Istriku Seorang Peramal

Suatu malam istriku berpesan jika esok hari kemungkinan besar akan turun hujan. Ia mengingatkanku soal perlengkapan agar tidak kebasahan ketika mengantar dan menjemput anakku ke sekolah.

Esoknya hujan benar-benar terjadi. Semenjak pagi saat mengantar hingga tiba waktunya menjemput Nahla, hujan terus menguyur.

Saktikah istriku? Apakah ia punya kemampuan untuk meramal?

Tidak, ia hanya memanfaatkan aplikasi di ponselnya. Melalui sebuah aplikasi, ia bisa melihat ramalan cuaca. Mulai dari tingkat curah hujan hingga jam turun dan berhentinya hujan.

Bayangan saya tiba-tiba menuju pada orang-orang dimasa lampau yang punya kemampuan menebak sebuah kejadian di esok harinya.

Para penebak itu kemudian diidentikan kepada sesuatu yang mistis, bahkan didekatkan pada perbuatan syirik atau hal-hal yang negatif lainnya dalam kaca pandang agama.

Kenapa orang terdahulu atau seseorang yang tidak punya dasar keilmiahan ketika menebak hari depan dituduh sebagai kesyirikan atau sesuatu yang berbau mistis? Akan tetapi orang-orang yang mampu memprediksi hari selanjutnya menggunakan sumberdaya yang berdasar teori ilmiah dianggap wajar?

Kita yang hidup dalam masyarakat yang semakin hari semakin ‘maju’ dalam teori-teori ilmiah kemudian menempatkan kemampuan orang lain yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai sesuatu yang mistis, tahayul.

Kita lantas berbangga dan menepuk dada saat sebuah aplikasi ponsel dan teknologi terkini yang mampu meramal esok ada hujan. Padahal, Mbah Buyut kita dulu juga ada yang punya kemampuan seperti itu. Namun karena tak pernah terdefinisikan secara ilmiah, maka kemampuan mereka itu kita tempatkan pada kategori tahayul.

Jaman sekarang, jika ada yang sakit kemudian dibawa ke dukun maka akan sulit diterima oleh akal sehat orang modern. Sudah hampir dipastikan, perilaku seperti itu punya peluang cukup besar untuk dituduh syirik.

Mereka yang sudah percaya dunia kedokteran akan sangat percaya dengan pil dari apotik dibandingkan air suwuk dari ‘orang pintar’. Percaya dengan air yang didoai atau dimantrai akan dikategorikan syirik, tetapi percaya dengan obat-obatan dari dokter tidak.

Suatu hari ada teman yang saya tebak sedang bergairah untuk mengekspresikan keislamannya lantas mensyirik-syirikan kebiasan wanita hamil yang membawa peniti. Kemudian saya bilang dengan nada menyindir bahwa percaya dokter juga syirik.

Bagaimana bisa kita menilai negatif wanita yang membawa peniti, dianggap sebagai sebuah tindakan syirik, namun tak pernah risau dengan jutaan ibu-ibu yang menggantungkan keselamatan janin dikandungannya kepada hasil USG, bidan serta dokter?

Lantas apa bedanya orang yang percaya peniti dengan yang percaya pil dari dokter?

Anak saya beberapa hari lalu sakit. Setelah saya bawa ke dokter dinyatakan kena sebuah penyakit yang cukup banyak ditakutkan oleh orang Jepang.

Setelah diberi obat, saya bawa pulang. Hari pertama Nahla nampak lemas, dan suhu badannya tinggi. Untuk duduk saja dia kesulitan, hingga harus saya pangku ketika akan makan dan minum obatnya.

Saat memberikan obat, secara demonstratif saya tiup air dalam gelas yang akan saya berikan. Sengaja saya perlihatkan kepada bocah itu ketika mulutku komat-kamit sebelum meniup air dalam gelas. Semua saya lakukan untuk sedikit mengenalkan sesuatu yang mungkin suatu saat ketika dia besar nanti hal itu dianggap tak masuk akal dan konyol.

Saya juga sedang mengajarinya tentang pentingnya doa. Tidak ada obat yang manjur, tidak juga air suwuk yang mujarab, kesembuhan bersumber dari Allah melalui apa saja, sesuai kehendak-Nya.

Istriku seorang peramal meskipun melalui media aplikasi di ponselnya. Sama dengan Mbah Buyut kita yang juga punya kemampuan sejenis namun menggunakan media yang belum terdefinisikan oleh terbatasnya akal pikir kita.

Keduanya salah atau tidak dimata agama bukan soal tebakannya terhadap hari esok. Titik pentingnya adalah bagaimana hatinya menempatkan ramalannya tersebut digenggam oleh kuasa siapa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here