Menjadi Penulis yang Tetap Waras

Aku nulis sambil sebel, hahahaa” kata seorang penulis.

Penulis ini saya tugasi membuat artikel yang bertentangan dengan kecenderungan politiknya, membahas sisi positif dari tokoh yang bersebarangan dengan sosok yang diidolaknnya.

Saya 100% paham jika penulis ini mengatakannya bukan sebagai keluhan apalagi protes terhadap tugas yang saya berikan. Saya menganggap itu candaan saja sekaligus menegaskan jika dirinya masih menyukai idolanya. Selain itu, rampungnya tugas yang saya berikan tersebut memberikan gambaran tentang betapa dirinya cukup profesional, menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sebenarnya tidak selaras dengan pilihan politiknya.

Toh, tulisan itu bukan hoax, apalagi fitnah. Hanya sebuah artikel yang memang jika di-publish bisa ‘menguntungkan’ sebuah kelompok atau tokoh.

Bagi saya, cukup baik jika bisa menerima sisi positif pihak lain yang secara politik bersebarangan dengan tokoh idola kita. Di lain waktu, sehat juga pikiran jika kemudian rela menerima kekurangan dari pihak yang selama ini kita puja.

Saat ini banyak yang jika sudah menyukai seorang tokoh, cenderung mengupas habis keburukan pihak lain yang bertentangan dengan idolanya itu. Seolah-olah, rivalnya tersebut tanpa sisi positif sedikitpun.

Hal lain adalah adalah ketidakmampuan mengakui kekurangan tokoh yang diidolakannya. Kemudian yang nampak adalah kekakuan atau lebih lanjut lagi malah terlihat keanehan, sebab menempatkan idolanya tersebut tanpa pernah punya dosa.

Terkadang ini juga soal gengsi. Jika sudah mengenalkan diri atau dikenal sebagai pihak yang mendukung seseorang, maka terusik harga dirinya kalau kemudian ketahuan memuji rival atau mengungkapkan kekurangan idola.

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kesempitan berfikir kebanyakan orang saat ini. Di media sosial. Misalkan saja saya memposting sisi negatif dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), maka akan banyak yang menuduh saya anti Ahok.

Suatu waktu saya mengkritik cara pendukung Anies Baswedan dalam mendiskreditkan Ahok dengan data atau argumen yang tidak tepat, maka tidak perlu lama, saya sudah didaulat sebagai pendukung Ahok.

Sempit. Cara berfikir berfikir kebanyakan netizen saat ini memang sesempit itu. Menilai orang hanya dari sepenggal komentar, itupun disalahpahami. Seperti yang saya gambarkan dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul: Anies Hanya Bikin Iklan, Saya Cuma Anak Gawang.

Itu sebabnya saya menilai jika menulis atau mempublikasi hal-hal yang bertentangan dengan pilihan atau kecenderungan politik kita bisa membuat diri kita tetap waras. Melepaskan diri dari kesempitan-kesempitan berfikir yang membuat diri kita jadi terlihat sebagai seorang yang konyol dalam bersikap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here