Peneliti Mengkaji Gigi Singa Tsavo yang Pernah Memakan 35 Manusia

© phys.org

LazNews! – Para peneliti tengah melakukan uji mikroskopis pada gigi singa Tsavo yang sangat legendaris, di mana singa tersebut pernah melakukan teror dengan memakan 35 orang yang berada di sebuah Kamp kereta api, di Kenya, Afrika pada tahun 1898.

“Hasil dari penelitian kami menunjukkan bahwa singa sebenarnya tidak ingin memangsa manusia, tapi hnya sebagai cara menyelesaikan masalah (manusia dianggap musuh atau karena kelaparan),” kata Larisa DeSantis, asisten profesor bidang lingkungan bumi dan lingkungan di Universitas Vanderbilt.

Penelitian ini dilakukan bersama Bruce Patterson, MacArthur Curator of Mammals di The Field Museum of Natural History di Chicago, yang dijelaskan dalam sebuah makalah berjudul “Perilaku diet singa pemakan manusia yang ditunjukkan dari tekstur microwear gigi”, dan telah dipublikasikan secara online 19 Apr. Oleh jurnal Nature: Scientific Reports.

“Sulit untuk memahami motivasi hewan yang hidup lebih dari seratus tahun yang lalu, namun spesimen ilmiah memungkinkan kita melakukan hal itu, Untung saja The Field Museum masih menyimpan sisa-sisa (tulang belulang) singa ini, sehingga kita dapat mempelajarinya,” kata Patterson, yang telah mempelajari singa Tsavo secara ekstensif.

Peneliti menggunakan analisis mikroskop dengan menggunakan spesimen tiga gigi singa pemakan manusia, yaitu dua singa Tsavo dan satu singa dari Mfuwe, Zambia. Singa Mfuwe tersebut pernah memakan enam orang pada tahun 1991. Analisis ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang sifat makanan hewani pada hari dan minggu sebelum kematiannya.

DeSantis dan Patterson melakukan penelitian untuk menyelidiki sebuah teori, bahwa kekurangan mangsa mungkin telah mendorong singa untuk memakan manusia. Pada saat itu, wilayah Tsavo mengalami kekeringan selama dua tahun dan terjadi musibah infeksi rinderpest yang merusak kehidupan liar setempat.

Para peneliti mengatakan, pada singa pemakan manusia secara mikroskopik gigi mereka terlihat mirip dengan hyena, di mana hyena terbentuk akibat singa terus mengunyah dan mencerna tulang mangsanya. Namun para peneliti melihat hal yang berbeda pada keausan gigi-gigi singa tersebut.

“Meskipun ada laporan kontemporer tentang suara singa yang mengunyah tulang-tulang korban mereka di tepi perkemahan, namun gigi si Tsavo tidak menunjukkan pola gigi pemakan tulang. Sebenarnya, pola keausan pada gigi mereka sangat mirip dengan singa kebun binatang yang biasanya tersedia dengan makanan ringan seperti daging sapi dan kuda-kuda,” kata DeSantis.

Hingga saat ini para peneliti masih ragu, apakah singa Tsavo dan Mfuwe memang memiliki kebiasaan  memakan daging dan tulang manusia atau tidak, sehingga harus ada penelitian lanjutan dan pembanding yang akan dilakukan. Meskipun menurut bukti antropologis, manusia adalah salah satu menu makanan singa, tapi belum dapat membuktikan secara ilmiah bahwa hal itu dibenarkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here