Surat Kartini yang Terselip di Kebaya

329 views

Bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini setiap 21 April. Raden Ajeng Kartini menjadi bagian dari sejarah kebangkitan perempuan. Sosok yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah tersebut terkenal sebagai tokoh yang mempelopori kesetaraan derajad antara wanita dan lelaki.

Tak perlu saya utarakan sejarah mengenai Kartini secara detail, sangat banyak informasi mengenai anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dari istri pertamanya, M.A. Ngasirah tersebut. Tak terhitung artikel yang menceritakan perjuangan Kartini hingga kemudian sekarang dikenal dengan nama yang cukup harum.

Kartini dikenal dan menjadi sorotan melalui tulisan-tulisannya. Ia memulai menulis ketika ayahnya melarang dirinya melanjutkan sekolah setelah sebelumnya mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS). Usianya ketika itu terbilang masih cukup muda, 12 tahun, namun sudah berkorespondensi dengan kenalannya di negeri Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya.

Salah satu rekan Kartini di Eropa adalah Rosa Abendanon. Melalui Abendanon, Kartini kemudian membaca surat kabar Eropa serta beberapa buku lainnya. Dari situlah Kartini kemudian mengetahui bahwa wanita Eropa sudah cukup maju, sangat berbeda dengan perempuan Indonesia yang ada disekitarnya.

Belum genap usia 20 tahun, Kartini telah melahap banyak buku, diantaranya De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner.

Selain aktif berkorespondensi, Kartini juga mengirimkan hasil tulisannya ke media. Kartini yang terbilang muda sudah mengirimkan buah pikirnya ke majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie.

Singkat cerita, Kartini kemudian meninggal di usia 25 tahun. Ia wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Meninggalnya Kartini tersebut menjadi sebuah tonggak sejarah, di mana salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mencoba ngumpulkan surat-surat yang di tulis Kartini kepada teman-temannya di Eropa.

Hasilnya, kumpulan surat-surat tersebut dibukukan dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht yang secara harfiah bisa diartikan “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku itu diterbitkan dalam Bahasa Belanda pada tahun 1911.

Buah pikiran Kartini tersebut tidak bisa diserap oleh orang-orang pribumi kebanyakan karena terkendala bahasa. Hingga akhirnya, pada 1922, Balai Pustaka menerbitkan dengan bahasa Melayu yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran”.

Selanjutnya, pada 1938, salah satu sastrawan Armin Pane juga menterjemahkan buku Kartini tersebut dengan versinya sendiri dan memberinya judul “habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saya sengaja mengulik sejarah Kartini dari sisi surat dan buku. Karena menurut saya belakangan hal tersebut seperti terlupakan oleh publik kebanyakan. Kegiatan Kartini dalam hal baca dan tulis ini lantas tertutupi oleh isu besar bernama emansipasi dan kesetaraan gender.

Ketika 21 April, yang muncul di televisi dan media-media untuk menggambarkan persamaan wanita dan pria adalah dengan cara menampilkan perempuan yang menjadi pilot, sopir truk, pemimpin perusahaan dan sejenisnya. Saat 21 April, peringatan-peringatan Hari Kartini lantas sangat identik dengan kebaya dan pakaian adat.

Saya tidak mengatakan itu salah, akan tetapi saya merasa ada ruh dari Kartini yang dilupakan dan tinggalkan. Jika sudah peringatan Hari Kartini, maka yang memenuhi halaman facebook saya hanya anak-anak atau pegawai kantor yang pamer foto mengenakan kebaya. Akan tetapi belum pernah saya jumpai ada peringatan Hari Kartini dengan mengadakan lomba menulis.

Mungkin saja ada yang membuat lomba seperti itu dan saya terlewatkan, akan tetapi saya yakin jumlahnya sangat sedikit hingga tenggelam oleh hiruk pikuk kebaya.

Kartini dianggap hebat karena di usia belasan telah punya pemikiran yang lebih maju dibanding orang sekitarnya. Semua buah pikirnya tersebut tertuang lewat tulisan yang dikirmkan ke teman-temannya atau media massa.

Kartini memang berkebaya dan kita mengingat beliau dengan cara berkebaya juga tidak salah. Namun apakah tidak lebih baik jika kita sedikit bergeser dan fokus pada kegiatan-kegiatan lain dari istri dari K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat tersebut? Jangan sampai surat dan tulisan Kartini terselip di Kabaya dan kemudian hilang.

Agar dikemudian hari tidak ada yang terbesit untuk mengubah Hari Kartini dengan Hari Kebaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here