Mari Bercermin di Bokong Inul

Mungkin kesimpulan saya ini salah, karena keterbatasan informasi atau kurang luasnya pengetahuan saya. Tahun 2003, saat Inul Daratista berada dipuncak sorotan publik karena ‘goyang ngebor’-nya, menurut saya masyarakat kebanyakan berada diposisi membela pedangdut asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut. Jikapun tidak terang-terangan mengurtarakan pembelaannya, mereka menyimpan rasa simpati padanya.

Meskipun goyang dangdutnya cukup berani, akan tetapi tidak ada yang spesial bagi masyarakat bawah. Sebabnya, atraksi yang ditampilkan oleh Inul di televisi sebenarnya sudah akrab di lingkungan mereka, di panggung-panggung dangdut daerah.

Inul hanya orang sedemikian berani memunculkan itu di televisi, itu saja. Sebab budaya goyang pantat dan gerakan seronok bukan barang asing. Sudah lazim terjadi di sudut-sudut kampung, di hajatan pernikahan atau sunatan.

Mereka memahami jika itu tak patut, namun perlakuan kepada Inul yang hingga harus dihakimi di depan media dan harus menangis seperti anak-anak dianggap sudah melewati batas. Itu sebabnya, banyak yang diam-diam menaruh simpati pada Inul.

Sinetron “Kenapa Harus Inul?” besutan Arswendo Atmowiloto cukup baik diterima masyakat meski sebelumnya Inul medapat kecaman dan pencekalan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama.

Banyak yang secara sembunyi atau terbuka menaruh simpati dan diterimanya sinetron adalah sebuah kesimpulan sederhana. Tanpa data ilmiah berdasarkan survey atau sejenisnya, hanya dari amatan sederhana saya terhadap lingkungan disekitar serta pemberitaan-pemberitaan di media.

Apa yang terjadi 14 tahun silam tersebut mengalami pergeseran. Sikap masyarakat berubah drastis terhadap Inul. Ketika pedangdut yang kini memiliki bisnis karaoke tersebut tersandung masalah dugaan penghinaan terhadap ulama, Inul jadi bulan-bulanan netizen.

Komentar Inul di instagram dianggap telah menyinggung dan bahkan melecehkan ulama. Ia pun kabarnya dilaporkan polisi oleh sekelompok orang yang menamakan diri Advokat Peduli Ulama.

Tak seperti dulu, Inul tak mendapatkan simpati dari publik. Ia bahkan diancam akan diboikot oleh masyarakat. Tagar #BoikotInulDaratista sempat jadi trending topic di twitter. Inul dihabisi kali ini.

Meski demikian, saya pun menemukan bahwa ada pihak-pihak yang kini tengah mencerca Inul karena dianggap lecehkan ulama, sebelumnya juga dengan gegap gempita memaki ulama. Saya memang memahami jika ada perbedaan dalam menentukan kriteria ulama.

Tapi sudahlah. Inti yang ingin saya sampaikan adalah adanya pergerakan sikap masyarakat terhadap Inul ini. Entah, apakah ini cerminan perbaikan moral masyarakat ataukah sebuah cerminan yang menunjukan betapa semakin banyaknya orang menjadi hipokrit? Mari sama-sama bercermin di bokong Inul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here