Para Ahli Berpendapat Menebang Pohon Bisa Menjadi Solusi Masalah Air

© pexels.com

Efek negatif rumah kaca yang tidak dapat dihindari adalah global warming, di mana suhu di permukaan bumi meningkat dan tingkat kekeringan meluas hingga ke pelosok dunia. Kekeringan yang ditimbulkan membuat pepohonan mendapatkan sedikit air untuk pemenuhan terjadinya siklus air pada tumbuhan.

Luas hutan di dunia semakin berkurang, terlebih  lagi pohon adalah salah satu penyerap karbon dioksida dan karbon monoksida yang dapat merusak atmosfer bumi. Oleh karena itu permasalahan global warming semakin kompleks dengan adanya pengurangan luas dari hutan.

Contohnya saja, hutan di Amerika Serikat mampu menyerap polusi hanya sampai antara 10 hingga 20 persen setiap tahunnya. Pohon-pohon tersebut dapat mengubah karbondioksida menjadi nutrisi dan menyimpannya di daun, batang dan akar.

Namun menurut para peneliti, jika jumlah pohon terlalu banyak, sedangkan kekeringan terus meningkat maka volume air akan berkurang akibat semakin banyak pohon yang menyerap air. Dikarenakan hal ini, para peneliti mengalami dilema karena saat mereka meminta pohon ditebang maka jumlah karbondioksida akan meningkat, sedangkan jika terus menanam pohon maka jumlah air akan berkurang.

Oleh sebab itu para peneliti memanfaatkan eksperimen jangka panjang yang telah dilakukan di Montana. Pada tahun 1961, petugas Dinas Kehutanan Amerika Serikat melakukan percobaan di bagian barat hutan Larch yang mana dalam penelitian tersebut para peneliti membagi area hutan menjadi beberapa plot.

Saat ini para ilmuwan dari University of Montana mengajukan pertanyaan baru terhadap penelitian tersebut, “Bagaimana kepadatan pohon mempengaruhi penyimpanan karbon di atmosfer.”

Untuk mengetahuinya, peneliti melakukan uji komparasi antara dua hutan yang memiliki jumlah pohon yang berbeda, dengan mengukur tinggi pohon, diameter, dan lebar cabang untuk memperkirakan jumlah karbon yang tersimpan di setiap pohon. Bukan hanya menghitung karbon yang terkandung di sebuah pohon hidup saja, tetapi juga menghitung  tanaman lain, kayu mati, dan puing-puing di hutan.

Seperti yang dilansir oleh ScienceMag.org (21/4/2017), total karbon yang disimpan oleh pohon memiliki nilai yang hampir sama di kedua hutan. Karena hutan yang memiliki pohon yang lebih sedikit dapat berkompensasi dengan adanya  pohon-pohon besar. Tim melaporkan hasil penelitian mereka pada bulan ini melalui Jurnal Ekologi dan Pengelolaan Hutan.

Para peneliti berpendapat bahwa dapat menerapkan program penurunan jumlah pohon di hutan, karena dalam waktu jangka pendek, hutan yang memiliki pohon dalam jumlah terbatas dan terdapat pohon besar yang dapat menyerap air lebih sedikit diyakini mampu menyerap karbon dioksida sama seperti hutan yang memiliki pohon yang banyak. Sehingga langkah tersebut dapat menjadi alternatif tepat untuk atasi global warming seperti sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here