Video Kampanye Ahok-Djarot yang Dinilai Rasis dan Nenekku yang Jadi Korban

224 views

Menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran ke dua, pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat diterpa isu tak sedap yang berawal dari sebuah video kampanye. Tidak sedikit warga pengguna internet yang mengecam video yang dianggap berbau rasis tersebut. Bahkan tagar #KampanyeAhokJahat sempat jadi trending di media sosial.

Hal yang menjadi sorotan dalam video tersebut ada di bagian awal, sekitar detik ke sembilan. Ditampilkan beberapa lelaki mengenakan peci dan berbaju putih sedang berteriak-teriak, semeptara itu dibagian belakang nampak spanduk bertuliskan “Ganyang Cina”.

“Saudara-saudaraku, seluruh warga Jakarta, waktu sudah mulai dekat. Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini dan akan kita tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta,” kata Djarot dalam video tersebut.

Saya sendiri tidak menyoal tujuan iklannya, pesannya pun saya bisa tangkap. Apa yang ingin disampaikan sepertinya cukup wajar, boleh juga dikategorikan bagus. Akan tetapi, ada ketidakmampuan dalam menuangkan ide secara bijak, simbol yang digunakan dalam video tersebut meleset dari maksudnya.

Ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara radikal dalam mengekspresikan keislamannya adalah sebuah kenyataan, itu fakta. Sejak bertahun-tahun yang lalu saya sudah menuliskan ketidaksetujuan saya terhadap perilaku para gerombolan yang bertindak kasar dengan mengatasnamakan agama.

Akan tetapi, dalam video tersebut kurang mampu menggambarkan bahwa yang disasar adalah kelompok-kelompok kasar tersebut. Menampilkan pria berpeci dan berbaju putih jadi sangat umum, karena itu bisa diterjemahkan sebagai generalisasi umat Islam.

Tafsiran bahwa itu dianggap sebagai umat Islam secara umum bukan sekedar karena materinya yang tidak cocok. Momentum Pilkada yang sebelumnya sudah sangat panas tentang isu agama serta posisi penyampai adalah pihak yang selama ini diletakan sebagai kelompok yang sedang menjadi “musuh” umat muslim juga punya pengaruh terhadap terjemahan iklan tersebut.

Saya sempat menduga jika iklan tersebut misalnya tidak dipublish pada masa Pilkada yang yang sudah penuh polemik ini maka tidak akan jadi permasalahan besar. Misalnya saja yang menyampaikan bukan kelompoknya Ahok-Djarot, tetapi dari ormas Islam maka ada kemungkinan itu bukan dianggap sebagai ‘serangan’, namun sebuah autokritik terhadap perilaku sebagian dari umat Islam.

Saya menggunakan analogi tentang ISIS yang melakukan pembunuh keji, lantas di negara-negara barat mengartikan bahwa Islam ada agama yang penuh kekejian, tentu saja muslim kebanyakan akan protes.

Simak pengakuan mahasiswi Cina yang saya temui di Jepang tentang Islam yang telah saya tulis sebelumnya (Baca: Perilaku Muslim dan Pandangan Mahasiswi Cina) . Ia secara terbuka mengira bahwa Islam adalah agama yang penuh kekerasan dan itu semua ia dapati dari informasi-informasi yang diterimanya dari media. Tentu saja generalisasi seperti ini tidak baik dan sudah pasti salah.

Semua adalah gambaran media selama ini. Ketidakakuratan dalam penyampaian sehingga yang tertangkap adalah sesuatu yang tidak presisi. ISIS kejam, kemudian digeneralisasi Islam kejam. Video kampanye Ahok-Djarot tersebut kira-kira sebanding dengan soalan tersebut, ada kesan generalisasi yang nantinya berpotensi tidak tepat sasarannya.

Adanya kelompok-kelompok radikal yang membawa bendera Islam adalah sebuah persoalan ganda bagi umat Muslim Indonesia. Dalam kacamata keutuhan bangsa, kelompok tersebut cukup mengusik. Dari sudut pandang keislaman juga masalah, karena bisa memperburuk citra agama Islam.

Karena problem itulah yang kemudian memancing timbulnya polemik. Perdebatan panjang para netizen terjadi di mana-mana. Saya terlibat dalam beberapa diskusi (mungkin tidak tepat juga dianggap diskusi) di facebook.

Perdebatan yang menarik perhatian saya berlangsung di wall sahabat saya. Ia menyatakan ketidaksenangannya terhadap iklan tesebut. “Nggak punya ide kreatif? Jangan ganggu kami!!!” tulis wanita yang usianya di atas saya tersebut.

Saya kaget, sahabat saya yang selama ini saya kenal sebagai sosok yang santun dan respek pada siapapun tiba-tiba jadi bahan celaan. Dia termasuk orang yang selama ini sangat ‘lepas’ dalam mengutarakan pendapatnya. Lepas yang saya maksudkan adalah tidak membela seorang tokoh secara membabi buta, juga tidak menyerang sosok yang dikritisi secara kasar.

Wanita mualaf ini terpantau oleh saya suka memberikan kritik kepada tokoh yang menurut tebakan saya sebenarnya dia idolakan. Ia tidak segan melontarkan komentar minus kepada tokoh yang sebelumnya ia puji prestasinya.

Intinya ia selama ini saya anggap sebagai orang yang cukup fair dalam menilai sesuatu. Meskipun saya tahu, terkadang ibu ini punya kecenderungan untuk membela seorang tokoh.

Meski hanya lewat internet, saya mengenal ibu berjilbab ini semenjak tahun 2009 di sebuah forum, kompasiana. Memang baru kali ini saya melihat ibu yang tinggal di Bandung ini menggunakan diksi agak kasar, “kampanye bodoh“.

Namun saya memahami nuansa kebatianannya. Terkadang saya juga sengaja menggunakan kata kasar untuk memberikan tekanan-tekanan tertentu, meski demikian itu hanya saya lakukan di media sosial tak lebih dari lima kali (seingat saya).

Hal yang membuat saya kaget adalah komentar yang membanjiri kolom komentar ibu yang selama ini saya kenal ramah itu. Ia dikecam habis-habisan setelah menunjukan ketidaksetujuannya terhadap iklan tersebut.

Bukan bermaksud membela, akan tetapi sekedar mengungkapkan pendapat saya mengenai keniscayaan bahwa iklan tersebut memang punya potensi untuk dikritisi. Iklan itu menampilkan sebuah materi yang cukup bisa dijadikan alasan beberapa orang untuk tersinggung.

Konyolnya, sebagian orang yang membela iklan tersebut tak bisa menangkap maksud ‘kemarahan’ sahabat saya tersebut. Ia dan termasuk saya yang berusaha memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu yang memang tidak cocok dalam iklan tersebut langsung dianggap sebagai golongan yang membela kelompok radikal.

Dimensinya sangat luas, kemungkinan bisa sangat banyak. Namun tiba-tiba diperdangkal , didikotomikan secara konyol bahwa yang mengkritisi iklan langsung digolongkan sebagai pembela kelompok radikal. Ini akrobat pemikiran yang cukup ciamik.

Bahkan saat mulai tidak mampu berargumen secara sehat, sang pembela iklan tersebut lantas memaki nenek saya.

Saya tertawa habis-habisan melihat fenomena ini. Bagaimana bisa ada orang yang getol menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap kelompok radikal namun tutur katanya juga kasar, bahkan mengolok-olok? Kurang lucu apa lagi coba?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here