Tentang Aksi Hacker untuk Paket Internet Murah Telkomsel

Kemarin masyarakat dihebohkan oleh aksi hacker yang membobol situs operator telpeon seluler Telkomsel. Peretas tersebut menginginkan harga paket internet murah. Mereka tak suka dengan mahalnya biaya untuk membeli paket internet.

Pegimane bangsa Endonesia mau maju kalo internet mahal” bunyi salah satu pesan peretas tersebut.

Sejak awal saya bingung juga dengan permintaan ini. Saya gagal paham dengan permintaan paket internet murah terhadap salah satu operator terbesar di Indonesia tersebut.

Ini bukan sebuah pembelaan terhadap telkomsel, meskipun saya punya kedekatan secara emosional dengan perusahan tersebut, karena pernah jadi karyawannya. Ini hanya sekedar kebingungan saya terhadap sebuah sikap yang menurut saya sudah kurang tepat.

Seperti saya sebutkan di atas jika saya punya kedekatan secara emosional, saya ternyata realistis ketika membutuhkan paket internet. Saat tinggal di Malang saya memilih menggunakan operator lain karena harga paket internetnya murah dibanding Telkomsel. Urusan dompet mengalahkan kedekatan saya dengan Telkomsel.

Problemnya adalah ketika saya pulang kampung ke Lamongan, ternyata operator yang saya gunakan di Malang tersebut tidak bisa berfungsi di kampung halaman karena signalnya berkualitas buruk.

Saya kecewa? jelas, iya. Tetapi tidak sampai marah-marah yang berlebihan, karena saya menyadari jika operator itu bisa kasih paket internet murah lantaran tidak punya ‘kewajiban’ menjangkau daerah-daerah tertentu yang secara bisnis mungkin sangat tidak menguntungkan.

Sebaliknya, saat itu saya berpikir bahwa mahalnya Telkomsel bisa dimaklumi karena memaksakan diri melayani orang-orang yang tinggal di suatu daerah yang jumlah penduduknya tak cukup banyak atau butuh investasi lebih besar untuk bisa menjangkau wilayah tersebut.

Saya barusan ngobrol dengan teman SMP yang kebetulan tinggal di suatu desa yang cukup ‘dalam’. Bahkan di facebook ia menamakan diri sebagai “Wong Alas”, menggambarkan pekerjaanya di Perhutani sekaligus menegaskan identitasnya sebagai penduduk desa yang cukup jauh dari keramaian.

Ia mengatakan jika di desanya yang layak digunakan hanya Telkomsel, ada operator lain signalnya jelek bahkan ada operator yang sama sekali tidak menjangkau desanya tersebut.

Teman saya itu tinggal di Jawa. Sebuah desa di Lamongan. Silahkan dibayangkan bagaimana nasib teman-teman kita yang di pelosok negeri, Papua atau Kalimantan misalnya.

Jadi mahalnya Telkomsel ternyata karena memang mereka menawarkan keterjangkauan wilayah serta kualitas. Jika memang ternyata kebutuhan kita, sesuai dengan tempat tinggal tidak membutuhkan kualitas Telkomsel itu, maka sangat realistis jika pakai operator lain saja. Saya pun menggunakan operator lain karena di Malang, tempat tinggal saya, operator yang menawarkan paket super murah pun sudah berkualitas baik.

Itu sebabnya saya tidak peduli dengan seberapa mahalnya Telkomsel, sebab keseharian saya tidak membutuhkan layanannya. Urusannya jadi sederhana, beli atau pakai yang lain. Jadi perlukan kita protes atau marah?

Setelah saya unggah sikap saya terhadap Telkomsel yang dibully karena mahal tersebut, seorang sahabat menjelaskan jika salah satu akar masalahnya juga tentang perubahan paket yang menurutnya sepihak. Juga tentang tawaran paket yang sebenarnya tidak diperlukan pelanggan, jadi akhirnya terlihat mahal.

Karena saya tidak tinggal di Indonesia, saya sedikit kelewatan dalam mengetahui masalah tersebut. Meski demikian, jika sebelumnya bukan pelanggan, maka tidak perlu juga marah. Beli atau pakai operator lainnya saja. Pelanggan punya hak untuk memilih.

Beda soal jika ternyata yang dipermasalahkan mengenai perubahan paket secara sepihak yang kemudian dianggap merugikan pelanggan. Bagi saya masalah ini bukan mengenai mahalnya, tetapi lebih cenderung ke persoalan penipuan.

Jika peretas itu menyuarakan mengenai perubahan paket yang merugikan itu sedari awal, maka saya 100% setuju. Sebab sejak dulu konsumen Indonesia, selalu terjebak oleh bahasa iklan. Tidak gamblang dalam menyebutkan syarat dan ketentuan.

Konsumen menjadi pihak yang sangat lemah, karena penyedia jada mengunci sebuah aturan “harga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya”.

Kalau ini yang diperkarakan, maka jauh lebih efektif. Misalnya saja peretas secara terang-terangan yang dituntut adalah kejelasan mengenai paket yang ditawarkan atau protes keras karena adanya perubahan paket sepihak yang dianggap merugikan pelanggan.

Sebab, jika yang disuarakan soal mahal, maka jawaban Telkomsel akan retoris. Jauh sebelum Telkomsel mengeluarkan pernyataanya mengenai kasus peretasan, saya sudah menebak seperti apa jawaban mereka. Secara umum Telkomsel membicarakan soal keterjangkauan wilayah layanannya, ini hampir sama dengan apa yang saya tulis di facebook.

Terlebih peretas pakai kalimat “Pegimane bangsa Endonesia mau maju kalo internet mahal.” Saya curiga Telkomsel sangat mudah menjawab hal ini. Mereka akan berkelit bahwa Telkomsel justru memilih mahal karena ingin bisa memajukan seluruh rakyat Indonesia, bahkan sampai kepelosok-pelosok.

Mereka yang perang murah malah tidak akan memajukan Indonesia secara keseluruhan karena tak pernah punya kemampuan atau kemauan memberi pelayanan ke susut-sudut negeri.

Meski demikian, saya berharap kasus ini jadi kesempatan bagi pemerintah dan semua pihak yang terkait untuk memikirkan formula yang tepat agar seluruh masyarakat Indonesia terlindungi. Terlindungi dalam banyak hal, terlindungi dari kefakiran signal hingga terlindungi dari persaingan operator seluler yang tidak sehat.

Semoga pemerintah memilki regulasi yang membuat semua operator tidak hanya mengeruk keuntungan namun memilki tanggung jawab melayani seluruh rakyat Indonesia.

Menurut amatan sederhana saya, Telkomsel punya dua masalah besar hinga dia harus menjadi operator dengan tarif termahal. Pertama karena memang investasi yang kucurkan untuk masuk ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dan secara bisnis tidak menguntungkan secara langsung. Kedua karena target keuntungan yang cukup tinggi membuat mereka tidak leluasa dalam persaingan bisnis.

Saya membayangkan, mungkin saja jika pemerintah lantas memberikan insentif kepada Telkomsel atas ‘jasanya’ memberikan pelayanan kepada masyarakat terpencil maka bisa meringankan beban hingga akhirnya dapat lebih optimal dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan soal tarif.

Bayangan lain saya adalah induk dari Telkomsel yang BUMN tersebut memberikan kebijakan bahwa Telkomsel gak harus untung besar, karena tidak lagi murni bisnis melainkan sebuah pengabdian negara kepada rakyatnya.

Hal lain yang mungkin bisa dilakukan adalah mewajibkan seluruh operator yang berdiri di Indonesia untuk mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, tidak sekedar membangun di daerah-daerah yang padat penduduk dan menguntungkan secara bisnis. Jika demikian, kemungkinan besar persaingan sedikit lebih sehat.

Namun biar bagaimanapun, aksi hacker ke Telkomsel tetap punya sisi positif. Paling tidak ada suara-suara kegelisahan yang kemudian terekspresikan. Semoga mereka yang memang berkompeten mampu menangkap pesan-pesan kegundahan tersebut bukannya malah beradu tangkisan dan mengeluarkan ribuan jurus berkelit.

Semoga seluruh masyarakat Indonesia kedepannya bisa menikmati paket internet murah sekaligus berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here