Sikap yang Bikin Gagal, Bahkan Sebelum Bisnis Dimulai

Beberapa tahun yang lalu seorang yang pernah sekantor dengan saya mencurahkan isi hatinya. Sedikit terlihat nada kegundahan dengan situasi hidupnya, terutama masalah pekerjaan. Ia lantas mengungkapkan cita-citanya untuk membuka usaha sendiri, tidak lagi jadi karyawan.

Sangat tegas ia menjelaskan jika ia ingin membuka usaha agar bisa mengatur waktunya sendiri. “Enak kerja sendiri bisa bebas nentuin waktu kerjanya” katanya padaku.

Saya memahami kenapa dia sampai berkeluh kesah seperti itu, karena saya tahu persis seperti apa jam kerja serta tekanan-tekanan yang diterimanya dari perusahaan. Ia harus sering lembur, jarang libur hingga sangat minim waktu untuk bisa bertemu keluarga atau sekedar memanjakan diri bermain dengan teman-temannya.

Keluhan mengenai jam kerja yang padat kemudian berangan-angan bisa punya usaha sendiri agar bisa santai juga bukan pertama kali saya dengar. Sudah sangat sering saya dengar para karyawan kantoran menggundahkan permasalahan ini.

Kepada teman saya yang gudah dan curhat tersebut saya tidak langsung banyak berceramah. Hanya berpesan bahwa sebenarnya apa yang dia cita-citakan itu tidak akan pernah tercapai jika sejak awal sudah keliru dalam berangan-angan.

“Kalaupun kamu usaha sendiri, yakinlah bahwa akan sulit sukses jika sedari awal engkau berfikir bisa santai” pesanku.

Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih sukses, jika sebelum benar-benar terjun, yang ada dibenaknya adalah kesantaian? Belum juga mulai berbisnis, sudah gagal menurut saya.

Menjadi karyawan sebuah perusahaan, kerja kantoran bekerja rata-rata delapan jam per hari. Misalkan saja harus lembur, karyawan biasanya harus kerja 10-12 jam seharinya. Meski saya juga tahu, ada juga pekerja yang sampai bekerja lebih dari 12 jam, itupun upah lemburnya sangat memprihatinkan.

Taruhlah ambil rata-ratanya saja, yakni 10 jam per hari dihabiskan untuk bekerja. Sisanya, karyawan bisa pulang dan istirahat. Jika hari libur pun terkadang bebas dari tanggung jawab pekerjaan. Saya punya teman yang jika sudah lewat jam kantor atau libur, ia sama sekali tak mau membalas email atau telepon yang berkenaan dengan pekerjaan.

Lantas bagaimana jika kita membuka usaha? Ketika sudah terjun ke dunia usaha, maka 24 jam waktu kita tersita untuk segala hal yang berhubungan dengan usaha tersebut.

Sepanjang waktu akan disibukkan dengan keluhan customer atau permintaan klien. Setiap saat meski memeras akal untuk bisa menjaga kesehatan keuangan usaha hingga bisa memenangi persaingan, sanggup membayar gaji karyawan, memikirkan ini dan itu, sangat banyak. Bahkan ketika liburan pun pedagang atau pengusaha tetap harus ribet dalam urusan bisnisnya.

Saya saat ini menjadi seorang freelancer. Banyak yang menganggap ini bukan sebuah pekerjaan, namun kenyataanya saya harus sibuk sepanjang waktu. Istri sempat ‘mengeluh’ jika saya yang jadi kurang banyak waktu untuk keluarga.

Ketika jalan-jalan bersama keluarga, tangan saya hampir tak lepas dari ponsel karena urusan dengan klien atau writer. Bahkan saat menemani anak ke taman, tidak sepenuhnya bisa bermain bersama. Sebab terkadang saya harus membuka tablet dan kemudian bekerja.

Cerita saya soal jalan-jalan bersama keluarga yang harus pegang ponsel atau membuka tablet ketika bermain di taman bukanlah sebuah keluhan. saya nikmati semua itu, sebab saya punya prinsip bahwa yang terpenting bukan kita menjadi apa, akan tetapi seberapa serius kita menjalani pekerjaan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here