuk membentengi pemimpin, pejabat dan politikus dari godaan untuk nyolong uang rakyat, dzalim terhadap negara.

Agama harus hadir dalam politik agar tidak ada kesewenang-wenangan. Nilai ketuhanan harus masuk dalam sistem pemerintahan untuk menjaga pelaksananya untuk tidak jahat dan juga untuk mendapatkan berkah serta pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Faktanya memang ada yang membawa agama ke politik, namun yang dominan bukan nilai Ketuhanan. Agama hanya dijadikan sebuah kuda tunggangan atas nafsu berkuasanya, keinginan untuk garong sebanyak-banyaknya kekayaan negara.

Akan tetapi, bukan berarti kemudian hal itu dijadikan alasan untuk memisahkan atau menjauhkan agama dari politik. Seolah-olah agama itu suci, dan politik itu kotor, hingga tak boleh disatukan.

Karena politik saat ini memang penuh kehinaan, maka perlu agama untuk membersihaknnya. Ataukah memang ada yang sengaja politik itu kotor hingga tak mau agama dimasukan untuk membersihkannya?

Terkadang saya berfikir, jika ada politikus yang menginginkan untuk menjauhkan politik dari agama, apakah itu pertanda jika mereka menikmati betul kehinaan dan najisnya politik saat ini?

Saya tercekat saat membaca pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017). Ia meminta agara agama dan politik dipisahkan.

“Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” kata Jokowi, dikutip dari Kompas.

Duh, Gusti….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here