Kisah Fidelis Tanam Ganja dan Bocah Kelaparan di Pinggir Jalan

Kisah mengenai Fidelis Ari belakangan menjadi viral di media sosial. Kisahnya cukup banyak membuat masyarakat terharu saat istrinya Yeni Riawati meninggal dunia di RSUD Mth Jaman Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Sabtu (25/3/2017). Kematian Yeni dihubung-hubungkan dengan Fidelis yang mendekap di penjara beberapa minggu sebelumnya.

Yeni dipercaya menghembuskan nafas terakhirnya setelah tidak mendapatkan pengobatan dari suaminya menggunakan ekstrak daun ganja.

Fidelis ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) lantaran menanam ganja di halaman rumah. Tanaman ganja yang dipakai untuk mengobati penyakit sumsum tulang belakang Yeni pun ikut disita.

Kerabat Fidelis mengaku jika Yeni sempat membaik keadaanya selepas mendapatkan pengobatan menggunakan daun ganja.

“Dari susah tidur, jadi nyenyak tidurnya. Dari susah makan, jadi lahap makannya. Dari tidak bisa bicara, jadi bisa bicara. Jadi sudah ada tanda-tanda kesembuhan,” ujar Yohana, kakak Fidelis Ari, dikutip dari merdeka.com.

Sementara itu, Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso (Buwas) menegaskan jika pihaknya akan tetap memproses kasus Fidelis secara hukum. “Tetap saja diproses! Kan ada larangan menanam ganja,” tegas jenderal bintang tiga tersebut, Jumat (31/3/2017), dikutip dari gatra.com.

Ia menyatakan jika memang untuk pengobatan harus dibuktikan secara medis. Itu dari mana penyembuhannya, kan harus dibuktikan. Penyembuhan itu kan harus melalui medis. Kata siapa itu menyembuhkan?” jelas Buwas.

Membaca kasus Fidelis menanam ganja ini membuat saya jadi ingat sebuah kisah retorik dari seorang guru mengenai pengemis yang kelaparan di pinggir jalan.

“Saat kamu pulang dari sini lantas melihat bocah kecil duduk lemas di pinggir jalan, mukanya pucat memelas, sepertinya dia lapar. Lantas kamu lewati saja tanpa menghiraukannya, apakah itu secara hukum kamu salah?” tanya sang guru.

“Tidak ada hukum negara yang kamu langgar, namun secara moral kamu merasa jika tindakanmu tersebut salah. Jadi mana yang lebih utama, hukum atau akhlak? Masih kalian membangga-bangakan supremasi hukum?” sambung guru tersebut.

Mengenai kasus Fidelis saya tidak berani berkesimpulan apapun. Saya memiliki jarak yang teramat jauh dengan fakta sesungguhnya. Akan tetapi saya sekedar menangkap sebuah pesan mengenai apa yang dialami oleh pria beranak satu tersebut berdasar dari paparan media.

Apa yang terjadi dengan Fidelis tersebut banyak terjadi di masyarakat kebanyakan. Bukan dalam hal tanam ganjanya, akan tetapi dari gesekan-gesekan yang terjadi karena sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi sebuah fenomena. Pihak lain memandang dengan menggunakan kacamata hukum, pihak lainnya menakarnya pakai pertimbangan moralitas, cinta, keindahan dan lain sebagainya.

Jika kisah ini benar, maka Fidelis menanam ganja karena getaran-getaran cinta terhadap istri dan keluarga. Sementara itu, Buwas sebagai aparat hukum bekerja menggunakan batasan undang-undang.

Tanam ganja itu secara undang-undang salah, jika memang berdalih untuk pengobatan maka harus punya rujukan ilmiah. Karena undang-undang pun hanya percaya koridor medis yang ilmiah. Jika misalkan diberikan kesaksian seorang dukun, pasti ditolak, karena tidak ilmiah. Itulah hukum yang memang sifatnya cenderung ‘padat’.

Hukum pun kini memang menjadi sesuatu yang superior. Bahkan banyak yang menyuarakan supremasi hukum, atau negara hukum. Hukum ditempatkan sebagai sesuatu yang paling utama. Maka tidak perlu kaget jika dalam banyak kasus akhirnya moralitas ditempatkan sebagai sesuatu yang minor.

Hukum memandang seorang pejabat yang korupsi karena serakah sama dengan orang yang mengambil beras tanpa ijin di sebuah kios di pasar karena kelaparan. Keduanya secara hukum negara ditempatkan pada posisi yang sama: pencuri.

Padahal sudah jelas dalam kisah retorik tentang seorang anak yang kelaparan di pinggir jalan tersebut menjadi bukti bahwa hukum sebenarnya sebuah elemen yang cukup dangkal, sehingga tidak optimal dalam melindungi kemanusiaan.

Bukan meniadakan hukum, akan tetapi kemudian meletakannya sebagai yang supreme tentu bukan pilihan yang benar-benar bijak. Harus mampu membuat takaran-takaran yang presisi mengenai hal tersebut.

Sebagai muslim tentu kita mengenal zakat. Secara fiqh atau dalam koridor hukum Islam, muslim wajib mengeluarkan zakat sebanyak 2,5 persen dari hartanya. Namun akhlak bisa mendorong seseorang mensedekahkan 20 persen, bahkan pada maqom tertentu seseorang bisa melepaskan 90 persen atau lebih dari keseluruhan hartanya.

Kini malah muncul fenomena yang bagi saya cukup menggelikan. Di mana ada sekelompok pihak yang menyuarakan hukum agama sembari memekik “kebenaran harus dikatakan meski pahit”.

Berdalih menyampaikan kebenaran mereka kemudian menabrak garis-garis kesopanan, mengabaikan kesantunan dan lain-lain. Bahkan kebenaran yang mereka maksud pun adalah kebenaran versi mereka tanpa pernah menelaah jika ada pihak lain yang punya versi berbeda.

Sehingga sekarang ada yang merasa dirinya benar lantas dengan pongah dan ruang publik menyalahkan atau bahkan memperolok kebiasan-kebiasaan masyarakat yang sudah membudaya. Mereka berdakwah secara berapi-api sambil memperolok-olok pihak lain. Tidak pernah peduli apakah ada yang sakit hati atau tidak.

Perilaku sejenis itu lantas menempatkan hukum hanya jadi soal benar dan salah, sifatnya sangat statis. Padahal dalam bermasyarakat kita tidak hanya berpegang pada benar-salah, kita juga memiliki pertimbangan-pertimbangan seperti pantas ataukah tidak pantas, indah apa jelek, sopan ataukah kurang ajar dan lain sebagainya.

Jadi jika memandang Fidelis dan sikap Buwas, jangan memulu pakai takaran siapa yang benar dan siapa yang salah. Pertama, kita bukan hakim. Kedua, kita tak perlu jadi sedangkal itu dalam berkesimpulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here