Ardian Syaf, Menentukan Garis Batas dalam Bekerja

Ardian Syaf belakangan jadi bahan perbincangan publik. Komikus yang berkarir di kancah internasional tersebut membuat sesuatu yang cukup menghebohkan.

Pria asal Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Jawa Timur, yang telah bekerja sebagai illustrator komik kelas dunia tersebut menyelipkan sebuah pesan mengenai aksi 212 dan polemik Al Maidah 51 yang tengah menghangat di Tanah Air.

Ardian menulis “QS: 5:51” yang berkaitan dengan Al Maidah (surat ke 5 dalam Alquran) serta 51 sebagai ayatnya. Tulisan itu disematkan di baju salah satu tokoh mutan dalam komik. Selanjutnya, pria lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini menggambar angka “212” sebagai plang sebuah toko. Hal itu dinilai sebagai pesan mengenai aksi 212 yang sempat menggemparkan Indonesia akhir tahun lalu.

Sepertinya pesan-pesan seperti itu tidak akan jadi gonjang-ganjing jika tampil di komik biasa. Namun menjadi heboh lantaran itu tampil di komik sekelas Marvel.

Saya sendiri tidak kaget jika seorang seniman kemudian menyelipkan pesan-pesan tertentu dalam karyanya. Toh, Ardian bukan kali pertama melakukannya. Ia juga tercatat telah beberapa kali melipkan unsur-unsur yang cukup subjektif di karya-karyanya untuk perusahan asing tersebut.

Pada komik Batgirl edisi The New 52 Nomor 9: Night of the Owls, terbitan DC Comics yang ia kerjakan pernah juga ia selipkan gambar baliho yang ada wajah Joko Widodo (Jokowi). Itu terbitan 2012 yang kebetulan saat itu Jokowi sedang maju Pilkada DKI Jakarta dan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Berdasarkan pernyataanya di kompas.com, Ardian Syaf tidak menampik jika itu bagian dari rasa simpatinya terhadap Jokowi.

Pernah juga pria yang akrab disapa Aan itu di komik hasil karyanya juga mengguratkan topi bertuliskan “The Great Help City” yang merupakan istilah lain dari Kota Tulungagung, tengkorak yang mengenakan blangkon, bahkan ia juga pernah menggambar burung Garuda di Washington D.C.

Namun kenapa kemudian pesan “212” dan “QS 5:51” membuat Ardian harus menerima keputusan bahwa karirnya di Marvel harus berhenti? Tentu saja akan banyak jawaban, tergantung sudut pandang.

Toh, sebenarnya pesan-pesan yang diselipkan oleh Ardian sendiri tidak disadari oleh editor ataupun pembaca yang di luar negeri. Gejolak itu sendiri ternyata hadir di Indonesia.

Dear Marvel Comics… Saya menemukan pesan tersembunyi berisi kebencian terhadap minoritas di komik X-Men Gold. Dia (Ardian) menggunakan komik Anda untuk menyebarkan kebencian terhadap non-muslim di Indonesia,” tulis seorang pengguna Facebook dari Indonesia yang bernama Haykal Al-Qasimi.

Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan Haykal tersebut. Bagaimana mungkin “QS 5:51” dan “212” diterjemahkan sebagai kebencian terhadap non-muslim? Melesetnya terlampau jauh bahkan sudah sangat tendensius. Ini bisa jadi perkara lain lagi.

Meski demikian, saya berpendapat jika tindakan Ardian tersebut kurang patut. Seniman bisa saja menyelipkan sebuah pesan dalam karyanya, akan tetapi ia saat itu berposisi sebagai illustrator yang mana karya tersebut tidak sepenuhnya milik dia.

Hal ini berkaitan soal profesionalitas. Rasanya kurang bijak jika kemudian memasukan unsur-unsur subjektif dalam sebuah karya yang sebenarnya bukan 100 persen miliknya. Meski sebenarnya pesan yang ia sisipkan tersebut tidak mempengaruhi jalan cerita.

Di samping itu, pesan yang disematkan kali ini cukup sensitif, sangat berbeda dengan pesan-pesan sebelumnya, seperti soal Jokowi atau Garuda. Marvel sendiri mungkin saja seperti banyak perusahaan dari negara barat yang punya sentimen tersendiri terhadap isu-isu SARA.

Saya sendiri pernah bekerja untuk orang lain untuk mengisi sebuah website yang cukup lumayan pengunjungnya, kurang lebih empat juta pengunjung per pebulan. Saya punya kebebasan yang luar biasa dalam menentukan konten dan bahkan sebenarnya diijinkan untuk menuangkan pendapat yang sifatnya subjektif.

Akan tetapi saya memilih hati-hati dan tetap bekerja secara berimbang, meski harus saya akui bahwa saya pasti punya kecenderungan-kecenderungan untuk memihak atau condong ke sebuah gagasan tertentu.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa saya juga pernah secara sengaja menugasi seorang penulis untuk mengulas ‘sisi positif’ seorang tokoh. Penulis saya ini sebenarnya kurang suka dengan tokoh ini karena berseberangan dengan tokoh yang sedang diidolakan. Ternyata penulis saya itu mengerjakannya dengan cukup baik, namun secara jujur mengatakan kurang suka dalam mengerjakannya. Rampungnya tulisan itu menunjukan bahwa penulis saya tersebut cukup profesional. (Baca: Menjadi Penulis yang Tetap Waras)

Kadang memang harus jengah karena mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan pilihan politik, tidak selaras dengan kecondongan diri terhadap paham tertentu dan lain sebagainya. Itu memang sebuah tantangan sekaligus membuka peluang agar diri tetap bisa waras karena bersedia menerima informasi-informasi yang tak sejalan dengan gagasan pribadi.

Hal paling penting adalah kemampuan menentukan batasan-batasan untuk diri sendiri saat memasuki sebuah pekerjaan yang diberikan klien. Harus tegas menentukan sampai batas mana hingga bisa mentoleransi sebuah kerjaan. Saya sendiri tegas sejak awal mengatakan bahwa saya tidak mau mengerjakan sesuatu yang jelas-jelas hoax, berarapapun bayarannya.

Selain menentukan ‘batasan bawah’ tersebut, yakni garis paling terakhir pekerjaan yang tak disukainya, jangan lupa juga menentukan ‘batasan atas’.

Jika ‘batas bawah’ saya adalah tidak mau mengerjakan sesuatu yang sifatnya hoax, batasan atas saya adalah mengenai takaran sampai di mana bisa menampilkan gagasan yang selaras dengan kecenderungan politik atau paham yang saya anut. Meski pemilik website sebenarnya memberikan kebebasan, saya tetap punya garis batas tersendiri hingga tidak menciderai profesionalitas serta etika bekerja.

Itu sebabnya saya menilai Ardian Syaf cukup gegabah dalam menyematkan pesan-pesan yang menurut saya sudah cukup subjektif tersebut. Terlebih lagi, itu pesan yang tak mudah untuk diterima oleh masyarakat barat yang memang sedang kurang nyaman dengan isu SARA, terutama Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here